Siapa Pemenang PEMILU 2004

Pendahuluan
Biarpun Komisi Pemilihan Umum (KPU) telah mencanangkan bahwa kampanye Pemilihan Umum (Pemilu) akan dilakukan pada waktu yang telah ditentukan (triwulan pertama 2004), namun hampir semua partai politik (khususnya partai-partai besar) telah dengan sigap melakukan kampanye terselubung. Kunjungan ke daerah bagi pejabat tinggi, dimanfaatkan sekaligus untuk membuka seminar, lokakarya, temu kader, pelantikan pengurus lokal, dan kegiatan partai lain yang sejenis. Memasang umbul-umbul, bendera, spanduk, maupun poster yang menyebarluaskan tentang ‘keberadaan’ partai bersangkutan dikategorikan sebagai salah satu wahana kampanye. KPU dan Pemda melarang, namun realisasinya rumit untuk dilaksanakan, karena pasti akan berbenturan dengan pengurus partai, yang notabene juga pejabat, atau pendukung pejabat bersangkutan.

Contoh riil, bagaimana mungkin Pemda Jawa Tengah melarang temukader atau melarang pemasangan lambang partai, kalau temukader atau lambang partai yang dipasang sejenis dengan asal pejabat bersangkutan. Ini suatu dilemma, baik bagi aparat maupun bagi pejabat daerah.

Semua kait mengkait, sehingga merupakan matai rantai yang tak terputus menuju suatu hajat besar yang namanya Pemilu. Padahal semua orang teriak sangat keras, bahwa pemilu harus dilakukan jujur, adil, bebas dan rahasia. Namun hampir seluruh partai peserta pemilu sudah memulainya dengan ketidakjujuran.

Pertanyaannya, bagaimana mungkin mereka bisa mengelola negara sebesar Indonesia, berpenduduk hampir 250 juta orang, terdiri dari beribu pulau, beragam ras, suku maupun agama, bila mereka memulainya dengan ketidakjujuran. Keluarannya adalah setelah mereka berkuasa, seperti pada pemerintahan Megawati saat ini (1999-2004) adalah maraknya korupsi (ke-6 di dunia), kolusi dan nepotisme (KKN). Padahal pemberantasan KKN inilah yang diusung oleh orde reformasi untuk dijadikan ujung tombak yang membedakan dengan pemerintahan Orde Baru.

Justru dengan didasari oleh ketidakjujuran ini pula, Pemilu 2004 telah membayang di depan mata, sehingga rakyat banyak harap-harap cemas, partai mana yang akan berkuasa pada periode 2004 – 2009, statis, stabil, semakin maju atau bahkan sebaliknya semakin runyam yaitu makin maraknya KKN. Bila ini yang terjadi, maka sekali lagi rakyat ‘dibohongi’ lagi oleh partai, dan pada gilirannya, akan semakin banyak rakyat yang tak menggunakan ‘hak pilih’nya, dan pada gilirannya pula mereka akan masa bodo dengan masa depan bangsa ini.

PDIP Perjuangan
Partai berlambang kepala banteng gemuk dengan mata merah menyala ini diprediksi masih mempunyai ‘greget’ untuk memperoleh suara ‘gemuk’ pula. Dasarnya, PDIP adalah partai wong cilik, yang kebetulan wong cilik tersebut mayoritas berada di pulau Jawa dan sebagian besar masih mengidolakan Bung Karno yang dianggap sebagai pengejawantahan ‘ratu adil’. Namun ada pula yang pesimis, karena banyak ‘dosa’ yang dilakukan oleh PDIP, antara lain:

  • Pengurus pusat yang tak pernah kompak (kasus Kwik Kian Gie)
  • Pemilihan kepala daerah, baik tingkat I atau tingkat II yang tak ‘seirama’ dengan arus bawah (kasus pemilihan Gubernur DKI Jakarta, Bali, Jawa Timur maupun Jawa Tengah)
  • Banyaknya penggusuran rumah-rumah kumuh dan kakilima, padahal suara PDIP banyak berasal dari mereka (asumsi: tidak memihak atau membela wong cilik)
  • Kasus Sukhoi dan Bulog

Dosa-dosa itu secara langsung akan menurunkan perolehan suara PDIP pada Pamilu 2004 yang akan datang.

Golkar
Partai berlambang pohon beringin ini semakin ‘smart’ saja dalam menyongsong Pemilu 2004. Konvensi Capres yang menjaring orang top untuk dicalonkan sebagai Presiden RI 2004 termasuk salah satu langkah yang sangat cantik. KPU maupun  Pemda tak dapat berbuat banyak, padahal pemaparan program, visi dan misi yang disampaikan oleh para kontestan peserta Konvensi Capres melalui berbagai mass media, tak ubahnya sebagai kampanye terselubung. Itulah hebatnya Golkar dalam membuat strategi menghadapi Pemilu 2004, Konvensi adalah alat, tujuan utamanya adalah memenangkan Pemilu. Karena mereka tahu, bahwa pangsa pasar Golkar pada tataran masyarakat luas sudah sangat hancur, kecuali Indonesia bagian timur. Masyarakat tahu, bahwa pada era Golkar-lah munculnya koruptor-koruptor kakap dan negara dalam keadaan kolaps. Pemasungan demokrasi dan HAM yang dimotori keluarga Cendana yang notabene adalah pendukung Golkar saat itu, sampai kapanpun tak bakal dilupakan oleh rakyat. Oleh karena itu, bila mereka menang, rakyat harus extra waspada terhadap langkah Golkar ke depan.

Partai Persatuan Pembangunan (PPP)
Partai berlambang Ka’bah ini adem-adem saja, tak bersuara keras ataupun lantang. Kasus besar yang menimpa PPP itu adalah hengkangnya Zainuddin MZ yang akhirnya mendirikan Partai Bintang Reformasi. Mereka secara tidak langsung memanfaatkan Hamzah Haz yang saat ini sebagai Wapres untuk dijadikan sebagai ‘icon’ perolehan suara Pemilu 2004 nanti.

Sebagaimana Megawati yang Presiden, Hamzah Haz pun dapat memanfaatkan kewibawaannya sebagai Wapres untuk memperoleh suara yang signifikan dalam Pemilu 2004. Namun perlu disadari oleh PPP, bahwa kekecewaan Parmusi dalam kepengurusan PPP 2003 – 2008, sudah sangat pasti akan mempengaruhi besarnya perolehan suara. PPP hanya mengandalkan peroleh suara dari NU non-Jawa Timur.

Partai Kebangkitan Bangsa (PKB)
Partai berlambang dunia dengan bintang sembilan tetap mengadalkan suaranya pada komunitas NU Jawa Timur dan sebagian Jawa Tengah. Kenapa hanya komunitas NU Jawa Timur, karena darah biru trah KH Hasyim Asy’ari di Jawa Timur masih sangat dihormati, sehingga apapun yang terjadi dengan PKB, ‘gesang mati nderek PKB’. Ini kultur. Yang jelas, tidak semua orang NU memilih PKB sebagai partai pilihan.

Kasus Gus Dur ketika menjabat sebagai Presiden, kasus Matori, kasus Syaifullah Yusuf, kasus retaknya hubungan KH Hasyim Muzadi dengan Gus Dur dan kasus banyaknya Kyai NU Jawa Timur yang ’mufarraqah’ dari PKB akan mempunyai pengaruh negatif yang signifikan pada perolehan suara PKB pada Pemilu 2004.

Partai Amanat Nasional (PAN)
Partai berlambang matahari terbit biru, yang ditengarai sebagai partai orang Muhammadiyah, minim skandal dan kasus. Motor utama partai ini adalah Amien Rais, wong Solo yang seharusnya kalem namun sebaliknya ceplas ceplos bak orang Batak. Kelebihan dan kekurangan PAN sangat tergantung pada figure Amien Rais (dikenal sangat jujur dan lugas). PAN dikenal dengan management sangat bagus, namun dalam hal strategi dan dana  PAN masih kalah jauh dengan Golkar. Oleh karena itu, jalan yang paling baik adalah memobilisasi warga Muhammadiyah untuk lebih berperanaktif untuk memenangkan PAN pada Pemilu 2004 yang akan datang, walaupun pada dasarnya Muhammadiyah tidak akan pernah berpolitik.

PAN yang diusung oleh Amien Rais mungkin tidak akan memperoleh suara sebanyak yang diperoleh Golkar atau PDI Perjuangan, karena warga Muhammadiyah yang ‘seharusnya’ bersimpati pada PAN, sebagian ‘menyeberang ke Golkar dan PDI Perjuangan’. PAN hanya mengandalkan perolehan suara dari sebagian komunitas Muhammadiyah dan masyarakat perkotaan / intelektual.

Partai Bulan Bintang (PBB)
Partai yang berlambang bulan sabit dan bintang di tengah berlatarbelakang hijau adalah partai yang berlandaskan Islam dan moderat serta meneruskan cita-cita M. Natsir, yang dulu dikenal dengan Masyumi. Sayangnya, banyak anggota Masyumi yang tak mau menjaga keutuhan organisasi dan khittah partai. Mereka terbius pada yang namanya ‘kekuasaan’, baik di tataran partai maupun pemerintahan. Para mantan anggota Masyumi terkesan kaku, kurang moderat, padahal awal didirikannya Masyumi adalah untuk menampung seluruh partai yang berlandaskan keislaman.

Yusril Ihza Mahendra adalah motor penggerak PBB, masih muda, cerdas dan berwawasan luas. Dengan menjabat sebagai Menteri Kehakiman dan HAM agak sedikit mengatrol perolehan suara pada Pemilu 2004 nanti, namun tetap kurang signifikan

Partai Keadilan Sejahtera (PKS)
Partai yang berlambang bulan sabit beradu pungung berlatar belakang hitam sangat terkenal di kalangan mahasiswa, tertib dan tak pernah arogan. Kualitas yang ditunjukkan selama melakukan ‘demontrasi damai’ dapat mengatrol nama partai. Pujian datang dari mana-mana, termasuk dari para diplomat maupun turis mancanegara. Mereka akan aman di jalan, bila PKS melakukan demo. Ini kesan yang bagus, padahal sebaliknya, di Barat, Islam dikenal sebagai agama para teroris. PKS sudah memberikan jawaban yang ‘pas’ terhadap tuduhan barat. PKS adalah partai anak kampus yang mempunyai background Muslim. Dengan demikian, perolehan suaranya akan tetap stabil dan mungkin akan lebih meningkat dibanding dengan Pemilu 1999. Aksi simpatik dan Islami, itulah kuncinya.

Penulis sangat pesimis memprediksi sejauh mana perolehan suara 46 partai politik lainnya, karena di samping kurang dikenal masyarakat luas, juga karena kepemimpinan, manajemen, dana, visi-misi, dan program partai masih dalam tanda tanya.

Gambaran Perolehan Suara Pemilu 2004 versi SCTV
Sebagaimana direlease oleh SCTV 17 September 2003 pukul 19.47, gambaran perolehan suara pemilu 2004 oleh partai-partai besar adalah sebagai berikut:

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

PDIP

38,2 Juta

Golkar

25,7 Juta

PKB

14,2 Juta

PPP

12,1 Juta

PAN

8,0 Juta

PBB

2,2 Juta

Lain-lain

13,1 Juta

Namanya saja gambaran, tentu bukan suatu kepastian. Kepastian hasil pemilu 2004 adalah setelah penghitungan suara, namun tetap sah-sah saja media massa membuat kalkulasi politik atau LSM melakukan jajak pendapat. Keuntungannya adalah, bahwa partai-partai peserta pemilu sudah bisa ‘mengukur’ diri, bagaimana mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya menghadapi pemilu, yaitu fugur kepemimpinan, manajemen, strategi, program, visi dan misi yang bagus.

Partai politik harus dapat mendidik rakyat, karena pada ujungnya adalah menuju kekuasaan. Bila untuk memperoleh kekuasaan dibarengi dengan cara tidak jujur dan  tidak adil, maka sudah dapat dipastikan rakyat pun akan dibiasakan dengan perilaku serupa, Rakyat semakin pintar. Sehebat-hebarnya Soeharto dengan kekuasannya yang hampir ‘absolut’ akhirnya tumbang juga. Oleh karena itu, partai politik peserta pemilu harus banyak belajar tentang politik kekuasaan yang dianut oleh masing-masing pemenang pemilu.

Yang perlu dicatat di sini adalah statemen yang disampaikan oleh Amien Rais sebelum memimpin sidang Pleno Badan Pekerja MPR di Gedung MPR/DPR, 7 Oktober 2003. Amien Rais menolak suatu koalisi antar beberapa partai untuk ‘menghadang’ Megawai menduduki kursi presiden pada Pemilu mendatang. Menghadang itu seperti jegal menjegal, kurang demokratis dan kurang etis. Kampanye pemilu lebih merupakan perlombaan antar calon presiden untuk mencapai garis final yang merupakan kursi kepresidenan, siapa lebih cepat itu yang akan menang. Kalau menghadang, ada yang memboikot, atau merintangi, sehingga nanti kampanyenya saling bertabrakan. Kampanye partai pesaing akan diganggu akan dibendung. Kalau dalam kampanye, masing-masing menjual program, meyakinkan hati rakyat. Kampanye yang positif, tidak saling menjatuhkan, apalagi memakai fitnah. Semua ini akan mendidik rakyat untuk lebih demokratis. Dalam teori,  inilah yang disebut dengan ‘high politik’.

Penutup
Dengan munculnya puluhan partai politik peserta pemilu 2004 (50 partai), menunjukkan bahwa euphoria bangsa Indonesia dalam menjemput ‘kebebasan’ berpolitik masih belum selesai. Terkesan, para deklarator partai hanya mempertimbangkan ‘bungkus’, belum mempertimbangkan bobot atau isi. Mereka belum bisa membaca keinginan massa (konstituen), bahwa berdirinya suatu partai poitik bukan hanya untuk meraih suara, uang atau kekuasaan, namun lebih dari itu, bagaimana mereka nanti dapat mengiplementasikan program dan janjinya, membawa rakyat kepada situasi yang lebih baik. Mereka hanya mempertimbangkan ‘kepentingan sesaat’.

Hal ini selaras dengan adanya suatu jajag pendapat yang dirilis oleh suatu situs terkenal, bahwa motivasi yang mendorong  orang ramai-ramai mendirikan partai politik adalah: ‘66%’ karena ‘demi uang’ dan ’30% karena demi kekuasaan’.

<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:””; margin:0cm; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:IN;} @page Section1 {size:612.0pt 792.0pt; margin:72.0pt 90.0pt 72.0pt 90.0pt; mso-header-margin:36.0pt; mso-footer-margin:36.0pt; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:””;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
table.MsoTableGrid
{mso-style-name:”Table Grid”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
border:solid windowtext 1.0pt;
mso-border-alt:solid windowtext .5pt;
mso-padding-alt:0cm 5.4pt 0cm 5.4pt;
mso-border-insideh:.5pt solid windowtext;
mso-border-insidev:.5pt solid windowtext;
mso-para-margin:0cm;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}

Pilihan

Pemilih

Persentase

Demi aspirasi

32

2 %

Demi ideologi

26

1 %

Demi kekuasaan

629

30 %

Demi uang

1389

66 %

Tidak tahu

28

1%

Siapa pemenang pemilu 2004 nanti, tergantung dari kesiapan semua peserta pemilu, kesiapan dalam arti siap menjual programnya, siap manajemen dan dananya, siap dalam kampanyanye, dan yang pasti adalah siap meyakinkan hati rakyat. Tanpa mempertimbangkan  kelima aspek tersebut sulit bagi partai politik manapun, untuk memenangkan pamilu 2004 nanti. Oleh karena itu, mereka harus siap untuk kalah, siap untuk berkoalisi dan siap mempertimbangkan secara masak mendirikan partai politik baru.

*) Telah dimuat pada Media Dakwah, Dzulqaidah 1424 / Januari 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: