ISLAM DI REPUBLIK DEMOKRATIK KONGO (d/h ZAIRE)

Republik Demokratik Congo (Democratic Republic of the Congo), dahulu terkenal dengan sebutan Zaire, Congo Free State, Belgian Congo, Congo/Leopoldville atau Congo/Kinshasa, untuk selanjutnya disingkat RDC. Ada dua hal yang membuat negara ini ‘mendunia’, yaitu ketika Joseph Mobutu Sese Seko menguasai negara tersebut secara diktator selama kurang lebih 32 tahun (1966-1998) dan ketika petinju legendaris Muhammad Ali bertarung melawan George Foreman pada tahun 1974, di mana Muhammad Ali memenangkan pertarungan keras tersebut.

RDC negara dengan luas seperempat Amerika Serikat, berbatasa dengan banyak negara, antara lain Angola, Burundi, Rwanda, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Sudan, Tanzania, Udanda dan Zambia. Luas wilayah RDC adalah 2.345.410 km2, beriklim unik: tropis, panas dan kering di sebelah utara, serta dingin di daerah selatan (pegunungan). Negara ini mempunyai penduduk cukup besar, yaitu sekitar 60.085.804 jiwa, dengan angka pertumbuhan penduduk sebesar 2,98% per-tahu, angka kelahiran rata 44,38 per-1000 dan angka kematian 14,43 per-1000. Ada sekitar 200 etnik di RDC, namun suku terbesar adalah Bantu yang terbagi dalam sub suku Mongo, Luba, Kongo dan Mangbetu-Azande. Mayoritas masyarakat RDC penganut agama Katholik (50%), Protestan (25%), Kimbanguist (10%) dan Islam menjadi minoritas (10%). Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping ada bahasa lokal Lingala, Kiswahili, Kikongo dan Tshiluba.

Ekonomi

RDC sebenarnya sebuah negara yang dikaruniai Allah s.w.t. potensi kekayaan yang sangat luas, khususnya suberdaya alam. Namun potensi kekayaan ini berubah drastis sejak tahun 1980-an, karena korupsi dan sebagainya. Kondisi ini semakin parah ketika terjadi perang saudara yang dimulai sejak tahun 1998 dan menewaskan tidak kurang 3,5 juta penduduk (perang, kelaparan dan penyakit). Perang juga mengakibatkan ketidakpastian hukum dalam bisnis, akibatnya banyak investor yang hengkang keluar RDC. Sumberdaya manusia yang bermutu pun semakin banyak yang lari ke luar negeri, dan akibatnya fatal bagi RDC. Akhirnya pada tahun 2002, IMF dan Bank Dunia turun tangan memberikan bantuan, dan pemerintah RDC harus mengimplementasikan dalam bentuk reformasi ekonomi.

Jumlah angkatan kerja cukup banyak, sebagian besar (55%) diserap pertanian, industri 11% dan jasa 34%. Ekonomi tumbuh sebesar 7,5%, namun inflasi mencapai 14%, dan income per-kapita hanya mencapai US $ 700,-. Hasil tambang RDC meliputi berlian, emas, perak, seng, kobalt, tembaga, minyak, uranium, timah, mangaan, batubara, kayu dan hidropower. Sedangkan hasil pertaniannya berkisar pada kopi, gula, minyak nabati (sawit), karet, teh, tapioca, pisang, jagung, buah-buah dan produk kayu.

Komoditi yang diekspor meliputi berlian, tembaga, minyak sawit, kopi dan kobalt, senilai US $ 1,417 milyar, dengan negara tujuan Belgia, Finlandia, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi importnya adalah makanan, mesin untuk pertambangan, peralatan transportasi dan produk minyak senilai US $ 933 juta, berasal dari Afrika Selatan, Belgia, Perancis, Kenya, Amerika Serikat dan Jerman (Indonesia belum termasuk di dalamnya). Mata uang RDC adalah Congolese France (CDF) dengan nilai US $1,- = 401,04 CDF.

Sejarah Pemerintahan

RDC beribukota di KINSHASA (d/h Leopoldville), terbagi dalam 10 propinsi, memperoleh kemerdekaan dari Belgia pada tanggal 30 Juni 1960.

Gelombang migrasi pertama di RDC dilakukan oleh suku Bantu Negro (Bantu/Pygmi) pada tahun 200 sampai dengan tahun 500 sebelum Masehi. Pada abad ke-5 Masehi, pembentukan masyarakat Bantu mulai berkembang di tepian sungai Lualaba di propinsi Katanga, membentuk suatu kebudayaan yang dikenal dengan  Upemba, dan pada akhirnya membentuk kerajaan Luba sampai dengan abad ke-15. Kerajaan Luba digantikan dengan kerajaam Kuba, konfederasi dari suku Luba, Leele dan Wongo hingga abad ke-19. Pada abad ke-15 di sekitar RDC juga berdiri Kerajaan Kongo yang meliputi sebelah barat daya RDC, Anggola dan Kabinda. Kerajaan ini memanfaatkan jual beli budak kepada bangsa-bangsa Eropa.

Bangsa Eropa mulai melakukan eksplorasi di RDC pada tahun 1870 hingga tahun 1960. Orang Eropa pertama yang berjasa memetakan RDC adalah Henry Morton Stanley (Inggris) yang mendapatkan sponsor dari Raja Leopold II (Kerajaan Belgia). Pada akhirnya Belgia berhasil menguasai RDC dan memberikan nama Congo Free State. Oleh pemerintah kolonial Belgia, pada tahun 1908, nama Congo Free State diganti menjadi Belgian Congo. Belgia berjasa besar bagi RDC karena berhasil mengusir Italia, namun Belgia juga secara licik menjual hasil tambang ‘uranium’ RDC kepada Amerika Serikat, dan urnium tersebut diproses menjadi bom atom oleh Amerika Serikat, selanjutnya pada Perang Dunia Kedua tahun 1945 berhasil digunakan untuk menghancurkan Hiroshima dan Nagasaki Jepang.

Berkat kegigihan dan perjuangan bangsa RDC untuk memisahkan diri dari Belgia, maka pada tanggal 30 Juni 1960, RDC memperoleh kemerdekaannya, Joseph Kasavubu diangkat sebagai Presiden, sedangkan Patrice-Emery Lumumba (dari suku Batatele) diangkat sebagai Perdana Menteri. Beliaulah yang berjuang secara gigih untuk memerdekakan RDC, dan menamakan RDC sebagai Congo-Leopoldville. Namun pada perjalanan kariernya, Lumumba menjadi perpanjangan tangan (boneka) Uni Soviet, sehingga sangat dibenci Amerika Serikat. Akhirnya Lumumba disingkirkan. Krisis semakin menjadi-jadi, sehingga tentara multinasional PBB diminta untuk menjadi penengah. Tahun 1964, Morse Tshombe diangkat sebagai Perdana Menteri, dan pada pemilu tahun 1965, Tshombe memenangkannya, namun dikudeta oleh Letnan Jendral Mobutu Sese Seko, pada gilirannya, beliau mendeklarasikan diri sebagai Presiden. Setelah Mobutu berkuasa, RDC relativ damai dan stabil.  Namun Mobutu dianggap oleh HAM internasional banyak melakukan praktek pelanggaran hak azasi manusia,  repressif dan korup (mempunyai account di bank Swiss sebesar US $ 4 milyar). Pada awal kekuasaannya, Mobutu merubah nama ibukota Leopoldville menjadi Kinshasa, Stanleyville menjadi Kisangani dan Elisabethville menjadi Lubumbashi.  Dan puncaknya pada tahun 1971, Mobutu merubah Congo-Leopoldville menjadi Republic of Zaire. Seiring hancurnya Uni Soviet pada tahun 1990-an, Mobutu melonggarkan pemerintahannya, dan para opposan mendesak adanya perubahan.

Pada tahun 1996, meletuslah perang saudara di Zaire yang menewaskan jutaan manusia, dan pada akhirnya pemberontak yang dikomandoi oleh Laurent-Disire Kabila berhasil menguasai Zaire pada bulan Mei 1997, dan merubah nama Republik of Zaire menjadi Democratic Republic of The Congo. Walaupun Laurent Kabila telah berkuasa, pemberontakan tetap terjadi di RDC. Para pemberontak didukung oleh Rwanda, Burundi dan Uganda, pada akhirnya mengundang pasukan penjaga perdamaian yang beranggotakan Zimbabwe, Angola, Namibia, Chad dan Sudan. Pada tanggal 10 Juli 1999 diadakan gencatan senjata, dan berakhirlah perang saudara di RDC. Pada bulan Januari 2001, Laurent Kabila dibunuh oleh pengawalnya sendiri, dan putra beliau Joseph Kabila diangkat sebagai Presiden RDC yang baru. Pada pemerintahan Joseph Kabila, perdamaian benar-benar terjadi, karena adanya pembagian kekuasaan dan perdamaian dengan negara-negara tetangga, yaitu Rwanda, Burundi dan Uganda.

Perkembangan Islam di RDC

Tidak berbeda dengan Islam di Republik Afrika Tengah (RAT), ditengarai Islam masuk di RDC bersamaan ketika Islam masuk Chad pada abad ke-11, tepatnya ketika Kerajaan Kanem-Borno di bawah kendali Umme-Jilmi pada tahun 1085-1097. Tidak ada petunjuk khusus, siapa yang berjasa membawa Islam ke RDC.

Namun secara diam-diam, Islam berkembang secara signifikan di RDC. Gamal Lumemba Ramadan, Ketua Congolese National Islamic Council (CNIC) menyatakan bahwa Islam di RDC sebenarnya berjumlah 25% (15 juta)  dari seluruh penduduk RDC yang berjumlah sekitar 60 juta orang, bukan 10% sesuai data resmi pemerintah maupun CIA Worldfact.

Ummat Islam di RDC tetap berjuang untuk menegakkan Islam agar tetap diakui dan diperhatikan pemerintah, mereka menginginkan kondisi hidup yang lebih baik. Walaupun mempunyai pengikut besar, sampai saat ini, pemerintah RDC secara resmi belum mengakui keberadaan dan keikutsertaan mereka dalam peran-peran penting, baik dalam pemerintahan atau negara. Di level pemerintahan pun, ummat Islam di RDC sungguh menderita. Bayangkan dari 450 anggota parlemen hanya diwakili 3 (tiga) orang Islam. Tidak ada satu pun di RDC ummat Islam yang direkrut menjadi menteri, deputi menteri atau pun gubernur (bandingkan dengan Indonesia).

Ummat Islam di RDC masih kekurangan masjid, sekolah-sekolah Islam dan al-Qur’an. Tentu saja hal ini menjadi alarm bagi ummat Islam di seluruh dunia. Di Kinshasa hanya terdapat 14 masjid kecil untuk melayani 950.000 jama’ah, dan di seluruh negara hanya mempunyai 380.000 masjid dengan luas wilayah lebih dari 2 juta km2.

Yang paling menakutkan bagi para pemimpin Islam di RDC adalah, karena ketiadaan sekolah-sekolah Islam, maka mereka terpaksa menyekolahkan anak-anak mereka pada sekolah-skeolah Katholik dan Kristen, dan tentu saja ini membahayakan keimanan mereka. Lebih menggenaskan lagi, karena ketiadaan biaya, mereka drop-out pada tingkat SLTP. Oleh karena itu, Ramadan menghimbau negara Arab dan masyarakat Islam internasional agar segera turun tangan memberikan bantuan.

Ketika terjadi perang saudara tahun 1997-1998, banyak orang Islam yang terbunuh, apalagi ketika Rwanda, Burundi dan Ugunda menyerbu RDC, mereka banyak membunuh orang-orang Islam.

Tokoh muslim lain di RDC adalah Al-Haj Mudilo-wa-Malemba S. (mantan Ketua CNIC) menyatakan bahwa dalam situasi sulit, ummat Islam di RDC masih bersemangat untuk menjadi khatib, guru dan pembimbing Islam bagi mereka yang membutuhkan. Malemba juga menyatakan bahwa ummat Islam di  RDC tidak mempunyai fasilitas infrastruktur secara mandiri seperti rumah sakit, pusat kesehatan, universitas, maupun sekolah-sekolah.

Dalam kesempatan konperensi pers, baik Malemba maupun Ramadan menyatakan bahwa secercah harapan masih diperoleh oleh ummat Islam di RDC. Secercah harapan tersebut diperoleh dari mass media, baik Radio maupun Televisi. Radio yang berjumlah 23 stasiun maupun televisi yang berjumlah 5 stasiun memberikan kesempatan (mengizinkan) seluas-luasnya kepada ummat Islam untuk menyampaikan dan mengembangkan dakwahnya di seluruh RDC.

ISLAM DI TANZANIA DAN KENYA

Tanzania adalah negara cantik yang terletak di Afrika bagian Timur, beriklim tropis, dahulu dikenal dengan nama Tanganyika, karena di Tanzania ada sebuah danau yang sangat terkenal yaitu Danau Tangayika. Berbatasan dengan banyak negara, antara lain: Kenya, Uganda, Rwanda, Burundi, Democrsatic Republic of Congo, Zambia, Malawi, dan Mozambique. Tanzania mempunyai sebuah gunung tertinggi di Afrika, yaitu Gunung Kilimanjaro (5.985 m) serta taman margasatwa yang sangat elok dan banyak dikunjungi oleh turis, baik domestik maupun mancanegara. Ada 3 (tiga) pulau besar di Tanzania, yaitu Zanzibar (terkenal dengan cengkeh dan pemimpin serta ulama Islamnya), pulau Pemba dan pulau Mafia

Luas wilayah Tanzania adalah 945.087 km2, dengan penduduk berjumlah sekitar 35.922.454 orang, 95% berasal dari penduduk asli Afrika (ras Bantu) terbagi dalam 130 suku. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata 1,72% per-tahun, angka kelahiran 39,5 per-seribu dan angka kematian 17,38. Jumlah penganut Islam 35%, Kristen 30%, Animisme 35%, sedangkan pulau Zanzibar mempunyai penganut Islam terbesar, yaitu sekitrar 95% dari total penduduknya.

Bahasa nasional mereka adalah Kiswahili atau Swahili, bahasa ibu ras Bantu yang perbendaharaan bahasanya banyak berasal dari bahasa Arab. Bahasa Swahili semula adalah bahasa komunitas muslim di Afrika Timur, yang akhirnya banyak dipergunakan oleh negara-negara Afrika bagian tengah dan timur. Sedangkan bahasa Inggris banyak dipergunakan di lingkungan perekonomian, administrasi dan pendidikan tinggi, sedangkan bahasa Arab banyak dipergunakan di pulau Zanzibar.

Ekonomi

Tanzania termasuk dalam kategori negara termiskin di dunia. Perekonomian mereka sangat tergantung pada sektor pertanian, yang menyumbang separuh GDP, menyumbang 85% angka export serta menyerap 80% tenaga kerja. Angka pertumbuhan ekonomi rata-rata 6,1%, dengan inflasi rata-rata 4,8%.  Pendapatan per-kapita US $ 600,-. Angkatan kerja diserap oleh sektor pertanian sebesar 80%, industri dan jasa 20%. Hasil tambang mereka adalah emas dan berlian, sedangkan hasil pertaniannya adalah kopi, teh, kapas, cengkeh, tembakau, tapioca, buah-buahan, biri-biri dan domba.

Ekspor terutama ke India, Jepang, Belanda, Inggris, Belgia, Kenya dan Jerman berasal dari komoditi emas, kopi kapas, dan manufaktur senilai 863 juta dolar Amerika. Sedangkan import mereka senilai 1,67 milyar dolar Amerika berasal dari Afrika Selatan, Cina, Kenya, India, Inggris, Jepang, Amerika Serikat dan Australia. Komoditi yang diimport adalah mesin dan alat transportasi serta minyak. Indonesia sama sekali belum menjadi patner export maupun importnya. Mata uang Tanzania adalah Tanzanian Shilling ((TZS), US $ 1, = 876,41 TZS.

Sejarah Pemerintahan

Semula Tanzania bernama United Republic of Tanganyika and Zanibar, namun pada tanggal 26 April 1964 berubah menjadi United Republic of Tanzania, dengan ibukotanya yang sangat terkenal DAR es SALAAM.

Sebagaimana negara-negara terbelakang atau negara berkembang lainnya, baik di Asia atau Afrika, sebagian besar adalah bekas jajahan negara Eropa. Demikian  juga Tanzania, kemerdekaan yang diperoleh dari negara penjajah pun sangat berliku.

Semula Tanzania bernama Tanganyika, dan sebelum Inggris mendudukinya, Jerman telah mendahuluinya pada perang Dunia I. Isu kemerdekaan mulai ditiupkan oleh Mwalimu Julius Kambarage Nyerere, seorang Katholik dan seorang guru, bersama Abdulwahid Sykes , Sekretaris Jamiatul Islamiyya fi Tanganyika mendirikan  Tangayika African National Union (TANU) pada tahun 1954. Pada tahun 1958 dan 1960, diadakan pemilihan umum, dan TANU memperoleh kemenangan yang sangat gemilang. Akhirnya pada tanggal 9 Desember 1961, Tanganyika memperoleh kemerdekaan dari Inggris, dan Zanzibar pada tanggal 19 Desember 1963.

Tanganyika dan Zanzibar menggabungkan diri menjadi United Republik of Tanganyika and Zanzibar pada tanggal 26 April 1964, dan pada tanggal 29 Oktober 1964 diubah menjadi United Repulic of Tanzania. Mwalimu Yulius K. Nyerere ditunjuk sebagai Presiden pertama, dan Wakil Presiden dijabat oleh Abedi Amani Karume dari Afr0-Shirazy Party, sekaligus sebagai Presiden Zanzibar. Pada tahun 1971, Abedi Amani Karume digantikan oleh Aboud Jumbe.

Pada tahun 1977, dua partai penguasa yaitu TANU dan Afro Shirazy Party bergabung menjadi sebuah partai baru yaitu Chama Cha Mapinduzi (CCM). Pada tahun 1984, Jumbe mengundurkan diri, dan posisinya digantikan oleh Ali Hassan Mwinyi.

Pada tahun 1985, Yulius K. Nyerere mengundurkan diri sebagai Kepala Pemerintahan Tanzania, dan kedudukannya digantikan oleh Ali Hassan Mwinyi, sedangkan Wakil Presiden dijabat oleh Idriss Abdul Wakil, sekaligus merangkap sebagai Presiden Zanzibar. Pada tahun 1990, Abdul Wakil digantikan oleh Salmin Amour.

Pada tahun 1992, Ali Hassan Mwinyi membuat sejarah baru dengan membuka kran demokrasi di Tanzania, sehingga terbentuklah 13 parpol baru di negara tersebut. Ali Hassan Mwinyi pada tahun 1995 mengundurkan diri, dan akhirnya pada tanggall 23 Nopember 1995, Benjamin William MKAPA dari CCM terpilih sebagai Presiden United Republik of Tanzania dan terpilih kembali pada tanggal 20 Oktober 2000. Pada tanggal 5 Juli 2001, Dr. Ali Mohammed SHEIN terpilih sebagai Wakil Presiden.

Perkembangan Islam di Tanzania

Islam masuk ke Afrika Timur (Tanzania, Uganda dan Kenya) pada abad ke-8. Para arkeolog telah menemukan beberapa peninggalan Islam, antara lain koin emas, perak dan tembaga terbitan tahun 830, dan sebuah masjid tertua di Kizimkazi, tenggara Zanzibar, dibangun pada tahun 1007. Pada tahun 1332, Ibn Batuta pernah berkunjung ke Tanzania dsan Zanzibar, dan menyatakan bahwa hampir sebagai besar penduduk pantai Afrika Timur adalah Muslim, dan bahasa Arab dijadikan sebagai bahasa literature dan perdagangan. Ketika itu, lautan India disebut sebagai ‘Laut Muslim’.

Sultan Sayyid Said dari Dinasti Busaid yang berkedudukan di Muscat, Oman, pada tahun 1832 pernah memimpin Zanzibar, dan kesultanan ini bertahan hingga 132 tahun. Pengaruh kesultanan Sayyid Said berkembang hingga mencapai Kenya dan negara-negara pantai timur Afrika lainnya. Karena pengaruh yang sangat kuat, bahasa Arab diadopsi oleh penduduk asli Tanzania dan Zanzibar (Negro Bantu) menjadi bahan dasar bahasa lokal dengan sebutan Kiswahili atau Swahili. Mereka menyebutnya sebagai Afro-Islamic Language. Mereka sangat bangga karena bahasa Swahili menjadi salah satu dari tujuh bahasa utama di dunia. Bahasa Swahili sebagai bahasa komunitas Islam Afrika Timur diadopsi oleh banyak negara Afrika, antara lain Kenya, Uganda, Kongo, Madagaskar, Mauritius, dan beberapa suku di Afrika tengah dan barat.

Pada abad ke-16, Portugal menyerang pantai timur Afrika, dan akhirnya Portugal mengelola pantai timur Afrika pada abad 17 – 18. Pada abad ke-19, Jerman dan Inggris mulai mengikuti jejak Portugal. Seiring masuknya orang-orang Eropa ke Tanzania, maka peta pemeluk agama di sana juga berubah. Para missionaries Kristen professional sangat gigih menyebarkan ajaran Nabi Isa, sehingga akibatnya terjadi benturan-benturan dengan kaum muslim di sana. Perang Maji Maji terjadi pada tahun 1905, ketika Jerman menduduki Tanganyika, sehingga terjadi pembunuhan terhadap beberapa misionaris Kristen.

Ketika Inggris menggantikan Jerman setelah Perang Dunia I berakhir, penyebaran agama Kristen semakin hebat. Karena dianggap tidak menguntungkan bagi perkembangan Islam di sana, beberapa tokoh Islam Tanganyika, maka pada tahun 1929 African Association, dan berlanjut pada tahun 1933 berdiri Jamiatul Islamiyya fi Tanganyika. Sebenarnya organisasi inilah yang membentuk Tanganyika African Association (TAA) cikal bakal Tanganyika African National Union (TANU). Hampir sebagian besar pendiri TAA adalah muslim (Abdullah Sykes, Sheikh Hassan bin Amir, Hamza Kobwama Mwapachu dan sebagainya), namun karena kelihaian Inggris sebagai penguasa saat itu yang menerapkan politik belah bambu dan memecah belah anak bangsa, justru yang didorong untuk menguasai TANU adalah Julius K. Nyerere, yang akhirnya menjadi presiden pertama Tanzania.

Pada tahun 1962 diadakan kongres organisasi masa Islam di Dar Es Salaam yang akhirnya sepakat dibentuk East African Muslims Welfare Society (EAMWS).

Karena politik devide at impera yang diterapkan oleh Inggris, pada akhirnya ummat Islam di Tanzania, di luar Zanzibar, tertinggal sangat jauh dengan ummat Kristen dalam mengejart pendidikan, yaitu 1 : 10, walaupun jumlah penganut Islam lebih banyak dibanding penganut Kristen 35% : 30%.

Membicarakan Islam di Tanzania, berarti membicarakan Zanzibar sebagai tempat bermulanya Islam menyebar di Afrika Timur. Pada masa kolonial, Islamisasi di Tanzania datang dari Zanzibar, ketika itu dipelopori oleh Sheikh Muhyidin bin Sheikh bin Abdullah al-Qahtany (1789-1869). Beliau adalah Perdana Menteri sekaligus Chief Qadhi (ketua Hakim) di Zanzibar pada pemerintahan Sultan Said bin Sultan. Al-Qahtani banyak menulis buku dalam bahasa Arab, antara lain Takalibun al-Haruf. Buku ini sangat terkenal di Barat, karena membahas mengenai grammar bahasa Arab (nahw). Kitab lainnya yang terkenal di Barat yang ditulis oleh al-Qahtany adalah as-Sulwa fi Akhbar Kilwa.

Islam di Zanzibar memang sangat hebat dan mayoritas (95%), namun gangguan tetap muncul dari kaum Nasrani. Karena perkembangan Islam di Zanzibar maupun Tanzania, dianggap sebagai ancaman bagi perkembangan agama Katholik. Oleh karena itu mereka mengobarkan perang Salib (crusade). Yulius Nyerere, bersama Milton Obote, Presiden Uganda, dan Yomo Kenyatta, Presiden Kenya, sangat gigih mengobarkan perang salib ini. Salah satu bukti sejarah yang penting untuk dicatat adalah ketika John Okello, seorang Kristen militant dari Uganda, pada tanggal 11 Januari 1964 tengah malam menyerang Zanzibar. Okello dibantu para martir dari Tanganyika (sekarang Tanzania), Kenya, Uganda, Zimbabwe, Malawi dan Mozambique serta merta membantai 13.635 penduduk Muslim.

Gerakan bawah tanah Okello di Zanzibar ini terinspirasi oleh pemikiran Oscar Kambona, tangan kanan Yulius Nyerere, yang menyatakan pada Second World Conference of Churches tahun 1910, bahwa Islam merupakan ancaman terbesar bagi perkembangan agama Katholik di Afrika Timur. Oleh karena itu perkembangannya harus dihalangi. Rangkaian kejadian yang memusuhi keberadaan Islam di Tanzania, atau Afrika Timur pada umumnya, tak lepas dari peran Yulius Nyerere, mantan Presiden dan Bapak Tanzania. Oleh ummat Islam Tanzania dan Zanzibar, Yulius Nyerere dianggap sebagai ‘otak’ (mastermind) gerakan bawah tanah (clandestine) Revolusi Zanzibar yang dikobarkan oleh John Okello.

Namun dengan kejadian ini, bukan berarti ummat Islam di Tanzania (termasuk) mengendur menghadapi ‘keganasan’ ummat Katholik, sebaliknya, mereka semakin gigih memperjuangkan keberadaan Islam di sana, termasuk memperjuangkan hukum islam di seantero Tanzania. Pada tahun 1988 demonstrasi yag diusung oleh kalangan muda Islam untuk memperjuangkan hukum Islam pecah di Zanzibar Tanzania. Akhirnya banyak tokoh Islam yang ditangkap antara lain adalah pemimpin karismatik Seif Shariff Hamad dam keenam koleganya. Mereka dianggap musuh negara, namun pejuang muda Muslim Tanzania dan Zanzibar menyebut mereka ‘pahlawan besar’.

Perjuangan ummat Islam di Tanzania tak beda dengan perjuangan ummat Islam di belahan dunia lainnya, karena secara geopolitik mereka menghadapi musuh yang sama, yaitu Barat (baca: Kristen), yang pengaruhnya menggurita ke mana-mana. Oleh karena itu, diperlukan keberanian yang luar biasa untuk melawannya, karena secara geopolitik pula, pihak Kristen mempunyai segala-galanya: politik, uang, senjata dan sumberdaya manusia yang nyaris sempurna.

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.