ISLAM DI GABON

Gabonese Republic atau Republik Gabon, negara kecil seluas negara bagian Colorado Amerika Serikat, terletak di tepi pantai laut Atlantik, Afrika Barat, adalah negara unik. Dikatakan unik, karena mempunyai seorang presiden, El Hadj Omar Bongo Ondimba yang beragama Islam di tengah-tengah masyarakatnya yang hampir 75% menganut agama Kristen, sedangkan Islam hanya dianut oleh 1%. Hebatnya lagi, Omar Bongo bertahan sebagai presiden selama hampir 40 tahun lamanya, tanpa gejolak yang berarti.

Gabon hanya berbatasan dengan tiga negara, yaitu Kamerun, Republik Congo dan Equatorial Guniea. Mempunyai luas wilayah 267.667 km2, beriklim: tropis, panas dan lembab. Jumlah penduduk hanya berkisar 1.389.201 jiwa, dengan angka pertumbuhan sebesar 2,45% per-tahun, angka kelahiran rata-rata 36,24 per-1000 dan angka kematian 11,72 per-1000. Mayoritas dihuni Negro Bantu (Fang, Bapounou, Nzebi, dan Obamba). Agama Kristen dianut sekitar 55%-75%, Islam 1%, dan selebihnya penganut animisme. Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping ada bahasa lokal Fang, Myene, Nzebi, Bapounou dan Bandjabi.

Ekonomi
Gabon termasuk dalam deretan negara kaya di benua hitam Afrika, khususnya di Afrika Barat. Dalam kurun empat dekade, Gabon menikmati income per-kapita yang sangat tinggi yaitu sekitar US $ 5,800,- hal ini didukung oleh berkurangnya kemelaratan dan kemiskinan di negara tersebut. Pada tahun 1970-an, ekonomi Gabon sangat bergantung pada kayu dan tambang mangan, namun seiring ditemukannya sumber minyak, Gabon melejit menjadi negara kaya. Namun bagaimanapun juga, badai ekonomi pernah menerpa Gabon, yaitu pada tahun 1994 dan 1996, dan berlanjut pada tahun 2000, sehingga memaksa Gabon membuat perjanjian dengan Paris Club untuk re-schedule hutang-hutangnya. Jumlah angkatan kerja cukup banyak sekitar 640.000 orang, sebagain besar (60%) diserap oleh pertanian, 25% industri dan 15% bidang jasa. Pertumbuhan ekonomi mencapai 2,1%, sedangkan inflasi 1,5%, Hasil tambang meliputi minyak dan gas alam, berlian, emas, uranium, mangaan, batubara, kayu dan niobium. Sedangkan hasil pertaniannya berkisar pada coklat, kopi, gula, minyak nabati (sawit), karet dan ikan.

Komoditi yang diekspor meliputi minyak, kayu dan uranium senilai US $ 5.813 milyar, dengan negara tujuan Amerika Serikat, Cina dan Perancis. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, mesin dan peralatan, kimia dan alat-alat konstruksi. senilai US $ 1.533 juta, berasal dari Amerika Serikat, Perancis, Inggris dan Bedlanda (Indonesia termasuk di dalamnya). Mata uang GabonCommunaute Financiere Africaine Francs (XAF) dengan nilai US $1,- = 521,74 XAF.

Sejarah Pemerintahan
Gabon yang beribukota di LIBREVILLE, terbagi dalam 9 propinsi, memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 17 Agustus 1960. Suku Babinga atau Pygmi dipercaya sebagai penghuni pertama di Gabon, yaitu sekitar tahun 7000 sebelum masehi, lalu diikuti oleh Negro Bantu yang berasal dari tenggara dan timur Gabon, 25%nya bermarga Fang yang pada akhirnya mengusai Gabon dan kemudian membentuk sebuah kerajaan Loango. Bangsa Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Gabon adalah Portugis. Mereka mendarat di bibir sungai Como dan memberi nama daerah tersebut dengan sebutan Rio de Gabao atau river of Gabon, di kemudian hari Gabon dijadikan sebagai nama negara tersebut. Menyusul Belanda pada 1593 dan Perancis tahun 1630. Pada tahun 1839, Perancis untuk pertamakalinya mendirikan perkampungan di Gabon, dan akhirnya pada tahun 1888, secara resmi, Gabon dijadikan sebagai salah satu territorynya. Pada tahun 1910, Gabon bersama empat negara lainnya di Afrika Barat menjadi French Equatorial Africa sebagai negara federasi di bawah kendali Perancis. Pada tahun 1958, Gabon memperoleh otonomi dari Perancis, dan akhirnya pada tanggal 17 Agustus 1960, memperoleh kemerdekaan penuh.

Perjuangan memperoleh kemerdekaan dari Perancis sangat berat, dan suku Fang yang dimotori oleh Leon M’ba menjadi inspirator. Oleh karena itu, pada pemilu pertama yang diselenggarakan pada tahun 1961, Leon M’ba terpilih sebagai Presiden. Pada tahun 1964, Leon M’ba dikudeta oleh militer yang dikomandoi Jean-Hilaire Aubame (hanya berkuasa selama dua hari) namun dapat digagalkan. Leon M’ba wafat karena sakit pada tahun 1967, dan digantikan oleh Albert Bernard Bongo yang saat itu menjadi Wakil Presiden. Pada tahun 1973, Bongo membuat kejutan besar bagi seluruh rakyat Afrika, khususnya rakyat Gabon, ketika beliau masuk Islam dan mengantikan nama beliau menjadi Omar Bongo. Setelah berhaji, beliau menambahkan namanya menjadi El Hadj Omar Bongo Ondimba. Beliau termasuk salah satu presiden terlama di dunia, karena pada pemilu 27 Nopember 2005, beliau terpilih kembali menjadi presiden Gabon dengan mengantongi 79,2% suara, untuk masa jabatan 7 (tujuh) tahun (2012).

Perkembangan Islam di Gabon
Tidak pelak lagi bahwa penyebaran Islam di Afrika, sebagaimana dirilis oleh situs ‘exploringafrica’ melalui dua pintu, pertama pintu timur dan pintu utara. Dari timur melalui Lautan Hindia, dan dari arah utara melalui padang pasir yang kering dan tandus, dan dengan melalui dua pintu tersebut, Islam tumbuh dengan cara yang cerdas, sehingga menumbuhkan gerak budaya tinggi di Afrika.

Mencermati penyebaran Islam di Afrika Barat, Islam datang dari utara melalui peran suku Berber yang begitu gigih menyeberangi Sahara dan Sahel untuk menyebarkan Islam kepada penduduk pribumi Afrika. Mereka berdakwah sambil berdagang garam dan kebutuhan pokok lain untuk ditukar dengan gading, budak dan emas. Mereka sampai di Afrika Barat pada abad ke-12. Para pedagang muslim datang ke Afrika Barat bukan untuk memurtadkan mereka, namun mereka hanya mempraktekkan ajaran Islam selama berdagang, dan akhirnya penduduk maupun pemerintahan setempat tertarik dan menjadikan cerdik cendikia muslim sebagai penasehat. Setelah suku Berber, suku Fulani adalah suku Afrika pertama yang memeluk Islam dan menjadi ‘misionaris Islam’ paling handal di Afrika Barat. Suku Fulani bersama suku Hausa, Tuareg, Wolof, Soninke adalah suku-suku besar yang mendirikan kerajaan-kerajaan Islam di Mali, Niger, Senegal, Gambia, Guinea, Ghana, Nigeria .

Tak jelas sejak kapan Islam masuk ke Gabon, namun ditengarai gelombang masuknya Islam di Afrika Barat melalui Mali, Niger, Senegal, Gambia, dan Guinea. Peran suku Fulani sangat besar dalam mengislamkan sebagian masyarakat Gabon. Tak jelas pula mengapa Presiden Gabon, Al Hadj Omar Bongo Ondimba yang mayoritas penduduknya beragama Kristen bertekat bulan memeluk Islam pada tahun 1973. Namun ada rumor yang menyatakan bahwa masuknya Omar Bongo ke Islam adalah karena pengaruh kawan-kawannya di OPEC.

Pemeluk Islam di Gabon hanya berkisar 1%, dan pemeluknya sudah sangat dikenal oleh penduduk Afrika Barat, yaitu Fulani (Fulbe), Hausa, Wolof, Soninke dan Arab. Walaupun hanya berjumlah 1%, sebagaimana dirilis oleh situs ‘state.gov.’ muslim Gabon mempunyai pengaruh yang signifikan, dan pada kenyataannya, Islam dipraktekkan oleh 12% penduduk Gabon. 12% penduduk tersebut adalah orang asing yang berasal dari negara-negara tetangga di Afrika Barat yang mempunyai jumlah penduduk muslim terbesar, antara lain Senegal, Gambia, Guinea, Niger, Nigeria, Mali, Burkina Faso dan Pantai Gading. Sebagaimana diketahui, Al Hadj Omar Bongo menjadi Presiden Gabon sejak tahun 1967, dan pada tahun 1973 memeluk Islam, tentu saja mempunyai pengaruh besar terhadap tata nilai masyarakat Gabon. Oleh karena itu, pada pemilu 2005 beliau didukung hampir 80% rakyat Gabon. Ini menunjukkan, bahwa Omar Bongo mempunyai pengaruh yang sangat kuat di Gabon. Beliau dikenal sebagai ‘peacemaker’ dalam memecahkan masalah di negara sekitar, antara lain di Republik Afrika Tengah, Congo-Brazzaville, Burundi dan Democratic Republic of Congo. Ditengarai, bahwa putra beliau, Ali Bongo, yang saat ini menjadi Menteri Pertahanan, diprediksi akan menggantikan Omar Bongo sebagai presiden Gabon mendatang.

Islam di Gabon mempunyai aktivitas sebagaimana dilakukan oleh pemeluk Katholik dan Protestan, yaitu mendirikan sekolah yang pengawasannya dilakukan oleh Departemen Pendidikan setempat. Mereka juga mempunyai hak yang sama mensyiarkan agama masing-masing melalui bebarapa radio maupun televisi untuk menyiarkan program-program keagamaam mereka. Pemerintah memfasilitasi pertemuan periodik antar pemimpin agama, Katholik dan Islam, baik tahunan maupun dua tahunan.

ISLAM DI GABON, telah dimuat di majalah Amanah No. 71 TH XIX April 2006 / Shafar – Rabbiul Awal 1427 H

ISLAM DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO

Republik Demokratik Congo (Democratic Republic of the Congo), dahulu terkenal dengan sebutan Zaire, Congo Free State, Belgian Congo, Congo/Leopoldville atau Congo/Kinshasa, untuk selanjutnya disingkat RDC. Ada dua hal yang membuat negara ini ‘mendunia’, yaitu ketika Joseph Mobutu Sese Seko menguasai negara tersebut secara diktator selama kurang lebih 32 tahun (1966-1998) dan ketika petinju legendaris Muhammad Ali bertarung melawan George Foreman pada tahun 1974, di mana Muhammad Ali memenangkan pertarungan keras tersebut.

RDC negara dengan luas seperempat Amerika Serikat, berbatasa dengan banyak negara, antara lain Angola, Burundi, Rwanda, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Sudan, Tanzania, Udanda dan Zambia. Luas wilayah RDC adalah 2.345.410 km2, beriklim unik: tropis, panas dan kering di sebelah utara, serta dingin di daerah selatan (pegunungan). Negara ini mempunyai penduduk cukup besar, yaitu sekitar 60.085.804 jiwa, dengan angka pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per-tahu, angka kelahiran rata 44,38 per-1000 dan angka kematian 14,43 per-1000. Ada sekitar 200 etnik di RDC, namun suku terbesar adalah Bantu yang terbagi dalam sub suku Mongo, Luba, Kongo dan Mangbetu-Azande. Mayoritas masyarakat RDC penganut agama Katholik (50%), Protestan (25%), Kimbanguist (10%) dan Islam menjadi minoritas (10%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping ada bahasa lokal Lingala, Kiswahili, Kikongo dan Tshiluba.

Ekonomi
RDC sebenarnya sebuah negara yang dikaruniai Allah s.w.t. potensi kekayaan yang sangat luas, khususnya suberdaya alam. Namun potensi kekayaan ini berubah drastis sejak tahun 1980-an, karena korupsi dan sebagainya. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi perang saudara yang dimulai sejak tahun 1998 dan menewaskan tidak kurang 3,5 juta penduduk (perang, kelaparan dan penyakit). Perang juga mengakibatkan ketidakpastian hukum dalam bisnis, akibatnya banyak investor yang hengkang keluar RDC. Sumberdaya manusia yang bermutu pun semakin banyak yang lari ke luar negeri, dan akibatnya fatal bagi RDC. Akhirnya pada tahun 2002, IMF dan Bank Dunia turun tangan memberikan bantuan, dan pemerintah RDC harus mengimplementasikan dalam bentuk reformasi ekonomi.

Jumlah angkatan kerja cukup banyak, sebagian besar (55%) diserap pertanian, industri 11% dan jasa 34%. Ekonomi tumbuh sebesar 7,5%, namun inflasi mencapai 14%, dan income per-kapita hanya mencapai US $ 700,-. Hasil tambang RDC meliputi berlian, emas, perak, seng, kobalt, tembaga, minyak, uranium, timah, mangaan, batubara, kayu dan hidropower. Sedangkan hasil pertaniannya berkisar pada kopi, gula, minyak nabati (sawit), karet, teh, tapioca, pisang, jagung, buah-buah dan produk kayu.

Komoditi yang diekspor meliputi berlian, tembaga, minyak sawit, kopi dan kobalt, senilai US $ 1,417 milyar, dengan negara tujuan Belgia, Finlandia, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, mesin untuk pertambangan, peralatan transportasi dan produk minyak senilai US $ 933 juta, berasal dari Afrika Selatan, Belgia, Perancis, Kenya, Amerika Serikat dan Jerman (Indonesia belum termasuk di dalamnya). Mata uang RDC adalah Congolese France (CDF) dengan nilai US $1,- = 401,04 CDF.

Sejarah Pemerintahan
RDC beribukota di KINSHASA (d/h Leopoldville), terbagi dalam 10 propinsi, memperoleh kemerdekaan dari Belgia pada tanggal 30 Juni 1960. Gelombang migrasi pertama di RDC dilakukan oleh suku Bantu Negro (Bantu/Pygmi) pada tahun 200 sampai dengan tahun 500 sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Masehi, pembentukan masyarakat Bantu mulai berkembang di tepian sungai Lualaba di propinsi Katanga, membentuk suatu kebudayaan yang dikenal dengan Upemba, dan pada akhirnya membentuk kerajaan Luba sampai dengan abad ke-15. Kerajaan Luba digantikan dengan kerajaam Kuba, konfederasi dari suku Luba, Leele dan Wongo hingga abad ke-19. Pada abad ke-15 di sekitar RDC juga berdiri Kerajaan Kongo yang meliputi sebelah barat daya RDC, Anggola dan Kabinda. Kerajaan ini memanfaatkan jual beli budak kepada bangsa-bangsa Eropa.

Bangsa Eropa mulai melakukan eksplorasi di RDC pada tahun 1870 hingga tahun 1960. Orang Eropa pertama yang berjasa memetakan RDC adalah Henry Morton Stanley (Inggris) yang mendapatkan sponsor dari Raja Leopold II (Kerajaan Belgia). Pada akhirnya Belgia berhasil menguasai RDC dan memberikan nama Congo Free State. Oleh pemerintah kolonial Belgia, pada tahun 1908, nama Congo Free State diganti menjadi Belgian Congo. Belgia berjasa besar bagi RDC karena berhasil mengusir Italia, namun Belgia juga secara licik menjual hasil tambang ‘uranium’ RDC kepada Amerika Serikat, dan urnium tersebut diproses menjadi bom atom oleh Amerika Serikat, selanjutnya pada Perang Dunia Kedua tahun 1945 berhasil digunakan untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki Jepang.

Berkat kegigihan dan perjuangan bangsa RDC untuk memisahkan diri dari Belgia, maka pada tanggal 30 Juni 1960, RDC memperoleh kemerdekaannya, Joseph Kasavubu diangkat sebagai Presiden, sedangkan Patrice-Emery Lumumba (dari suku Batatele) diangkat sebagai Perdana Menteri. Beliaulah yang berjuang secara gigih untuk memerdekakan RDC, dan menamakan RDC sebagai Congo-Leopoldville. Namun pada perjalanan kariernya, Lumumba menjadi perpanjangan tangan (boneka) Uni Soviet, sehingga sangat dibenci Amerika Serikat. Akhirnya Lumumba disingkirkan. Krisis semakin menjadi-jadi, sehingga tentara multinasional PBB diminta untuk menjadi penengah. Tahun 1964, Morse Tshombe diangkat sebagai Perdana Menteri, dan pada pemilu tahun 1965, Tshombe memenangkannya, namun dikudeta oleh Letnan Jendral Mobutu Sese Seko, pada gilirannya, beliau mendeklarasikan diri sebagai Presiden. Setelah Mobutu berkuasa, RDC relativ damai dan stabil. Namun Mobutu dianggap oleh HAM internasional banyak melakukan praktek pelanggaran hak azasi manusia, repressif dan korup (mempunyai account di bank Swiss sebesar US $ 4 milyar). Pada awal kekuasaannya, Mobutu merubah nama ibukota Leopoldville menjadi Kinshasa, Stanleyville menjadi Kisangani dan Elisabethville menjadi Lubumbashi. Dan puncaknya pada tahun 1971, Mobutu merubah Congo-Leopoldville menjadi Republic of Zaire. Seiring hancurnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, Mobutu melonggarkan pemerintahannya, dan para opposan mendesak adanya perubahan.

Pada tahun 1996, meletuslah perang saudara di Zaire yang menewaskan jutaan manusia, dan pada akhirnya pemberontak yang dikomandoi oleh Laurent-Disire Kabila berhasil menguasai Zaire pada bulan Mei 1997, dan merubah nama Republik of Zaire menjadi Democratic Republic of The Congo. Walaupun Laurent Kabila telah berkuasa, pemberontakan tetap terjadi di RDC. Para pemberontak didukung oleh Rwanda, Burundi dan Uganda, pada akhirnya mengundang pasukan penjaga perdamaian yang beranggotakan Zimbabwe, Angola, Namibia, Chad dan Sudan. Pada tanggal 10 Juli 1999 diadakan gencatan senjata, dan berakhirlah perang saudara di RDC. Pada bulan Januari 2001, Laurent Kabila dibunuh oleh pengawalnya sendiri, dan putra beliau Joseph Kabila diangkat sebagai Presiden RDC yang baru. Pada pemerintahan Joseph Kabila, perdamaian benar-benar terjadi, karena adanya pembagian kekuasaan dan perdamaian dengan negara-negara tetangga, yaitu Rwanda, Burundi dan Uganda.

Perkembangan Islam di RDC
Tidak berbeda dengan Islam di Republik Afrika Tengah (RAT), ditengarai Islam masuk di RDC bersamaan ketika Islam masuk Chad pada abad ke-11, tepatnya ketika Kerajaan Kanem-Borno di bawah kendali Umme-Jilmi pada tahun 1085-1097. Tidak ada petunjuk khusus, siapa yang berjasa membawa Islam ke RDC. Namun secara diam-diam, Islam berkembang secara signifikan di RDC. Gamal Lumemba Ramadan, Ketua Congolese National Islamic Council (CNIC) menyatakan bahwa Islam di RDC sebenarnya berjumlah 25% (15 juta) dari seluruh penduduk RDC yang berjumlah sekitar 60 juta orang, bukan 10% sesuai data resmi pemerintah maupun CIA Worldfact.

Ummat Islam di RDC tetap berjuang untuk menegakkan Islam agar tetap diakui dan diperhatikan pemerintah, mereka menginginkan kondisi hidup yang lebih baik. Walaupun mempunyai pengikut besar, sampai saat ini, pemerintah RDC secara resmi belum mengakui keberadaan dan keikutsertaan mereka dalam peran-peran penting, baik dalam pemerintahan atau negara. Di level pemerintahan pun, ummat Islam di RDC sungguh menderita. Bayangkan dari 450 anggota parlemen hanya diwakili 3 (tiga) orang Islam. Tidak ada satu pun di RDC ummat Islam yang direkrut menjadi menteri, deputi menteri atau pun gubernur (bandingkan dengan Indonesia).

Ummat Islam di RDC masih kekurangan masjid, sekolah-sekolah Islam dan al-Qur’an. Tentu saja hal ini menjadi alarm bagi ummat Islam di seluruh dunia. Di Kinshasa hanya terdapat 14 masjid kecil untuk melayani 950.000 jama’ah, dan di seluruh negara hanya mempunyai 380.000 masjid dengan luas wilayah lebih dari 2 juta km2.

Yang paling menakutkan bagi para pemimpin Islam di RDC adalah, karena ketiadaan sekolah-sekolah Islam, maka mereka terpaksa menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah-skeolah Katholik dan Kristen, dan tentu saja ini membahayakan keimanan mereka. Lebih menggenaskan lagi, karena ketiadaan biaya, mereka drop-out pada tingkat SLTP. Oleh karena itu, Ramadan menghimbau negara Arab dan masyarakat Islam internasional agar segera turun tangan memberikan bantuan.

Ketika terjadi perang saudara tahun 1997-1998, banyak orang Islam yang terbunuh, apalagi ketika Rwanda, Burundi dan Ugunda menyerbu RDC, mereka banyak membunuh orang-orang Islam.

Tokoh muslim lain di RDC adalah Al-Haj Mudilo-wa-Malemba S. (mantan Ketua CNIC) menyatakan bahwa dalam situasi sulit, ummat Islam di RDC masih bersemangat untuk menjadi khatib, guru dan pembimbing Islam bagi mereka yang membutuhkan. Malemba juga menyatakan bahwa ummat Islam di RDC tidak mempunyai fasilitas infrastruktur secara mandiri seperti rumah sakit, pusat kesehatan, universitas, maupun sekolah-sekolah.

Dalam kesempatan konperensi pers, baik Malemba maupun Ramadan menyatakan bahwa secercah harapan masih diperoleh oleh ummat Islam di RDC. Secercah harapan tersebut diperoleh dari mass media, baik Radio maupun Televisi. Radio yang berjumlah 23 stasiun maupun televisi yang berjumlah 5 stasiun memberikan kesempatan (mengizinkan) seluas-luasnya kepada ummat Islam untuk menyampaikan dan mengembangkan dakwahnya di seluruh RDC.

ISLAM DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO, telah dimuat di majalah Amanah No. 70 TH XIX Februari 2006 / Dzulhijjah 1426 H – Muharram 1427 H

ISLAM DI REPUBLIK AFRIKA TENGAH

Republik Afrika Tengah dahulu bernama Ubangi-Shari, pernah menghentak dunia karena ulah Jean-Bedel Bokassa, mantan Presiden periode 1966-1979. Kepopuleran beliau, pertama karena memerintah dengan tangan besi dan diisukan kanibal, kedua ketika Presiden Libya, Muammar Khadafi berkunjung ke Republik Afrika Tengah, Jean-Bedel Bokassa masuk Islam dan mengganti namanya menjadi Salah Eddine Ahmed, namun tak lama kemudian, Bokassa kembali ke agama lama, yaitu Katholik, ketiga ketika beliau mengangkat dirinya sebagai presiden seumur hidup dan menisbahkan dirinya sebagai Kaisar pada bulan Desember 1976.

Republik Afrika Tengah, sedikit lebih kecil dari negara bagian Texas Amerika Serikat, terletak dijantung Afrika (tak berpantai), berbatasan dengan banyak negara antara lain Chad, Sudan, Republik Demokratik Congo (Zaire), Congo dan Kamerun. Negara ini mempunyai luas wilayah 622,984 km2, beriklim unik, yaitu tropis, panas, dingin kering, hangat dan bermusim panas tapi basah.

Berpenduduk sekitar 3.799.897 jiwa, dengan angka pertumbuhan sebesar 1,49% per-tahun, angka kelahiran 35,17 per-1000, dan angka kematian 20,278 per-1000. Ada ratusan etnis di Republik Afrika Tengah, namun etnis terbesar adalah Baya, Banda, Manjia, Sara, Mboum, M’Baka, dan Yakoma. Mayoritas animisme (35%), Protestan (25%), Katholik (25%) dan Islam (15%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis dan Sangho, di samping ratusan bahasa suku.

Ekonomi
70% penduduk Republik Afrika Tengah hidup pada derah terpencil, dan oleh karenanya mereka menyandarkan hidupnya sebagai petani, oleh karena itu Chad menyandarkan perekonomiannya pada pertanian. Namun negara ini termasuk sangat beruntung karena dikarunia Tuhan sumberdaya alam yang sangat luar biasa, antara lain berlian, uranium, emas, minyak, kayu dan hydropower. Walaupun begitu, pertanian tetap menjadi andalan terbesar, memberikan separo dari devisa negara, di samping kayu dan berlian.

Angka pertumbuhan ekonomi rata-rata hanya berkisar 0,5%, inflasi 3,6%, dan income per-capita US $ 1.100,- per-tahun. Produk pertaniannya meliputi kapas, kopi, tembakau, tapioca, jagung, pisang dan kayu, sedangkan hasil industrinya berkisar pada tambang emas dan berlian, tekstil, asembling kendaraan bermotor, kayu glondongan, makanan olahan, dan alas kaki.

Komoditi yang diekspor meliputi berlian, kayu, kopi dan tembakau, senilai US $ 172 juta, dengan negara tujuan Belgia, Italia, Spanyol, Indonesia, Perancis dan Amerika Serikat. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, tekstil, produk minyak, mesin, peralatan lisrtrik kimia dan farmasi senilai US $ 136 juta, berasal dari Perancis, Kamerun dan Belgia. Mata uang Republik Afrika Tengah adalah Communauta Financiere Africaine Franc (XAF), dengan nilai US $1,- = 528,29 XAF.

Sejarah Pemerintahan
Republik Afrika Tengah atau Central African Republic (Republique Centrafricaine) dahulu bernama Ubangi-Shari, beribukota BANGUI, terbagai dalam 14 prefectures. Tahun 1000 sebelum Masehi, migran pertama masuk ke Republik Afrika Tengah berasal dari Adamawa-Eastern berasal dari Kamerun menuju Sudan dan menetap di daerah itu. Selanjutnya diikuti pada abad ke-7, migran kedua berasal dari Danau Chad dan sungai Nil. Daerah ini pernah diperintah oleh seorang Sultan ada abad ke-16. Pada abad ke-16 inilah, Republik Afrika Tengah dianggap para sejarawan mempunyai sejarah kelam, yaitu penduduknya dirusak oleh para pedagang budak, dalam arti mereka dijadikan komoditi, untuk diperdagangkan sebagai budak belian. Hal ini berlangsung hingga abad ke-19. Pada abad ke-18, berbondong-bondong masuk suku Banda, Baya-Mandjia dan Zande.

Orang Eropa mulai masuk ke Republik Afrika Tengah pada tahun 1885, ketika Perancis dan Jerman bersama ingin menguasainya. Namun akhirnya Perancis keluar sebagai pemenang, dan pada tahun 1894 daerah ini disebut Ubangi-Shari. Pada tahun 1905 pernah bergabung dengan Chad, dan pada tahun 1910 bergabung dengan Gabon dan Congo Tengah menjadi French Equatorial Africa.

Pada tahun 1946 muncul pemberontakan terhadap pemerintah kolonial Perancis dengan tujuan utama membentuk pemerintahan sendiri bagi Ubangi-Shari. Akhirnya pada tanggal 1 Desember 1958, Ubangi-Shari menjadi Republik Otonom di bawah French Community, dan Barthelemy Boganda ditunjuk sebagai Perdana Menteri, namun beliau terbunuh pada suatu insiden terencana pada tahun 1959. Pada tanggal 13 Agustus 1960, David Dacko, kemenakan Boganda memproklamirkan kemerdekaan Republik Afrika Tengah, sekaligus mencanangkan negara dengan satu partai dan membuat poros Bangui-Beijing. Karena situasi negara semakin panas, maka pada 31 Desember 1965, Jean-Bedel Bokassa (saudara sepupu Dacko) mengambil alih pemerintahan dan mengangkat dirinya sebagai presiden, dan mendeklarasikan dirinya sebagai presiden sumur hidup. Pada tanggal 4 Desember 1976, Bokassa merombak sistem pemerintahan Republik Afrika Tengah menjadi Kerajaan, dan mengangkat dirinya sebagai Raja Bokassa I. Setelah menjadi monarki inilah, Bokassa melakukan tindakan yang tidak populer di mata rakyatnya, brutal, kanibal dan pindah ke agama Islam, namun akhirnya kembali lagi ke agama asal, yaitu Katholik.

Bokassa akhirnya dikudeta pada tanggal 20 September 1979 oleh David Dacko dan mengembalikan nama Central African Empire menjadi Central African Republic. Pada 1 September 1981, Dacko dikudeta oleh Jendral Andre Kolingba, dan akhirnya ditunjuk sebagai presiden. Pada tahun 1991, Andre Kolingba di bawah tekanan untuk menyelenggarakan pemilu secara demokratis (multipartai), dan akhirnyapemilu multipartai diselenggarakan pada Agustus 1993. Terpilih sebagai Presiden pada pemilu demokratis ini adalah Ange-Felix Patasse. Negara bukan semakin membaik setelah diselenggarakannya pemilu multipartai, namun semakin terpuruk. Akhirnya budaya kudeta berulang terjadi, antara Patasse ke Kolingba dan sebaliknya. Akhirnya kemelut ini berakhir, setelah Jendral Francois BOZIZE mengadakan kudeta pada bulan Maret 2003. Dua tahun kemudian, tepatnya pada bulan Mei 2005 diadakan pemilu, dan Bozize memenangkannya sebagai Presiden.

Perkembangan Islam di Republik Afrika Tengah
Islam masuk Republik Afrika Tengah (RAT) ditengarai bersamaan ketika Islam masuk Chad pada abad ke-11, tepatnya ketika Kerajaan Kanem-Borno di bawah kendali Umme-Jilmi pada tahun 1085-1097. Tidak ada petunjuk khusus, siapa yang berjasa membawa Islam ke RAT.

RAT sangat berdekatan dengan Chad, Sudan, Kamerun atau Niger, di mana negara-negara tersebut banyak menampung suku Fulani yang sangat dikenal sebagai pemeluk Islam yang sangat setia dan kehidupannya bersifat nomaden. Padahal pada abad ke-11, orang-orang Chad dan negara sekitar telah mulai memasuki RAT, dan salah satunya adalah suku Fulani. Menurut sejarah, suku Fulani termasuk suku pertama di Afrika yang memeluk Islam. Di RAT, suku Fulani dikenal dengan Bagirmi Fulani, dan pada abad ke-16, seorang Sultan dari suku Fulani pernah memerintah bagian utara RAT. Saat ini, ada sekitar 40.000 orang Bagirmi Fulani di RAT, dan 100% adalah pemeluk Islam. Suku kedua suku Runga, memasuki RAT pada abad ke-17. Mereka berasal lembah sungai Niger, dan akhirnya menyebar ke Sudan, Chad dan RAT. 80% suku Runga adalah pemeluk Islam dan menganut paham Sunni.

Ada sekitar 11 suku di RAT yang menganut Islam secara taat, yaitu Arab Shuwa, Arab Turku, Fertit Baggara, Fertit Kara, Fulani Bagirmi, Fulani Mborono, Hausa, Kabba-laka Laka, Kara-Gula, Kresh dan Runga. Mereka inilah yang mewarnai Islam di RAT sehingga mencapai jumlah 15% dari total penduduk RAT, di samping suku-suku lain yang jumlahnya sangat kecil. Islam agak menyentak RAT, ketika Jean-Bedel Bokassa pada tahun 1976 masuk Islam dan menisbahkan dirinya sebagai Kaisar, dan merubah namanya menjadi Salah Eddine Ahmed. Hal ini karena peranan Muammar Khadafi, Presiden Libya, ketika menjalin hubungan erat dengan Bokassa. Namun karena pengaruh Katholik sangat kuat di pemerintahan dan rakyat RAT, akhirnya Bokassa kembali lagi ke Katholik.

Walaupun jumlahnya hanya 15%, namun pengaruh mereka sangat membanggakan di RAT. Hal ini karena mereka sangat menguasai dunia perdagangan di negara itu. Orang-orang Arab, Lebanon, Hausa, Senegal, Mali dan Chad adalah pedagang yang sangat gigih. Akhir-akhir ini karena terjadi kesulitan ekonomi, RAT banyak menerima investasi dari negara-negara Arab. Tentu saja hal tersebut membawa pengaruh besar terhadap perkembangan Islam di RAT, antara lain banyaknya mahasiswa yang mendapatkan kesempatan belajar di Sudan dan Saudi Arabia, pembangunan masjid semakin marak, demikian juga pembangunan sekolah-sekolah Islam lengkap dengan laboratoriumnya semakin berkembang di RAT. Perkembangan Islam di RAT akan semakin baik, bila para da’i, muballigh, dan para pedagang muslim dapat mengajak 35% penduduk RAT yang masih animis, menjadi pemeluk Islam.

ISLAM DI REPUBLIK AFRIKA TENGAH, telah dimuat di majalah Amanah No. 69 TH XIX Januari 2006 / Dzulqa’dah – Dzulhijjah 1426 H

ADIL (KEADILAN) DALAM PANDANGAN YUSUF QARDHAWI

Di antara nilai-nilai kemanusiaan yang asasi yang dibawa oleh Islam dan dijadikan sebagai pilar kehidupan pribadi, rumah tangga dan masyarakat adalah “Keadilan.” Sehingga Al Qur’an menjadikan keadilan di antara manusia itu sebagai hadaf (tuluan) risalah langit, sebagaimana firman Allah s.w.t.: “Sesungguhnya Kami telah mengutus rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al Kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan.” (Al Hadid: 25).

Tiada penekanan akan nilai keadilan yang lebih besar dari pada perkara ini (bahwa Allah mengutus para rasul-Nya dan menurunkan Kitab-Nya) untuk mewujudkan keadilan. Maka dengan atas nama keadilan kitab-kitab diturunkan dan para Rasul diutus. Dengan keadilan ini pula tegaklah kehidupan langit dan bumi. Dan yang dimaksud dengan keadilan adalah hendaknya kita memberikan kepada segala yang berhak akan haknya, baik secara pribadi atau secara berjamaah, atau secara nilai apa pun, tanpa melebihi atau mengurangi, sehingga tidak sampai mengurangi haknya dan tidak pula menyelewengkan hak orang lain. Allah SWT berfirman: “Dan Allah telah meninggikan langit dan Dia meletakkan neraca (keadilan). Supaya kamu jangan melampaui batas tentang neraca itu. Dan tegakkanlah timbangan itu dengan adil dan janganlah kamu mengurangi neraca itu.” (Ar-Rahman: 7-9)

Islam memerintahkan kepada seorang Muslim untuk berlaku adil terhadap diri sendiri, yaitu dengan menyeimbangkan antara haknya dan hak Tuhannya dan hak-hak orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW kepada Abdullah bin ‘Amr ketika mengurangi haknya sendiri, yaitu dengan terus menerus puasa di siang hari dan shalat di malam hari. “Sesungguhnya untuk tubuhmu kamu punya hak (untuk beristirahat), dan sesungguhnya bagi kedua matamu punya hak dan kepada keluargamu kamu punya hak, dan untuk orang yang menziarahi kamu juga mempunyai hak.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Islam juga memerintahkan bersikap adil dengan/terhadap keluarga, isteri, atau beberapa isteri, anak-anak laki-laki dan anak-anak perempuan. Allah SWT berfrman: “Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi; dua, tiga atau empat Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja …” (An-Nisa': 3). Rasulullah SAW bersabda: “Bertaqwalah kamu kepada Allah dan bersikap adillah terhadap anak-anakmu.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Ketika Basyir bin Sa’ad Al Anshari menginginkan agar Nabi SAW menyaksikannya atas pemberian tertentu, ia mengutamakan pemberian itu untuk sebagian anak-anaknya. Maka Nabi SAW bertanya kepadanya: “Apakah semua anak-anakmu kamu beri mereka itu seperti ini?” Basyir berkata, “tidak!,” Nabi bersabda, “Mintalah saksi selain aku untuk demikian itu, sesungguhnya aku tidak memberikan kesaksian terhadap suatu penyelewengan.” (HR. Muslim)

Islam memerintahkan kepada kita agar kita berlaku adil kepada semua manusia. yaitu keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dicintai, dan keadilan seorang Muslim terhadap orang yang dibenci. Sehingga perasaan cinta itu tidak bersekongkol dengan kebathilan, dan perasaan benci itu tidak mencegah dia dari berbuat adil (insaf) dan memberikan kebenaran kepada yang berhak. Allah SWT berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar menegakkan keadilan, menjadi saksi karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapak dan kaum kerabatmu .” (An-Nisa': 135)

Allah SWT memerintahkan kepada kita agar berlaku adil, sekalipun terhadap kaum yang kita musuhi, sebagaimana dalam firman-Nya “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu menjadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap suatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa, bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Maidah: 8)

Betapa banyak sejarah politik dan hukum dalam Islam yang menggambarkan keadilan kaum Muslimin terhadap orang-orang Muslimin dan keadilan para da’i terhadap rakyat. Islam memerintahkan kepada kita untuk berlaku adil dalam perkataan kita, sehingga saat kita marah tidak boleh keluar dari berkata benar, dan di saat kita senang tidak boleh mendorong kita untuk berbicara yang tidak benar, Allah SWT berfirman: “Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun dia adalah (kerabat (mu)” (Al An’am: 152)

Islam juga memerintahkan kepada kita untuk bersikap adil dalam memberikan kesaksian, maka seseorang tidak boleh memberi kesaksian kecuali dengan sesuatu yang ia ketahui, tidak boleh menambah dan tidak boleh mengurangi, tidak boleh merubah dan tidak boleh mengganti, Allah SWT berfirman: “Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi yang adil di antara kamu dan hendaklah kamu tegakkan kesaksian itu karena Allah …” (Ath Thalaq: 2). “Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah.” (Al Maidah: 8)

Islam juga memerintahkan untuk bersikap adil dalam hukum, sebagaimana firman Allah SWT: “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan (menyuruh) kamu apabila menetapkan hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil …” (An-Nisa': 58)

Banyak hadits yang menjelaskan tentang keutamaan “Imam dan Adil,” dia adalah termasuk tujuh golongan yang akan mendapat naungan Allah pada hari tidak ada naungan selain naungan-Nya. Dia juga termasuk tiga orang yang doanya tidak ditolak.

Selain lslam memerintahkan untuk berlaku adil dan mendorong ke arah sana, Islam juga mengharamkan kezhaliman dengan keras dan memberantasnya dengan kuat, baik kedhaliman terhadap diri sendiri apalagi terhadap orang lain. Terutama kezhaliman orang-orang yang kuat terhadap orang yang lemah, kezhaliman orang-orang kaya terhadap yang miskin dan kezhaliman pemerintah terhadap rakyatnya. Semakin manusia itu lemah, maka menzhaliminya semakin besar pula dosanya. Rasulullah SAW pernah memberikan wasiat kepada Mu’adz: “Hati-hatilah terhadap doa orang yang dianiaya, karena tidak ada hijab (halangan) antara doa itu dengan Allah.” (HR. Muttafaqun’Alaih). Rasulullah SAW juga bersabda: “Doa orang yang dianiaya itu akan diangkat oleh Allah ke atas awan, dan dibuka untuknya pintu-pintu langit, kemudian Allah berfirman, “Demi kemuliaan-Ku, sungguh akan Aku tolong kamu walaupun setelah beberapa saat.” (HR. Ahmad dan Tarmidzi)

Di antara jelasnya bentuk keadilan adalah sebagaimana yang ditegaskan Islam. yang dalam istilah sekarang disebut “Keadilan Sosial” yang berarti keadilan dalam membagi kekayaan (negara). Dan membuka berbagai kesempatan yang memadai untuk anak-anak ummat Islam, ummat yang satu, dan memberi kepada orang-orang yang bekerja buah amalnya (upahnya) dari jerih payah mereka, tanpa dicuri oleh orang-orang yang berkemampuan dan orang-orang yang mempunyai pengaruh. Mendekatkan sisi- sisi perbedaan yang nampak antara individu dan golongan, antara golongan yang satu dengan yang lain, dengan memberikan batas dari monopoli orang-orang kaya di satu sisi dan berusaha untuk meningkatkan pendapatan orang-orang fakir di sisi lain.

Ini semua jauh-jauh telah diperhatikan oleh Islam, sehingga Al Qur’an ketika diturunkan di Mekkah pun tidak melupakan permasalahan tersebut, bahkan memberikan perhatiannya yang sangat dalam lingkup yang luas.

Maka barangsiapa yang tidak memberi makan kepada orang-orang miskin, ia termasuk ahli Neraka Saqar. Allah SWT berfirman: “Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (Neraka)? Mereka menjawab, “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat, dan tidak (pula) memberi makan orang miskin.” (Al Muddatstsir: 42-44)

Tidak cukup juga kamu hanya memberi makan orang miskin, tetapi kamu juga harus ikut mendakwahkan kepada orang lain untuk memberi makan orang miskin dan menyerukan kepada orang lain untuk memperhatikan kepentingan dan keperluan mereka. Allah SWT berfirman: “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama? Itulah orang yang menghardik anak yahm, dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.” (Al Maa’un: 1-3)

Al Qur’an mengumpulkan sikap orang yang menelantarkan orang miskin bersama kekufuran kepada Allah, yang menjadikan wajibnya seseorang untuk memperoleh adzab yang pedih dan masuk ke neraka Jahim, sebagaimana firman Allah SWT: “(Allah berfirman), “Peganglah dia lalu belenggulah tangannya ke lehernya, kemudian masukkanlah dia ke dalam api neraka yang menyala-nyala. Kemudian belitlah dia dengan rantai yang panjangnya tujuh puluh hasta. Sesungguhnya dahulu dia tidak beriman kepada Allah Yang Maha Besar. Dan juga dia tidak mendorong untuk memberi makan orang miskin.” (Al Haqqah: 30-34)

Masyarakat jahiliyah itu tercela dan dimurkai oleh Allah karena mereka menelantarkan orang-orang lemah dan hanya mementingkan orang-orang yang kuat untuk memakan harta waris dan mencintai harta mereka. “Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya kamu tidak memuliakan anak yatim dan kamu tidak saling mengajak memberi makan orang miskin, dan kamu memakan harta warisan dengan cara mencampuradukkan (yang halal dan yang bathil), dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (Al Fajr: 17-20)

Islam telah memperhatikan masyarakat lemah. Sebagai realisasinya Islam menentukan hukum dan sarana untuk menyediakan kerja yang sesuai bagi setiap orang yang tidak mendapatkan kerja, gaji (upah) yang adil untuk setiap pekerja (karyawan), makanan yang cukup untuk setiap yang kelaparan, pengobatan yang cukup untuk setiap orang yang sakit, pakaian yang pantas untuk setiap yang telanjang dan mencukupi secara penuh untuk setiap yang membutuhkan, seperti makanan pakaian dan tempat tinggal serta segala sesuatu yang harus dipenuhi, sesuai kondisinya, tanpa berlebihan dan tanpa mengurangi. Islam memperhatikan orangorang yang berada di bawah tanggung jawabnya. Inilah definisi Imam Nawawi dalam kitabnya “Al Majmu.”

Untuk memenuhi kebutuhan di atas maka Islam mewajibkan hak-hak harta di dalam harta orang-orang kaya yang mana awal dan akhirnya adalah zakat sebagai rukun Islam yang ketiga, yang harus dilaksanakan oleh seorang Muslim dengan penuh ketaatan dan keikhlasan. Jika ia menolak maka harus diambil secara paksa. Dan kalau ada kelompok kuat yang membelanya maka harus diperangi dengan pedang.

Zakat itu diambil dari orang-orang kaya untuk diberikan kepada orang-orang fakir, dengan demikian maka dari ummat untuk ummat. Menurut pendapat yang arjah (lebih unggul) bahwa orang fakir itu diberi zakat untuk mencukupi kebutuhan selama hidup. Dalam batas yang umum selama hasil zakat itu memungkinkan, dengan demikian pada tahun mendatang ia akan menjadi pemberi, bukan pemungut, ia berada di atas bukan lagi di bawah.

ADIL (KEADILAN) DALAM PANDANGAN YUSUF QARDHAWI, telah dimuat di majalah Amanah No. 68 TH XIX Desember 2005 / Syawal – Dzulqa’dah 1426 H

Pencemaran Makanan Dan Akibatnya

Puasa Ramadhan menurut Nabi Muhammad s.a.w. menjadikan kita sehat, jasmani dan rohani (shummu tashihhu). Sehat jasmani artinya memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan, yaitu menu ‘empat sehat lima sempurna’. Standar gizi empat sehat lima sempurna inilah yang dicetuskan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, dan merupakan pedoman gampang untuk mencapai gizi optimal. Untuk mendapatkan dan mempertahankan status gizi optimal, metode KISS (Keep It Simple Student) yang dikemukakan Patrick Quillin, PhD bisa menjadi acuan. Metode ini antara lain menerangkan, gizi optimal ialah gizi yang kuantitas dan kualitasnya cukup, sehingga tubuh berada pada kondisi sehat. Untuk mencapainya ternyata melibatkan rangkaian proses sejak belanja bahan makanan, saat mengolahnya, mengonsumsinya hingga membereskan peralatan makanan. Semua itu perlu mendapat perhatian ( http://www.gizi.net) Namun puasa juga bisa menjadi tidak sehat, bila makanan yang akan kita makan tercemar, di mana agen penyakit baik fisik, biologi dan kimia terdapat dalam makanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit. Kondisi pencemaran makanan dapat terjadi pada saat sebelum pengolahan makanan maupun dalam tahap penyimpanan dan pengangkutan makanan. Bergizi sehebat apapun, bila makanan sudah tercemar, bisa fatal akibatnya. Oleh karena itu, jika ingin memperoleh manfaat puasa sebagaimana dianjurkan Nabi s.a.w., kaidah-kaidah kebersihan (an-nadhofatul minal iman) harus tetap dijaga, agar tidak terjadi stigma terhadap apa arti puasa itu sendiri.

Pencemaran Makanan
Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam releasnya melalui http://www.dinkes-dki.go.id menyatakan bahwa penyakit-penyakit yang terjadi yang berhubungan dengan lingkungan dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) pencemaran air, 2) pencemaran udara, 3) pencemaran makanan/minuman, 4) pencemaran karena vektor (terjadinya penularan penyakit melalui binatang yang dapat jadi perantara penularan penyakit tertentu). Akhir-akhir ini, masyarakat disibukkan dengan informasi adanya pencemaran tahu, suatu produk makanan kegemaran masyarakat, yang dalam pengolahannya menggunakan bahan pengawet formalin, demikian juga beberapa waktu lalu, baso dengan boraks atau formalin.

Produsen makanan tahu yang masih menggunakan formalin untuk produknya karena mereka mempunyai pengetahuan yang tidak memadai mengenai bahaya bahan kimia terlarang, dan tingkat kesadaran akan kesehatan masyarakat yang rendah. Selain itu, formalin juga mudah dijumpai di pasar bebas dengan harga yang murah. Tujuan penggunaan formalin dalam pengolahan tahu adalah agar tahu mempunyai daya tahan lama, padahal fungsi pemakaian formalin adalah untuk mengawetkan mayat.

Untuk mengetahui secara pasti adanya formalin dalam produk pangan, khususnya tahu, baik secara kualitatif maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia. Namun secara umum, untuk mengetahui tahu tersebut mengandung formalin atau tidak adalah sebagai berikut:
•    Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es
•    Tahu terlampau keras namun tidak padat
•    Bau agak menyengat, bau formalin, dengan kandungan formalin 0,5 – 1 ppm

Ciri-ciri ini juga terkandung makanan olahan lain yang mengandung formalin, seperti baso (keras), ikan segar (warna insang merah tua), dan ikan asin (bersih cerah dan tidak bau ikan asin). Untuk menghindarinya, maka perlu sikap waspada terhadap produk tertentu yang sering menggunakan formalin seperti tahu, baso, ikan basan dan ikan asin, dengan memperhatikan antara lain ciri-ciri yang telah disebutkan di atas. Di samping itu, masyarakat agar lebih selektif dan berhati-hat memilih produk pangan yang akan dikonsumsi dengan cara tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan, apakah produknya menggunakan formalin atau tidak.

Sebenarnya pemerintah telah dengan tegas melarang penggunaan formalin dalam pangan, sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988, sedangkan tatacara perniagaannya diatur dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/Kep/7/2000.

Efek bagi kesehatan manusia bila mengkonsumsi produk pangan yang tercemar oleh formalin seperti tahu, baso, ikan basah maupun ikan asin adalah, efek akut berupa tenggorokan dan perut terasa terbakar, sait menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Efek kronis berupa, timbul iritasi pada saluran pernapasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada. Bila dikonsumsi menahun, dapat menyebabkan kanker ( http://www.republika.co.id).

Halal dan baik
Memilih makanan memang tidak cukup hanya sehat, bergizi dan aman. Tapi bagi orang Islam, sebaiknya makanan pun harus memenuhi syarat halal dan baik: halalan thoyyiban. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah s.w.t dalam surat al-Maidah ayat 88: ‘Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (halalan thoyyiban) dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.’ Sungguh indah ajaran Islam.

Ayat tersebut di atas jelas-jelas telah menyuruh kita hanya memakan makanan yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi kesehatan, gizi, estetika dan lainnya. Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman di luar yang diharamkan adalah halal. Oleh karena itu, sebenarnya sangatlah sedikit makanan dan minuman yang diharamkan tersebut.

Oleh karena itu, makanan yang tercemar, seperti tahu berformalin, baso berformalin atau berboraks, ikan basah dan ikan asin berformalin, sudah barang tentu bukan makanan yang baik, karena tidak memenuhi standar makanan sehat, justru sebaliknya mencelakakan orang, yang pada gilirannya ummat islam akan menjadi lemah. Tentu saja hal yang demikian dilarang oleh Allah s.w.t.. Padahal disyari’atkannya puasa oleh Allah s.w.t. adalah agar ummat Islam ‘sehat’. Untuk itu, ada baiknya diperhatikan nasehat orang bijak, yaitu ‘gizi (sehat) ditentukan sejak belanja,’ karena tidak semua bahan makanan yang dijual di pasar, bersertifikat halal.

Pencemaran Makanan Dan Akibatnya, telah dimuat di majalah Amanah No. 67 TH XIX Nopember 2005 / Ramadhan – Syawal 1426 H

ISLAM DI KAZAKHSTAN

Kazakhstan adalah sebuah negara yang terletak di Asia Tengah, merupakan negara ke-9 terbesar wilayahnya di dunia. Negara ini sarat dengan multi budaya, yaitu perpaduan antara kekuatan Turki dan Mongol. Rentang waktu yang panjang kedua suku bangsa tersebut menguasai Kazakhstan sejak abad ke-6 hingga abad ke-18, mempunyai pengaruh besar terhadap suku bangsa yang mendiami Kazakhstan saat ini. Secara genetik, mereka adalah percampuran antara suku bangsa Turki dan Mongol. Pada abad ke-17, para pedagang dan tentara Rusia mulai memasuki Kazakhstan, dan pada akhirnya mereka menguasai negara ini hingga abad ke-20.

Dengan luas wilayah 2.717.300 km2, setara dengan empat kali luas wilayah negara bagian Texas Amerika Serikat, Kazakhstan mempunyai iklim kering, dingin di musim dingin dan panas di musim panas. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Cina, Kyrgyzstan, Turkmenistan dan Uzberkistan. Berpenduduk sekitar 15.185.844 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Kazakh, Rusia, Ukraina, Uzbek, Jerman, Tatar, Uygur, mayoritas beragama Islam (47%), Rusia Ortodox (44%) dan lainnya 9%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata 0,3% per-tahun, angka kelahiran 15,78 per-1000, dan angka kematian 9,46 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Kazakh, di samping bahasa Rusia yang dipergunakan untuk bisnis dan bahasa antar etnik.

Ekonomi
Ketika Kazakhstan ditaklukkan Uni Soviet pada abad ke-18, dan menjadi salah satu republik di lingkungan negara federal Uni Soviet tahun 1936, Kazakhstan dikenal dengan sebutan ‘virgin lands’, artinya secara harfiah, banyak tanah di Kazakhstan yang belum tersentuh, khususnya pemanfaatannya dalam bidang pertanian. Baru pada era tahun 1950-1960, Uni Soviet mengeksplorasi tanah perawan tersebut menjadi lahan pertanian. Setelah memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, pemerintah Kazakhstan bergerak cepat untuk memanfaatkan sumberdaya alam, seperti minyak dan gas serta sektor pertambangan lainnya untuk dijadikan sebagai sumber devisa negara. Dan pada tahun 1995-1997 pemerintah mencanangkan program reformasi ekonomi dan privatisasi, dan hasilnya dapat dirasakan ketika pada tahun 2001/02, pertumbuhan ekonominya mencapai 9,5%.

Kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa, industri dan pertanian.Tidak jauh beda dengan Azerbaijan, Kazakhstan termasuk negara yang sukses dalam mengembangkan perekonomiannya, sehingga pada tahun 2004, pertumbuhan ekonominya mencapai 9,1%, sedangkan inflasi hanya mencapai 6,9%. Income per-kapita cukup tinggi, yaitu sebesar US $ 7,800. Angkatan kerja sebanyak 7,95 juta orang, 50% diserap oleh jasa, 30% oleh industri dan 20% diserap oleh pertanian. Oleh karena itu, Kazakhstan termasuk negara makmur di Asia Tengah.

Produk pertaniannya berkisar pada padi-padian, kapas dan hewan ternak. Sedangkan industri dan hasil tambang sangat melimpah, meliputi minyak dan gas, batubara, biji besi, mangaan, seng, tembaga, titanium, bauksit, emas, perak, fosfat. belerang, besi baja, traktor dan mesin pertanian lainnya, motor elektrik, dan material konstruksi.

Komoditi eksportnya adalah minyak dan produk minyak, kimia, mesin, biji-bijian, wol, daging dan batubara. Negara tujuan eksport adalah Rusia, Bermuda, Cina, Jerman, Swiss dan Perancis. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin dan peralatannya, produk metal, dan makanan olahan. Import berasal dari Rusia, Cina, Jerman dan Perancis. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Tenge (KZT), dengan nilai tukar US $ 1,- senilai 136,04 tenge.

Sejarah Pemerintahan
Republic of Kazakhstan dengan ibukotanya ASTANA (d/h Almaty sebelum 1998), terbagi dalam 14 provinsi, memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 16 Agustus 1991.

Untuk mendapatkan predikat sebagai negara merdeka, Kazakhstan telah menempuhnya dalam rentang waktu yang sangat panjang. Sejak abad ke-6 Masehi, Kazakhstan telah dikuasai oleh bangsa Turki, dan pada abad ke-8 bangsa Arab menguasai sekaligus memperkenalkan Islam.. Dinasti Abbasiyah yang berkuasa di Irak pernah menguasai pula pada abad ke-12, demikian juga dinasti Genghis Khan pada abad ke-13, hingga Kazakhstan berada di bawah kekuasaan Imperium Mongol hingga abad ke-18. Pada akhirnya dinasti Khan (Khanate) berkuasa di Kazakhstan.

Pada abad ke-17, para pedagang dan tentara Rusia mulai memasuki Kazakhstan, dan pada akhirnya mereka menguasai Kazakhstan dan negara-negara Asia Tengah lainnya hingga abad ke-20.

Perasaan nasionalisme mulai muncul, ketika pada tahun 1917 kelompok nasionalis sekuler yang dikenal dengan Horde of Alash (nama legendaris bagi bangsa Kazakhs) menginginkan pemerintahan nasional yang independen, dan mereka berhasil mewujudkannya, walaupun hanya berlangsung selama dua tahun (1918-1920). Pemerintahan ini akhirnya dilindas oleh Uni Soviet, dan Kazakhstan akhirnya dijadikan salah satu republik otonom di lingkungan Uni Soviet.

Ketika Mikhail S. Gorbachev berkuasa, 1985-1991, Gennady Kolbin ditunjuk sebagai penguasa di Kazakhstan, menggantikan Dinmukhamed Kunayev yang dianggap oleh pemerintah Moscow melakukan KKN. Namun kepemimpinan Kolbin tak disukai oleh warga Kazakhstan. Pada akhirnya kedudukan Kolbin digantikan oleh Nursultan Nazarbayev, seorang insinyur, pada tahun 1989. Ketika Gorbachev mendeklarasikan perestroika, dan diikuti oleh kemerdekaan negara-negara di bawah payung Uni Soviet, pada tahun 1990, maka pada bulan Maret 1990, Kazakhstan mengadakan pemilu multipartai, dan Nursultan Nazarbayev memenangkan pemilu tersebut. Akhirnya pada tanggal 16 Agustus 1991, Kazakhstan menyatakan kemerdekaannya, dan melepaskan diri dari cengkeraman Uni Soviet, Terpilih sebagai presiden pertama adalah Nursultan A. Nazarbayev, beliau berkuasa hingga tahun 2006 (pemilu presiden dilakukan setiap 7 tahun sekali).

Perkembangan Islam di Kazakhstan
Menurut Talgat Ismagambetov, penulis artikel Is Islamic Fundamental a Threat in Kazakhstan, Islamisasi di Kazakhstan terjadi dalam 3 (tiga) gelombang besar, pertama terjadi pada abad ke-10, kedua abad ke-19 dan terakhir pada tahun 1990. Mayoritas penganut Islam di Kazakhstan mengikuti paham Sunni (Hambali).

Islam masuk pertamakali ke Kazakhstan pada abad ke-8, ketika bangsa Arab menguasai Transoxania (Mavarannahr), suatu area di bagian selatan Kazakhstan, terletak antara sungai Syr-dar’ya dan Amu-dar’ya. Sedangkan Islamisasinya terjadi pada abad ke-9 mendedkati abad ke-10. Pada abad ini, Zoroaster, Kristen, Budha dan pagan masih banyak dianut oleh penduduk Kazakhstan. Islamisasi ini berakhir ketika Mongol menguasai Kazakhstan pada tahun 1220-an.

Gelombang kedua Islamisasi terjadi pada abad ke-18 dan 19, ketika Islam mendominasi di bidang politik. Namun Islamisasi pada gelombang kedua ini pun tidak berlangsung lama, karena faktor politik pulalah, yang membuat Islamisasi di Kazakhstan mengalami kemandegan. Faktor politik yang memberangus Islamisasi adalah kuatnya dominasi pemerintah komunis Rusia pada saat itu.

Gelombang ketiga Islamisasi terjadi pada tahun 1990, di mana Islam tumbuh dengan cepat antara tahun 1990-1995. Pembangunan masjid baru maupun menghidupkan masjid yang terbengkelai ketika komunis Soviet berkuasa dilakukan hampir seluruh kota di seluruh Kazakhstan. Edisi al-Qur’an pertama dalam bahasa Kazakhs yang didasarkan pada alfabet Cyrillic diterbitkan di Almaty pada tahun 1992. Perguruan tinggi Islam banyak didirikan, terutama untuk mengkaji literatur-literatur Arab. Dengan ghirah Islam seperti itu, banyak negara-negara Islam yang bersimpati dan akhirnya memberikan bantuan dana demi tegaknya Islam di Kazakhstan, antara lain berasal dari Turki, Mesir dan Saudi Arabia. Mereka memberikan donasi sebesar US $ 10 juta untuk membangun Pusat Kebudayaan Islam (Islamic Cultural Center) di Almaty, dan peletakan batu pertama dilakukan oleh Nursultan Nazarbayev, Presiden Kazakhstan pada tahun 1993. Walaupun Islam berkembang cukup baik di Kazakhstan setelah jatuhnya Uni Soviet, tidak secara otomatis Islam dijadikan sebagai dasar negara. Hal ini terbukti dengan diberlakukannya Konstitusi tahun 1995 yang menyebutkan bahwa Kazakhstan adalah negara sekuler.

Menyusul ditetapkannya konstitusi bahwa Kazakhstan adalah negara sekuler, pertumbuhan komunitas Islam mengalami penurunan. Padahal logikanya, Islamisasi gelombang ketiga adalah teradopsinya norma-norma, cita-cita dan ritus Islam dalam skala luas, termasuk di dalamnya Islamisasi politik. Namun, pada umumnya masyarakat Islam Kazakhstan mempunyai gairah rendah, dan pengetahuan mereka terhadap prinsip-prinsip Islam, sangat sedikit, termasuk terhadap politik Islam. Akibatnya, Islam dianggap sebagai agama formalitas, dan ini dibuktikan dari hasil poling yang dilakukan pada mahasiswa di Shymkent, Kazakhstan Selatan yang hasilnya adalah: hanya 4% dari mereka yang aktif di masjid, 18% hanya datang sekali atau dua kali dalam seminggu, 32% sekali atau dua kali dalam setahun, dan 44% tidak lebih sekali dalam setahun. Walaupun begitu, para ahli demografi memprediksi, di tahun 2015, penduduk Kazakhstan akan berjumlah 18 juta jiwa, dan 60% yang secara tradisional adalah pemeluk Islam.

ISLAM DI KAZAKHSTAN, telah dimuat di majalah Amanah No. 67 TH XIX Nopember 2005 / Ramadhan – Syawal 1426 H

Penelusuran Artikel Melalui Proquest Medical Library

YAYASAN YARSI telah menetapkan UPT Perpustakaan Universitas YARSI sebagai ‘perpustakaan digital’ artinya, penelusuran artikel tidak hanya diperoleh dalam bentuk tekstual (buku dan jurnal ilmiah), namun dapat juga diperoleh melalui dunia maya (internet). Oleh karena itu, sejak tahun 2001 yang lalu, YAYASAN YARSI telah melanggan PROQUEST, suatu perusahaan jasa yang khusus menampung artikel-artikel ilmiah dari berbagai jurnal ilmiah internasional yang telah terakreditasi, khususnya di bidang kedokteran/kesehatan (Proquest Medical Library). Dana untuk melanggan proquest cukup besar (dalam bentuk dolar) dan dapat diperpanjang setiap tahun. Tujuan utama melanggan proquest adalah, agar para dosen dan mahasiswa memperoleh ilmu pengetahuan yang up to date di bidang kedokteran dan kesehatan, sekaligus membiasakan diri untuk meng-up date ilmu pengetahuan yang dipunyainya sesuai dengan perkembangan yang mutakhir. Khusus bagi dosen Fakultas Kedokteran, Proquest akan sangat membantu dan mempermudah langkah untuk mecari rujukan-rujukan berbobot dan ilmiah, ketika sedang menulis artikel atau membuat suatu penelitian.

Cara paling simpel untuk menelusur artikel melalui Proquest Medical Library adalah sebagai berikut:

Langkah pertama: lihat clue (petunjuk), lalu tentukan pilihan: Basic, Advanced, Topics atau Publications. Sebagai informasi, clue yang banyak dipergunakan oleh penelusur adalah Basic dan Publications

Langkah kedua: bila memilih clue Basic, maka hal-hal perlu diperhatikan adalah mengetik ‘key word’ atau ‘subyek’, dalam kolom yang telah ditentukan (contoh: leptin), menetapkan ‘range all dates’ dan ‘limits results to’ (kalau perlu), kemudian di’search’ (enter). Setelah di-enter, akan terpampang artikel-artikel yang berhubungan dengan leptin. Bila ingin lebih spesifikasi, tinggal memilih clue di bawah ‘suggested topics’ atau ‘browse suggested publications’.

Langkah ketiga: di bawah judul artikel biasanya ada clue Full Text, Text-Graphics, Page Image – PDF, Abstract dan Citation. Bila ingin memperoleh hasil yang optimal, disarankan untuk ‘klik’ Page Image – PDF, karena hasil print-outnya akan sama dengan jurnal ilmiah cetak.

Langkah keempat: bila memilih clue Publications (nama-nama jurnal yang jumlahnya ratusan), tinggal pilih abjad ‘A’ sampai ‘Z’. Contoh, bila ingin mencari jurnal ‘Archives of Surgery’, tinggal klik abjad ‘A’, jurnal ‘Pediatrics’ tinggal klik ‘P’, dan seterusnya. Langkah selanjutnya adalah seperti langkah ketiga.

Hidangan yang telah tersedia sebaiknya dinikmati, selamat mencoba, dan semoga berhasil.

Artikel ini telah dimuat di Bulletin “YARSI Menyapa” edisi Perdana, Vol 1 No.1 Oktober – Desember 2005

Diplomasi Munafik Yahudi

Penarikan pemukim Yahudi di Jalur Gaza dan Tepi Barat oleh Pemerintah Israel bukan suatu jaminan, bahwa pemerintah Israel dan bangsa Yahudi akan merelakan tanah Palestina untuk rakyat dan bangsa Palestina. Hal ini dapat dilihat dalam sejarah bangsa Yahudi yang memang kurang bisa memegang atau menepati janjinya sendiri.

Ketika negara Israel berdiri tanggal 14 Mei 1948, berdasar perjanjian Bolfour yang disponsori oleh Inggris, Perserikatan bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 1947 telah merencanakan berdirinya negara-negara Palestina dan Yahudi. Dengan cepat, pasukan Yahudi segera mengamankan wilayah-wilayah yang diperuntukkan untuk mereka dan kemudian meluaskannya ke bagian-bagian Palestina yang diperuntukkan untuk negara Palestina. Tentu saja hal tersebut menyulut perang antara Yahudi dan Arab dan berkelanjutan sampai saat ini. Namun sejarah terhempasnya Palestina adalah dimulai ketika terjadi perang pertama yang terbagi dalam dua babak antara bangsa Arab dan Yahudi pada tahun 1947 hingga 6 Januari 1949. Babak pertama ditandai dengan pasukan regular Yahudi melawan pasukan nonregular Arab, dan kedua ditandai dengan peperangan antar unit-unit Yahudi dan lima angkatan bersenjata Arab yang memasuki Palestina sehari setelah berdirinya negara Israel 14 Mei 1948 (Paul Findley, mantan anggota Kongres Amerika Serikat).

Kebohongan-kebohongan Yahudi
Pertama, ketika Golda Meir menjadi Perdana Menteri Israel tahun 1975 yang menyatakan bahwa ‘kami, tentu saja, sama sekali tidak siap untuk perang’. Faktanya, pada hari dikeluarkannya Rencana Pembagian PBB 29 Nopember 1947, Yahudi telah menggerakkan mesin perangnya dengan merekrut pemuda berumur 17-25 tahun. Pada tanggal 5 Desember 1947, pemimpin zionis, David Ben-Gurion memerintahkan aksi segera untuk memperluas pemukiman Yahudi di tiga daerah yang diserahkan oleh PBB kepada negara Arab Palestina. Rencana ini dikenal dengan Rencana Militer Gimmel, yang tujuannya adalah mengulur-ulur waktubagi mobilisasi kekuatan Yahudi dengan merebut titik-titik strategis yang dikosongkan oleh Inggris untuk meneror penduduk Arab agar menyerah. Pasukan bawah tanah Yahudi, Haganah, merealisasikan rencana tersebut dengan menyerang desa Palestina, Khissas, bagian utara Galilee. Ben Gurionlah yang harus bertanggungjawab penyerangan agresif Yahudi terhadap milik dan warga Palestina. Dengan demikian, Yahudi sejak awal sudah memersiapkan diri untuk perang, bukan sebaliknya seperti kata Golda Meir.

Kedua, Jacob Tzur, seorang zionis menyatakan bahwa ‘perang total dipaksakan pada bangsa Yahudi’. Faktanya, angkatan bersenjata Israel sudah bergerak dalam waktu beberapa minggu setelah rencana Pembagian PBB tahun 1947. Sebaliknya, baru pada tanggal 30 April 1948 untuk pertamakalinya para kepala staf angkatan bersenjata Arab bertemu untuk membuat rencana interveni militer. Hal ini diperkuat oleh ucapan ahli sejarah Israel, Simha Flapan, bahwa ‘para pemimpin Arab masih berusaha keras untuk menemukan rumusan penyelamat muka yang dapat membebaskan mereka dari tuduhan-tuduhan melancarkan aksi milter.’

Ketiga, Yigal Allon, Wakil Perdana Menteri Israel 1970 menyatakan ‘bangsa Arab mempunyai keunggulan yang luar biasa dalam potensi, sukarelawan, atau sumberdaya manusia dari para wajib militer.’ Faktanya, orang-orang Yahudi di Palestina selalu mempunyai senjata-senjata yang lebih baik dan lebih banyak dibanding dengan orang-orng Palestina atau orang-orang Arab lainnya, sementara Amerika dan Barat mengembargo senjata kepada dua komunitas bangsa tersebut. Pasokan senjata Yahudi diperoleh dari Cekoslovakia dan para zionis Amerika, antara lain dari Rudolf G. Sonneborn, seorang industrialis-jutawan New York, Adolph William Schwimmer kelahiran Austria, dan Teddy Kollek yang mengetuai pembelian senjata bawah tanah di New York, yang kemudian hari menjadi walikota Jerussalem Barat yang masuk wilayah Yahudi.

Keempat, Chaim Weizmann, Presiden sementara Israel 1948 menyatakan ‘musuh-musuh kami telah gagal mengalahkan kami melalui kekuatan bersenjata meskpun jumlah mereka jauh melebihi kami, duapuluh berbanding satu.’ Faktanya, jumlah pasukan bersenjata yang telah terletih jauh melebihi jumlah seluruh pasukan yang diterjunkan di medan peang oleh lima negara Arab pada 15 Mei 1948. Di garis depan jumlah pasukan Israel 27.400 orang, sedangkan dari negara-negara Arab 13.876. Dinas intelijen Amerika Serikat memperkirakan, Yahudi mempunyai pasukan sebanyak 40.000 orang dan milisi sebanyak 50.000, sebaliknya pasukan Arab hanya berjumlah 20.000 orang, dan gerilyawan berjumlah 13.000 orang.

Kelima, Terrence Prittie dan B. Dineen, The Double Exodus 1976 menyatakan, ‘orang-orang Arab demikian kuatnya pada 1948 sehingga banyak ahli militer mengira Israel akan segera terkalahkan.’ Faktanya, Israel memiliki banyak kelebihan dalam hal pasukan dan persenjataan, sehingga tidak pernah ada keraguan di kalangan para pengamat, bahwa Israel akan memenangkan perang. Bahkan ahli sejarah Benny Morris menyimpulkan ‘Yishuv (komunitas Yahudi di Palestina) secara militer maupun administratif jauh lebih unggul dibanding orang-orang Arab Palestina.’

Keenam, Golda Meir, mantan Perdana Menteri Israel 1972 menmyatakan ‘kami pun mempunyai kelompok-kelompok teroris sendiri semasa perang kemerdekaan: Stern, Irgun … Namun tidak satu pun di antara mereka yang menyelubungi diri dengan kekejian sedemikain rupa sebagaimana yang telah dilakukan orang-orang terhadap kami.’ Faktanya, dalam periode 1947-1948 yang mengkibatkan kelahiran negara Israel, terorisme marak di Palestina, dilancarkan, terutama oleh kaum zionis. RD Wilson, seorang mayor Inggris tahun 1948, menyatakan bahwa para zionis melakukan serangan-serangan biadab atas desa-desa Arab, di mana mereka tidak membedakan antara kaum wanita dan anak-anak yang mereka bunuh setiap ada kesempatan.’

Ketujuh, David Ben-Gurion seorang zionis senior pada pertengah 1915 menyatakan bahwa ‘kami tidak bermaksud menyingkirkan orang-orang Arab, mengambil anah mereka atau merampas warisa mereka.’ Faktanya, setelah penaklukan tanah Arab pada perang 1948, terjadi perampasan yang disusul penyitaan kekayaan Palestina oleh orang-orang Yahudi. Menurut ahli sejarah Israel, Tom Segev menyatakan bahwa orang-orang Yahudi melakukan penjarahan dan perampasan. Salah seorang menteri pada awal negara Israel, Aharon Cizling mengeluh bahwa ‘sungguh memalukan, mereka memasuki sebuah kota dan dengan paksa mencopot cicin dari jari dan perhiasan dari leher seseorang, banyak yang melakukan kejahatan itu.’

Kedelapan, AIPAC pada tahun 1992 menyatakan ‘bukti terbaik untuk menentang mitos (ekspansionisme Israel) ini adalah sejarah penarikan mundur Israel dari wilayah yang direbutnya pada tahun 1948, 1956, 1973 dan 1982.’ Faktanya, di tengah-tengah perang 1948, diplomat Inggris Sir Hugh Dow melaporkan bahwa ‘orang-orang Yahudi itu jelas ekspansionis’. Israel tidak pernah menyerahkan satu bagian penting pun dari tanah yang direbutnya pda tahun 1948. Israel menguasai daerah Palestina yang mencakup 745 kota kecil dan desa yang sebagian besar di antaranya kosong atau segera dibuat demikian.

Moshe Dayan, Menteri Pertahanan Israel tahun 1969 pernah mengatakan bahwa ‘tidak satu tempat pun yang dibangun di negeri ini yang sebelumnya tidak dihuni oleh penduduk Arab.’ Orang-orang Israel telah menyita 158.332 dari keseluruhan 179.316 unit perumahan, dan telah mengambialih 10.000 toko, 1.000 gudang, 90% kebun zaitun, dan 50% kebun jeruk, sehingga dapat menolong keseimbangan neraca pembayaran Israel, demikian kata Ian Lustick.

Diplomasi munafik ini masih terus berlanjut sampai abad ke-21, dan Amerika Serikat sebagai negara adidaya, berada di belakang semua ini. Karena memang lobi Yahudi Amerika sangat piawai menembus Gedung Putih, Pentagon, Senat dan Kongres Amerika Serikat. Akibatnya Arab, Islam dan khususnya Palestina akan gigit jari sampai kapan pun untuk memperoleh keadilan.

Artikel ini telah dimuat di majalah Amanah No. 66 TH XIX Oktober 2005 / Sya’ban – Ramadhan 1426 H

Islam di Azerbaijan

Sebagaimana Republik Georgia, bila tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Azerbaijan, tak mudah dikenali seperti saat ini. Azerbaijan dikenal sebagai sebuah negara di semenanung Balkan (sepenggal wilayah Eropa) yang mayoritas penduduknya beragama Islam sejak tahun 642 Masehi. Konflik berkepanjangan dengan Armenia, negara tetangganya, terjadi karena masalah Nagorno-Karabakh yang menyita perhatian dunia pada tahun 1980 hingga saat ini, suatu wilayah di Azerbaijan yang didominasi oleh penganut Kristen Ortodox.

Dengan luas wilayah 86.600 km2, sedikit lebih kecil dari negara bagian Maine Amerika Serikat, Republik Azerbaijan mempunyai iklim kering dengan padang rumput yang luas. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Iran, Armenia, dan Laut Caspia. Berpenduduk sekitar 7.911.974 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Azeri, Dagestan, Rusia, Armenia, mayoritas beragama Islam (93,4%), Kristen Ortodox (4,8%) dan lainnya 1,8%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,59% per-tahun, angka kelahiran 10,4 per-1000, dan angka kematian 9,86 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Azerbaijan, di samping bahasa Rusia, dan Armenia.

Ekonomi
Azerbaijan adalah negara baru bekas jajahan Uni Sovyet yang termasuk beruntung mempunyai sumber cadangan minyak yang cukup besar, dan oleh karenanya menjadi sumber devisa nomer satu bagi Azerbaijan. Kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (40,2%), industri (45,7%) dan pertanian (14,1%). Azerbaijan termasuk negara yang sukses dalam mengembangkan perekonomiannya, dan tidak memerlukan uluran tangan dari lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti IMF maupun Bak Dunia. Walaupun tanpa bantuan lembaga keuangan dunia, Azerbaijan cukup mampu mengendalikan inflasi. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,8% (2004), inflasi hanya sebesar 4,6% dan income per-kapita sebesar US $ 3,800. Dengan angkatan kerja sebanyak 5,09 juta orang, 41% diserap oleh pertanian dan kehutanan, jasa 52% dan industri 7%, Sebagaimana Georgia, Azerbaijan termasuk negara yang cukup kaya di Eropa Timur.
Produk pertaniannya berkisar pada kapas, padi-padian, beras, anggur, buah-buah-buahan, sayuran, teh, tembakau, ternak kambing dan domba serta babi. Sedangkan industrinya berkisar pada minyak dan gas, baja, biji besi, semen, kimia dan petrokimia serta tekstil. Hasil komoditi yang dieksport minyak dan gas (90%), mesin, kapas, dan makanan olahan. Negara tujuan eksport adalah Italia, Ceko, Jerman, Turki, Rusia, Georgia dan Perancis. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin dan peralatannya, produk minyak, makanan olahan, dan kimia. Import berasal dari Inggris, Turki, Rusia, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Italia dan Ukraina. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Azerbaijan Manat (AZM), dan US $ 1,- senilai 4,913.48 AZM.

Sejarah Pemerintahan
Republic Azerbaijan dengan ibukotanya BAKU, terbagi dalam 59 rayons, 11 cities dan 1 republik otonom, memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 30 Agustus 1991, sedangkan hari nasional diperingati setiap tanggal 28 Mei. Karena didasarkan pada berdirinya Republik Demokratik Azerbaijan pada tanggal 28 Mei 1918. Sejak abad ke-10 sebelum Masehi, Azerbaijan telah diperintah oleh beberapa kerajaan, antara lain Mannai dan Medes. Kerajaan Medes yang berbasis pada penduduk Indo-Eropa kuno lebih berjaya, namun kejayaan kerajaan ini mengundang kerajaan lain di luar Azerbaijan untuk mengekspansi, antara lain dari Persia, Yunan, Roma dan Albania. Puncaknya adalah ketika tentara Arab (Islam) menyerbu Azerbaijan pada abad ke-7 (642 M.), menaklukkan tentara Kristen. Selanjutnya Azerbaijan dikuasai oleh Turki pada abad ke-11 hingga abad ke-18, dan pada akhirnya Rusia (Uni Sovyet) menganeksasinya hingga abad ke-20.

Uni Sovyet mendominasi Azerbaijan cukup lama, dua abad lamanya. Mereka menguasai pemerintahan dan bisnis minyak, sehingga orang-orang Azeri terpinggirkan, dan hanya menguasai sektor swasta. Bibit untuk memperoleh kemerdekaan dari Uni Sovyet dimulai pada tahun 1903 ketika para intelektual Azeri membentuk badan yang disebut Himmat dan berubah menjadi Musavat pada tahun 1912. Ketika terjadi Revolusi Bolshevik tahun 1917, orang-orang Rusia dan Armenia (kebanyakan tinggal di Nagorno-Karabakh, yang kemudian hari bentrok dengan pemerintah Azerbaijan) yang berada di Azerbaijan mendeklarasikan republik marxis, sedangkan para nasionalis muslim mendirikan Republik Demokratik Rakyat Azerbaijan pada bulan Mei 1918, sekaligus membentuk tentara Islam dengan bantuan pemerintahan Ottoman Turki.

Invasi Uni Sovyet ke Azerbaijan dilakukan pada tahun 1922 dan berkuasa secara mutlak selama 71 tahun hingga tahun 1991, dan selama itu pula, mereka mengontrol politik dan ekonomi Azerbaijan secara ketat. Presiden komunis pertama Azerbaijan adalah Nariman Narimanov, namun beliu akhirnya dibunuh oleh agen Stalin pada tahun 1925, dan untuk selanjutnya Azerbaijan di bawah cengkeraman Moskow. Pada tahun 1969, muncul pemimpin baru yaitu Heydar Aliyev, pemimpin Partai Komunis Azerbaijan, dan menjadi anggota penuh politbiro Uni Soviet tahun 1982, menjadi tokoh penting Azerbaijan. Peristiwa penting lain di Azerbaijan adalah ketika Nagorno-Karabakh yang mayoritas penduduknya orang-orang Armenia ingin memisahkan diri dari Azerbaijan dan ingin bergabung dengan Armenia pada tahun 1980. Tentu saja hal tersebut ditolak oleh pemerintah Uni Soviet, walaupun trend glasnost dan perestroika sedang marak di seluruh kekuasaan Uni Soviet tahun 1988. Akibatnya terjadi bentrok dahsyat antara orang-orang Armenia dan Azeri. Pada Januari 1990, tank-tank Soviet menyerang ibukota Baku untuk melindungi orang-orang Armenia. Kejadian ini dikenal dengan Black Januari, yang menewaskan kurang lebih 100 orang Azeri, dan akibatnya banyak orang Armenia dan Azeri meninggalkan Azerbaijan.

Karena terjadi eskalasi perang dalam skala penuh, maka pada bulan Agustus 1991, Ayaz Mutalibov, mendeklarasikan berdirinya Republik Azerbaijan, dan beliau sekaligus diangkat sebagai Presiden pertama setelah berakhir invasi Uni Soviet. Namun persoalan Nagorno-Karabakh tetap menjadi duri dalam daging, karena pada tahun itu juga orang-orang Armenia menyerang orang-orang Azeri dan menewaskan tak kurang 600 orang.

Pada Juni 1992 diadakan pemilihan presiden, dan Abulfaz Elchibey terpilih sebagai presiden. Namun pada pemerintahan Elchibey, kondisi Azerbaijan tidak semakin membaik, justru timbul chaos, pertama karena masalah Nagorno-Karabakh, dan kedua karena peran militer yang tidak kondusif. Akhirnya, National Council pada Juni 1993 menunjuk Heydar Aliyev, mantan anggota KGB dan pemimpin Partai Komunis Azerbaijan sebagai Presiden menggantikan Elchibey. Pada bulan Oktober 1993, ketika pemilihan presiden diselenggarakan walaupun terjadi boikot, Heydar Aliyev memperoleh suara sebanyak 98.8%, dan terpilih sebagai presiden. Pada pemerintahan Heydar Aliyev inilah situasi Azerbaijan agak tenang, walaupun diselingi adanya kudeta dan terbunuhnya 20.000 orang dan jutaan lainnya menjadi pengungsi pada tahun 1994 karena masalah Nagorno-Karabakh. Heydar Aliyev terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 1998.

Karena kondisi kesehatannya, pada pemilu Oktober 2003, Heydar Aliyev merekomendasikan putra lelakinya, Ilham Aliyev untuk mengikuti pemilihan presiden, dan terbukti Ilham Aliyev dapat memenangkannya dan pada tanggal 31 Oktober 2003 dikukuhkan sebagai Presiden Azerbaijan. Sayangnya, Heyder Aliyev tak dapat melihat lebih lama putranya menjadi presiden, karena pada tanggal 12 Desember 2003 beliau wafat di sebuah klinik di Cleveland, Ohio Amerika Serikat. Ilham Aliyev dipuji oleh banyak orang (walaupun mantan playboy), karena kecerdasannya, murah senyum dan speaks fluent English, serta mempunyai link khusus dengan CIA, di samping mewarisi karisma ayahnya.

Perkembangan Islam di Azerbaijan
Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, the free ecyclopedia, Islam masuk ke Azerbaijan pada abad ke-7 (tahun 642), bertepatan dengan invasi Arab ke negara tersebut dan secara berangsur-angsur menggantikan posisi Zoroaster dan aliran animisme di negara tersebut, hingga jumlah pemeluknya mencapai 96% dari total penduduk. Imperium Bani Seljuk Turki pada abad ke-10 masuk ke Azerbaijan dan mengalahkan imperium Byzantium pada abad ke-11 dan terjadilah kawin campur antara bangsa Turki dan Persia. Pada abad ke-13, Mongol masuk Azerbaijan ketika Temudjin atau Genghis Khan.

Kejayaan Islam di Azerbaijan semakin terasa, ketika Dinasti Safavid berkuasa di Azerbaijan pada abad ke-15. Shah (raja) pertama dinasti Safavid, yaitu Shah Ismail I (1486-1524) mendeklarasikan paham Syiah Islam sebagai agama resmi negara, walaupun mayoritas penganut Islam di Azerbaijan adalah Sunni. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan pemerintahan Ottoman Turki yang menganut paham sunni.

Pada abad ke-19, banyak warga muslim sunni Azeri bermigrasi dari Rusia ke Azerbaijan, namun jumlah penganut Syiah pada akhir abad ke-19 terlanjur menjadi mayoritas di Azerbaijan (70%), sedangkan Sunni 30%. Para penganut Syi’ah maupun Sunni, akhirnya bersepakat untuk mengurangi ketegangan dan lebih menjunjung perasaan nasionalismenya sebagai warga Azerbaijan. Ketika Uni Soviet menginvasi Azerbaijan pada tahun 1806, dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan Uni Soviet tahun 1920, di Azerbaijan terdapat 2.000 masjid. Namun sedihnya, setelah Uni Soviet menguasai Azerbaijan dan pengaruh komunis Soviet sangat mendalam, maka keberadaan Islam di Azerbaijan tercabik-cabik, sehingga pada tahun 1930 sampai perang dunia kedua, banyak masjid yang ditutup. Hal ini berlanjut hingga tahun 1980, sehingga masjid di ibukota Baku saja hanya tingal 2 (dua) masjid besar dan 5 (lima) masjid kecil.

Alhamdulillah, ketika Azerbaijan memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, kehidupan agama Islam bangkit kembali. Pembangunan masjid dan pembelajaran terhadap Islam tumbuh pesat, serta bantuan dari negara Islam, seperti Saudi Arabia, Iran dan Oman masuk dengan deras. Namun pengaruh Uni Soviet tetap terasa. Indikatornya, walaupun Islam dipeluk oleh 96% warga Azerbaijan, negara tidak otomatis mengadopsi Islam sebagai dasar negara. Pada Artikel 6 Undang-Undang Dasar Azerbaijan disebutkan bahwa ‘Azerbaijan adalah negara sekuler’. Demikian pula peran politikus Islam, sangat terbatas, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Artikel ini telah dimuat di majalah Amanah No. 66 TH XIX Oktober 2005 / Sya’ban – Ramadhan 1426 H

Islam di Georgia

Seandainya tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Georgia dan negara-negara di wilayah Balkan, tak akan pernah merdeka dan mungkin tak banyak dikenal secara luas seperti saat ini. Georgia dikenal sebagai negara pegunungan, karena dikelilingi oleh Pegunungan Kaukasus yang agung, sehingga menumbuhkan banyak sungai yang bermuara di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Orang-orang Georgia menyebut dirinya sebagai Kartvelebi, nama Georgia diberikan oleh para penduduk Eropa Barat, karena Santo (orang suci Katholik) St. George berasal dari daerah itu. Kerajaan kuno di Georgia telah dikenal pada abad ke-5 sebelum masehi, yaitu Kerajaan Colchis dan pada abad ke-3 sebelum masehi Kerajaan Kartli-Iberia, dan secara berurutan, Georgia pernah dikuasai oleh Arab, Persia, Turki dan Uni Soviet. Dengan luas wilayah 70.000 km2, dua kali luas wilayah Belgia atau Swiss, Republik Georgia mempunyai iklim yang moderat dan hangat. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Turki, Armenia, Azerbaijan dan Laut Hitam. Berpenduduk sekitar 4.677.401 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Georgia, Azeri, Armenia, dan Rusia, mayoritas beragama Kristen Ortodox (83,9%), Islam (10%) dan lainnya 7%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,35% per-tahun, angka kelahiran 10,25 per-1000, dan angka kematian 9,09 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Abkhazia, di samping bahasa Rusia, Armenia, dan Azeri.

Ekonomi
Walaupun Georgia masuk dalam wilayah Eropa Timur, namun kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (56,9%), industri (22,6%) dan pertanian (20,5%). Pada tahun 1995, Georgia mengajukan permohonan bantuan dana kepada IMF dan World Bank untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Ternyata pemerintahan Georgia dapat memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik. Indikatornya, pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,5%, inflasi hanya sebesar 5,5% dan income per-kapita sebesar US $ 3,100. Dengan angkatan kerja sebanyak 2 juta orang, 40% diserap oleh pertanian, jasa 40% dan industri 20%, Georgia merupakan salah satu negara di Eropa Timur yang cukup kaya. Produk pertaniannya berkisar pada jeruk, anggur, teh, kenari, sayuran dan binatang ternak. Sedangkan produk industrinya berkisar pada baja, pesawat terbang, alat permesinan, elektrik, tambang mangaan dan tembaga, kimia, produk perkayuan, dan anggur. Hasil komoditi yang dieksport besi tua, permesinan, kimia, minyak hasil olahan, buah jeruk teh dan anggur. Negara tujuan eksport adalah Turki, Rusia, Spanyol, Turkmenistan, Armenia dan Yunani. Sedangkan komoditi yang diimport adalah minyak, permesinan, peralatan transportasi, padia-padian dan produk makanan, serta farmasi. Import berasal dari Amerika Serikat, Turki, Rusia, Jerman, Inggris, Azerbaijan, Ukraina dan Italia. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Lari (GEL), dan US $ 1,- senilai 1,9167 Lari (GEL).

Sejarah Pemerintahan
Republic of Georgia dengan ibukotanya T’BILISI, terbagi dalam 9 regions, 9 cities dan 2 republik otonom (Abkhasia dan Ajaria), memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 9 April 1991.

Jauh sebelum memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet, pada abad ke-6 sebelum masehi, telah muncul sebuah negara pertama di Georgia, tepatnya di tepi Laut Hitam, yaitu Kingdom of Colchis dan diteruskan pada abad ke-3 sebelum masehi Kingdom of Kartli-Iberia. Selanjutnya Georgia mengalami zaman keemasan pada abad ke-11 dan ke-12 ketika King David the Buliders memerintah negara itu, yang kemudian dilanjutkan oleh cicit beliau Queen Tamara. Ketika mereka berkuasa, banyak dibangun gedung-gedung besar yang cantik seperti di Gelati dan Cardzia, serta suburnya karya kesusasteraan.

Setelah itu, kerajaan demi kerajaan terus berkembang di Georgia, antara lain pada abad ke-18 ketika King Taimuraz II dan Herekle II berkuasa, hingga King Solomon II yang memohon bantuan kepada Ratu Catherine dari Kerajaan Rusia, karena adanya penyerbuan tentara Turki. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1800, Tsar Paul I dari Kerajaan Rusia menganeksasi Georgia, dan untuk seterusnya, Georgia berintegrasi pada sistem pemerintahan Rusia, termasuk ketika Rusia berubah menjadi motor penggerak paham Marxis, dikenal dengan Revolusi Bolshevicks yang dikomandoi Lenin pada tahun 1917.

Integrasi dengan Uni Soviet berakhir, ketika Gorbachev mencanangkan program perestroika pada tahun 1990, yang mengakibatkan seluruh negara di sekitar Balkan yang tadinya berintegrasi dengan Uni Soviet memerdekakan diri. Pada tanggal 9 April 1991, Georgia memproklamirkan kemerdekaannya dari Uni Soviet, dan terpilih sebagai Presiden pertama Zviad Gamsakhurdia. Pemerintahan Gamskhurdia tak berumur panjang, karena pada tahun 1992 terjadi kemelut hebat, sehingga pemerintahan berpindah ke Parlemen, dan Edward Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet diangkat sebagai Presiden. Pemerintahan Shevardnadze berakhir setelah terjadi Revolusi Bunga pada tahun 2004, dan akhirnya Mikheil Saakashvili terpilih sebagai presiden hingga saat ini.

Perkembangan Islam di Georgia
George Sanikidze dan Edward W. Walker, dari University of California, Berkeley, penulis artikel Islam and Islami Practices in Georgia, memberikan ilustrasi panjang lebar tentang Islam di Georgia.

Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad, dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade.

Islam masuk ke Georgia pada abad ke-8 masehi, ketika Arab menduduki Tbilisi selama 4 dekade, dan menjadikannya sebagai ibukota emirat Islam (Nisba’ at-Tiflisi). Namun kota ini direbut kembali oleh King David IV pada tahun 1122, dan dijadikan ibukota kerajaan Kristen Georgia. Namun pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia, ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan, sehingga ketika Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia mencapai jumlah 20%. Namun pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia sekitar 12% (640.000). Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (madzhab Hanafi dan Syafi’i) dan Syi’ah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia adalah di Republik otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia.. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk Republik otonom Ajaria adalah Kristen, namun ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, dan puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut. Islam di Ajaria mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet mencengkeram Georgia dengan ajaran komunismenya, dan tekanan semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua. Akibatnya banyak praktek agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda, kini setelah Uni Soviet bangkrut, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Yang paling menyakitkan hati ummat Islam Ajaria adalah murtadnya tokoh politik muslim, mantan presiden otonom Ajaria, Aslan Abashidze, ke agama Kristen (tak disebutkan, tahun berapa beliau murtad). Menyusul murtadnya Aslan Abashidze, menurut laporan yang sangat terpercaya, pembangunan masjid pun mandeg selama beberapa tahun belakangan ini di Ajaria. Di Ibukota Batumi, hanya terdapat sebuah masjid, padahal gereja berdiri kokoh sebanyak 14 buah.

Islam terusir dari Abkhazia ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an, dan memang pemeluk Islam di Abkhazia berasal dari Turki yang biasa disebut Mohajiroba. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktekkan Islam sesuai dengan madzhab Sunni (Hanafi). Sebagaimana di Ajaria, banyak muslim Abkhazia yang murtad ke Kristen, puncaknya ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 muslim beralih ke Kristen. Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah atheis dan tak mampunyai kepercayaan, agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi muslim di Meskhetia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersedbut pada abad ke-16. Pengaruh Turki sangat kuat, sehingga mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka, karena nama-nama Georgia berarti Kristen. Selama perang dunia kedua, banyak warga muslim Turki yang dideportasi ke negara asal, sekitar 100.000 orang, dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969. Repatriasi ini beralnjut sampai dengan tahun 1989, dan selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Ministry of Refugees and Settlement.

Sedangkan ditinjau dari etnis, banyak muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Kebanyakan etnis yang menempati Georgia bagian timur banyak menganut paham sufi (Naqsabandiyah dan Qadiriyah).

Pada saat ini, pemerintah Georgia lebih menekankan pada toleransi dalam kehidupan beragama, oleh karena itu para pemimpin Islam di sana menyadari terhadap perubahan situasi, walaupun pada masa lalu, mereka pernah berjaya di Georgia.

Islam di Georgia, telah dimuat di Majalah Amanah, No 65, th XIX Agustus 2005 / Jumadil Akhir – Rajab 1426 H

« Older entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.