Islam di Chad

Ada dua peristiwa penting yang dialami Chad sebagai negara merdeka, pertama ketika Libya masuk ke negara tersebut pada tahun 1981, dan Kolonel Muammar al-Qaddafi menawarkan penggabungan antara Libya dan Chad, namun rencana tersebut digagalkan Perancis pada tahun 1987. Kedua pada tahun 2004, ketika pengungsi dari Darfur Sudan membanjiri Chad bagian utara. Sebagaimana diketahui pengungsi dari Darfur Sudan adalah akibat pertikaian antara penduduk muslim asli Afrika dengan penduduk keturunan Arab di Sudan. Ditengararai mereka memperebutkan air, tanah dan tambang minyak.

Chad terletak di Afrika tengah seluas Alaska, berbatasan dengan Libya, Sudan, Niger, Nigeria, Kamerun dan Republik Afrika Tengah. Chad sangat terkenal di Afrika tengah, barat dan utara, karena keberadaan Danau Chad, sekaligus sebagai tempat berdirinya imperium Kanem-Bornu pada abad ke-11 yang kejayaannya meluas sampai ke Nigeria, Niger, dan Mali. Negara ini mempunyai luas wilayah 1.284.000 km2, beriklim tropis di selatan dan kering di utara, berpenduduk sebanyak 9.253.493 jiwa, dengan angka pertumbuhan sebesar 3,07% per-tahun, angka kelahiran 47,06 per-1000, dan angka kematian 16,38 per-1000. Ada sekitar 200 etnis di Chad, namun secara garis besar etnis di Chad terbagi dalam 2 (dua) etnis besar, yaitu Arab dan Gorane mendominasi wilayah bagian utara yang mayoritas muslim, dan Sara di sebelah selatan yang mayoritas Kristen dan animis. Bahasa nasional mereka adalah Perancis, Arab dan Sara.

Ekonomi
80% penduduk Chad menyandarkan hidupnya sebagai petani, oleh karena itu Chad menyandarkan perekonomiannya pada pertanian, walaupun pada tahun 2000 Chad telah mulai melirik cadangan minyaknya, yang ditengarai sebesar 1 milyard barrel. Chad telah menginvestasikan dananya sebesar US $ 3,7 milyard, dalam rangka mengeksplorasi cadangan miyak tersebut. Angka pertumbuhan ekonomi rata-rata 7,4%, inflasi 6%, dan income per-capita US $ 1.200,- per-tahun. Produk pertanian Chad meliputi kapas, sorgum, kacang tanah, beras, taipoka, domba, kambing dan unta, sedangkan hasil tambang berkisar pada minyak, uranium, dan kaolin.

Komoditi ekspor Chad meliputi kapas, permen dan ternak, senilai US $ 365 juta, dengan Negara tujuan eksport Portugal, Jerman, Ceko, Perancis, Nigeria, Polandia, Spanyol dan Marokko. Sedangkan komoditi importnya adalah mesin dan alat tranpostasi, produk tekstil dan produk minyak senilai US $ 760 juta, dengan patner import Perancis, Amerika Serikat, Jerman dan Nigeria. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang Chad adalah Communauta Financiere Africaine Franc (XAF), dengan nilai US $1,- = 696,99 XAF.

Sejarah Pemerintahan
Nama lengkap Chad adalah Republic of Chad, dengan ibukotanya N’DJAMENA, terbagi dalam 14 prefectures. Chad memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 11 Agustus 1960. Di Borkou Chad, ditemukan fosil manusia purba berusia 3 juta tahun. Di sekitar danau Chad telah dihuni manusia sekitar 500 sebelum masehi, dan pada abad ke-8, suku Berber dari utara memulai migrasi yang pertama ke Chad. Pada abad ke-7 dan 8 kerajaan pertama didirikan di sebelah timur laut danau Chad yaitu kerajaan Kanem dan akhirnya berkembang menjadi kerajaan Kanem-Bornou. Kerajaan Kanem-Bornou mempunyai peran dan pengaruh yang kuat di Nigeria, Niger maupun Mali. Pada abad ke-16 muncul rival kerajaan Kanem-Bornou, yaitu Baguirini dan Ouaddai (Wadai). Ketiga kerajaan ini menguasai Chad sampai dengan abad ke-19. Perjuangan memperoleh kemerderkaan dari Perancis dilakukan sejak Perancis menginjakkan kakinya di Chad, antara lain dilakukan oleh Rabah Zobeir, yang terbunuh di Kousseri Kamerun pada tanggal 22 April 1900. Chad akhirnya dalam pengawasan Perancis, dan pada tahun 1905 secara administrative di bawah pemerintahan gubernur jendral Perancis yang berkedudukan di Brazzaville, Congo. Selama perang dunia kedua, Chad adalah koloni Perancis pertama yang dipimpin oleh gubernur jendral berkulit hitam pada tanggal 26 Agustus 1940, yaitu Felix Eboue. Pada tanggal 28 Nopember 1958, Chad menjadi anggota otonom dari masyarakat Perancis, dan pada tanggal 11 Agustus 1960, Chad mendapatkan kemerdekaannya, Sebagai presiden pertama ditunjuk Francois (Ngarta) Tumbalbaye.

Dengan memperoleh kemerdekaan, bukan berarti Chad telah reda dari pertikaian. Pada tahun 1965 terjadi perang sipil antara auku Muslim di utara dengan suku Kristen di selatan, yang kebetulan pada awal kemerdekaan memimpin negeri itu. Presiden Tombalbaye semakin brutal, dan akhirnya pada tahun 1975 terjadi kudeta yang dilakukan oleh Jendral Felix Malloum. Pertikaian dengan pihak utara semakin gawat, ketika Perdana Menteri Hissene Habre yang berasal dari utara Chad menguasai N’Djamena pada Pebruari 1979. Akhirnya Organisasi Uni Afrika (OAU) turun tangan, dan pada Agustus 1979 diadakan perjanjian damai di Lagos Nigeria, yang menunjuk Goukouni Oueddei sebagai presiden, Kolonel sebagai Wakil Presiden dan Hisine Habre sebagai Menteri Pertahanan. Pemerintahan koalisi ini tak bertahan lama, karena pada tahun 1980 terjadi pertikaian antara Goukouni Oueddei dengan Hissene Habre. Pertikaian ini berlanjut sehingga Libya ikut campur tangan, dan ingin menjadikan Chad sebagai bagian dari Libya. Rencana ini digagalkan Perancis pada tahun 1987, dengan dikembalikan Aouzou sebagai garis batas antara Chad dan Libya.

Pada April 1989, Idriss Deby salah seorang jendral pemerintahan Hissine Habre yang berasal dari suku Zaghawa membelot dan berada di Darfur Sudan untuk memulai penyerangan ke N’Djamena. Akhirnya setelah 3 (tiga) bulan bergerilya dengan dibantu pemerintah Libya, Idris Deby dapat menguasai Chad dan menggulingkan Hissene Habre. Pada tanggal 28 Pebruari 1991 dilantik menjadi Presiden. Beliau terpilih kembali sebagai presiden Chad pada tahun 1996 dan 2001. Saat ini, pemerintahan Chad dipegang oleh Muslim, namun bentuk pemerintahan tetap sekuler yang membebaskan semua agama berkembang di Chad. Dan sebagai bentuk kepedulian terhadap penderitaan sesama muslim, pemerintah Chad bersedia menerima pengungsi muslim dari Darfur Sudan.

Perkembangan Islam di Chad
Islam masuk Chad pada abad ke-11, tepatnya ketika Kerajaan Kanem-Borno di bawah kendali Umme-Jilmi pada tahun 1085-1097. Orang yang berjasa mengenalkan Islam di Chad adalah Muhammad B. Mani, sehingga raja Umme-Jilmi masuk Islam. Kerajaan Kanem-Borno mengalami masa kejayaannya ketika Mai Idris Aluma (Alooma) berkuasa pada tahun 1571-1603. Beliau ahli dalam berbagai hal, yaitu kemiliteran, administrasi pemerintahan dan ahli dalam ilmu-ilmu Islam. Beliau merangkul semua suku, yaitu Hausa di barat, Tuareg dan Toubou di utara dan Bulala di timur. Beliau aktif berdiplomasi dengan Negara tetangga, antara lain Libya, Mesir dan Kerajaaan Ottoman Turki. Di bawah pemerintahan Alooma, Kanem-Borno semakin kuat dan disegani. Kekuasaan Kerajaan Kanem-Borno meredup sejak tahun 1700. Namun pada abad ke-19, Kerajaan Kanem-Borno hidup kembali, setelah Muhammad al-Kanem berkuasa, dan diteruskan oleh Umar dan selanjutnya oleh Rabih Fadlallah, yang pada tahun 1893 berhasil mengusir Sudan dari Borno.

Islam di Chad meredup, gelap, tak dikenal dan kabur dalam rentang waktu yang panjang ketika Perancis menjajah negeri itu. Kegelapan Islam di Chad terhitung tahun 1900 s/d tahun 1979. Apalagi ketika agama Kristen mulai merasuk di Chad pada tahun 1920 – 1970.

Islam mulai bangkit ketika Chad memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 11 Agustus 1960. Ummat Islam Chad yang berjumlah 51%, mayoritas di utara serentak bangkit untuk merebut kekuasaan dari tangan Kristen yang dikuasai oleh suku-suku selatan Chad (35%). Apalagi Presiden Tombalbaye sangat kejam terhadap orang Islam di Utara. Kebangkitan Islam di Chad yang telah ratusan tahun menguasai Chad sejak abad ke-11, dimulai ketika tahun 1979 Perdana Menteri Hissene Habre mengadakan pemberontakan. Kekuatan Islam tak dapat dibendung, apalagi ketika Libya mulai masuk ke Chad pada tahun 1981-1987. Pada tahun 1990, kejayaan Islam merekah kembali di Chad, ketika Idris Deby yang berasal dari suku Zaghawa dilantik sebagai Presiden Chad, beliau berkuasa sampai saat ini. Walaupun Chad menjadi negara sekuler, namun Islam telah memperoleh segalanya. Mereka menguasai bidang kemiliteran, politik, social dan ekonomi. Hubungan dengan negara-negara Islam terbina semakin baik. Dengan demikian, perjuangan kerajaan Islam Kanem-Borno tak sia-sia, yang telah ratusan tahun menancapkan pengaruhnya di Chad. Kondisi ini berbeda dengan Nigeria yang mayoritas penduduknya beragama Islam, namun secara politis dikuasai oleh pihak Kristen, apalagi setelah Jendral Olesegun Obasanjo berkuasa kembali sebagai Presiden Nigeria.

Islam di Chad, Telah dimuat dalam Majalah AMANAH No. 55, Th. XVIII, Oktober 2004 / Sya’ban – Ramadhan 1425 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: