Status Anak Angkat Dalam Islam

Maraknya isu pengangkatan anak menyusul tragedi gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (Aceh) 26 Desember 2004 yang lalu, sempat mengusik banyak pihak, khususnya ummat Islam Indonesia. Aceh adalah Islam, oleh karena itu mendapatkan julukan ‘Serambi Mekah’. Ditengarai sebagai tempat awal mula Islam menyebar di Indonesia, sudah barang tentu, sebagian besar ummat Islam Indonesia ‘tidak rela’, bila anak-anak Aceh kurban gempa tsunami diangkat oleh orang atau lembaga yang tidak bernafaskan Islam.

Ketika WorldHelp, suatu lembaga keagamaan (Evengalis) di Amerika Serikat mengeluarkan statemen, telah membawa sekitar 300 anak keluar dari Aceh dan diserahkan kepada lembaga Kristen di Jakarta, ummat Islam Indonesia bak kena tsunami jilid dua. Serentak, tokoh-tokoh Islam Indonesia geram sekaligus khawatir bila hal itu benar adanya. Oleh karena itu, Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Presiden RI, merasa perlu meredam hal tersebut, dan mengharamkan anak-anak Aceh di bawa keluar Aceh.

Pihak gereja, baik yang berasal dari Kristen Protestan (PGI) maupun Katolik (KWI) menolak keras ‘pengkristenan’ berkedok pemberian bantuan di Aceh. Mereka merasa perlu memberikan statemen, karena hubungan baik dengan ummat Islam Indonesia sudah sangat kondusif. Tentang WorldHelp, kedua lembaga Kristen tersebut menyatakan, bahwa mereka sama sekali tidak ada hubungan dengan WorldHelp, baik secara struktural maupun fungsional.

Apakah ummat Islam lega terhadap kasus ini ? Rasanya patut diragukan, karena di lapangan membuktikan, banyak cara yang digunakan oleh oknum agama tertentu untuk tetap berusaha ‘menggembalakan domba-domba sesat’ di Aceh. Seto Mulyadi, tokoh yang sangat memperhatikan nasib anak-anak, mendapatkan laporan tentang anak-anak korban tsunami yang dibawa oleh orang-orang tak dikenal dengan alasan untuk diobati, tanpa memperbolehkan orangtuanya ikutserta. Bisa jadi, setelah sembuh, anak-anak tersebut akan dididik secara ‘tidak Islami’. Suatu ketika, seorang anggota Hizbut Tahrir secara tak sengaja menemukan setumpuk buku-buku misi Kristen di suatu kapal, yang tentunya akan disebarkan kepada masyarakat Aceh (Republika, 2 Pebruari 2005).

Aceh sejak dalam masa penjajahan, sangat sulit untuk dikristenkan. Ketika Snock Horgronye, penasehat agung Kerajaan Belanda ketika mereka menjajah Indonesia, merasa kesulitan dan tak mampu menaklukkan hati warga Aceh. Oleh karena itu, sampai saat ini mereka berusaha keras mengkristenkan mereka, melalui jalan apapun dan waktu kapan pun. Dengan terjadinya gempa tsunami 26 Desember 2004 yang lalu, mereka mempunyai akses yang luas untuk masuk ke Aceh dengan alasan memberikan bantuan, tanpa takut dicurigai, untuk mengkristenkan warga Aceh secara tersamar.

Anak adalah Generasi Penerus
Tak dapat dipungkiri oleh siapapun, bahwa anak adalah generasi penerus, baik bagi orang tua, bangsa maupun agama. Baik buruknya anak, akan menjadi apa mereka, tergantung bagaimana orang tua, bangsa maupun agama mendidik mereka. Dalam Islam, anak diibaratkan kertas putih, suci sejak lahir, dan oleh karenanya mau beragama apa, menjadi apa dan bagaimana masa depannya, tergantung bagaimana cara mewarnai mereka. Dalam hadits riwayat Buchari Muslim dikatakan bahwa ‘anak-anak lahir dalam keadaan suci, ibu bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi’.

Islam juga dinyatakan bahwa anak adalah generasi penerus dan diharapkan menjadi generasi yang saleh, sebagaimana dinyatakan dalam surat Asy-Syuara’ ayat 74 ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam yagi orang-orang-orang yang bertaqwa.’

Mendidik anak adalah tanggungjawab orang tua, hal ini sebagaimana dinyatakan Nabi s.a.w. dalam hadits-haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi, Ibnu Majah dan Muslim. ‘Mendidik anak itu lebih baik dari bersedekah secupak. Tidak ada pemberian seorang bapak yang lebih baik kepada anak kecuali adab yang mulia. Bila seorang meninggal, terputuslah semua amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang berdoa untuknya.’

Peristiwa gempa tsunami di Aceh akan memunculkan anak-anak yatim atau yatim-piatu, Bila mereka secara prinsip telah dianggap sebagai generasi penerus yang saleh dan beradab, maka harus ada yang berkewajiban untuk mendidik mereka, apakah dijadikan anak angkat atau dipelihara sebagai anak negara atau diserahkan kepada lembaga yang mempunyai hak untuk mendidik mereka, seperti Panti Asuhan dan sebagainya. Bila yang mengasuh mereka bukan orang tua kandung, melainkan seseorang atau orang tua angkat, lembaga atau negara, bagaimanakah status anak-anak tersebut ?

Adopsi menurut Hukum Positif Indonesia
Secara legal, adopsi atau pengangkatan anak dikuatkan berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. Adopsi secara legal mempunyai akibat hukum yang luas, antara lain menyangkut perwalian dan pewarisan. Sejak putusan ditetapkan pengadilan, maka orang tua angkat menjadi wali bagi anak angkat, dan sejak saat itu, segala hak dan kewajiban orang tua kandung beralih kepada orang tua angkat. Kecuali bagi anak angkat perempuan yang beragama Islam, bila dia akan menikah, maka yang menjadi wali nikah hanyalah orang tua kandung atau saudara sedarah.

Adopsi juga dapat dilakukan secara illegal, artinya adopsi yang dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan antar pihak orang tua yang mengangkat dengan orang tua kandung anak yag diangkat. Adopsi secara illegal inilah yang disinyalir sebagai celah untuk kasus jual beli anak (trafficking).

Dalam Staatblaat 1917 No. 129, akibat hukum dari pengangkatan anak adalah anak tersebut secara hukum memperoleh nama dari bapak angkat, dijadikan anak yang dilahirkan anak perkawinan orang tua angkat. Akibatnya adalah dengan pengangkatan tersebut, si anak terputus hubungan perdata yang berpangkal pada keturunan karena kelahiran, Oleh karena itu, secara otomatis, hak dan kewajiban seorang anak angkat sama dengan anak kandung harus merawat dan menghormati orang tua, layaknya orang tua kandung, dan anak angkat berhak mendapatkan hak yang sama dengan anak kandung orang tua angkat (Roediono, SH).

Status Anak Angkat dalam Islam
Yusuf Qardhawi, ulama kelahiran Mesir tahun 1926 yang sejak tahun 1961 tinggal Doha Qatar, dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam, menguraikan secara singkat perihal pengangkatan anak menurut Islam.

Pada masa jahiliyah, mengangkat anak telah menjadi ‘trend’ bagi mereka, dan anak angkat bagi mereka tak beda dengan anak kandung, yang dapat mewarisi bila ayah angkat meninggal. Inilah yang diharamkan.dalam Islam.

Prof. Dr. Amir Syarifuddin dalam bukunya ‘Hukum Kewarisan Islam’ menyatakan bahwa Hukum Islam tidak mengenal lembaga anak angkat atau dikenal dengan adopsi dalam arti terlepasnya anak angkat dari kekerabatan orang tua asalnya dan beralih ke dalam keekrabatan orang tua angkatnya. Islam mengakui bahkan menganjurkan mengangkat anak orang lain, dalam arti pemeliharaan.

Allah s.w.t. akhirnya menghapus budaya jahiliyah tersebut dengan menurunkan surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5: ‘Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu, sedang Allah berkata dengan benar dan Dia-lah yang menunjukkan ke jalan yang lurus. Panggillah mereka (anak-anak) itu dengan bapak-bapak mereka, sebab dia itu lebih lurus di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka mereka itu adalah saudaramu seagama dan kawan-kawanmu.’ Dengan turunnya ayat tersebut, maka Islam telah menghapus seluruh pengaruh yang ditimbulkan oleh aturan jahiliyah, misalnya tentang warisan dan dilarangnya kawin dengan bekas isteri anak angkat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 75 yang berbunyi: ‘Keluarga sebagian mereka lebih berhak terhadap sebagian menurut Kitabullah,’ dan surat An-Nisa’ ayat 24 yang berbunyi: ‘Dan bekas isteri-isteri anakmu yang berasal dari tulang rusukmu sendiri.’

Secara panjang lebar Allah s.w.t. menjelaskan tentang halalnya mengawini bekas isteri anak angkat, yaitu ketika Rasulullah s.a.w. ragu dan takut bertemu dengan orang banyak ketika akan mengawini Zainab binti Jahsy, karena Zainab adalah mantan isteri Zaid bin Haritsah, atau dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini sebagaimana difirmakan-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 37 – 40.

Pendapat Yusuf Qardhawi tersebut, diamini oleh Ahmad Asy-Syarbashi, sebagaimana dinyatakan beliau dalam bukunya Yas’alunaka, maka haramnya mengangkat anak adalah, apabila nasabnya dinisbatkan kepada diri orang tua yang mengangkatnya. Sedangkan mengangkat anak, apalagi anak yatim, yang tujuannya adalah untuk diasuh dan dididik tanpa menasabkan pada dirinya, maka cara tersebut sangat dipuji oleh Allah s.w.t. Hal ini sebagaimana dikatakan sendiri oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits riwayat Bukhari, Abu Daud dan Turmudzi: ‘Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim, seperti ini, sambil beliau menunjuk jari telunjuk dari jari tengah dan ia renggangkan antara keduanya.’

Laqith atau anak yang dipungut di jalanan, sama dengan anak yatim, namun Yusuf Qardhawi menyatakan, bahwa anak seperti ini lebih patut dinamakan Ibnu Sabil, yang dalam Islam dianjurkan untuk memeliharanya. Asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fuqaha menetapkan, biaya hidup untuk anak pungut diambil dari baitul-mal muslimin. Hal ini sebagaimana dikatakan Umar ibn Khattab r.a. ketika ada seorang laki-laki yang memungut anak, ‘pengurusannya berada di tanganmu, sedangkan kewajiban menafkahinya ada pada kami.’

Ummat Islam wajib mendirikan lembaga dan sarana yang menanggung pendidikan dan pengurusan anak yatim. Dalam kitab Ahkam al-Awlad fil Islam disebutkan bahwa Syari’at Islam memuliakan anak pungut dan menghitungnya sebagai anak muslim, kecuali di negara non-muslim. Oleh karena itu, agar mereka sebagai generasi penerus Islam, keberadaan institusi yang mengkhususkan diri mengasuh dan mendidik anak pungut merupakan fardhu kifayah. Karena bila pengasuhan mereka jatuh kepada non-muslim, maka jalan menuju murtadin lebih besar dan ummat Islam yang tidak mempedulikan mereka, sudah pasti akan dimintai pertanggungjawaban Allah s.w.t. Karena anak angkat atau anak pungut tidak dapat saling mewarisi dengan orang tua angkatnya, apabila orang tua angkat tidak mempunyai keluarga, maka yang dapat dilakukan bila ia berkeinginan memberikan harta kepada anak angkat adalah, dapat disalurkan dengan cara hibah ketika dia masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka sebelum yang bersangkutan meninggal dunia.

Berkaitan dengan banyaknya anak yatim/yatim piatu di Aceh, maka usaha pemerintah dan lembaga-lembaga Islam untuk mendirikan suatu lembaga yang akan mendidik mereka secara simultan, merupakan amalan yang sangat dipuji, dan sejalan dengan perintah Allah s.w.t. Karena bila mereka jatuh ke pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, baik karena ada niat diperjualbelikan (trafficking) atau dididik tidak sesuai dengan Islam (menjadi murtadin), maka ummat Islam di Indonesia akan mengalami kerugian yang luar biasa.

Status Anak Angkat, telah dimuat di majalah Amanah No. 60 TH XVIII Maret 2005 / Muharram – Shaffar 1426 H

About these ads

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: