Islam di Georgia

Seandainya tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Georgia dan negara-negara di wilayah Balkan, tak akan pernah merdeka dan mungkin tak banyak dikenal secara luas seperti saat ini. Georgia dikenal sebagai negara pegunungan, karena dikelilingi oleh Pegunungan Kaukasus yang agung, sehingga menumbuhkan banyak sungai yang bermuara di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Orang-orang Georgia menyebut dirinya sebagai Kartvelebi, nama Georgia diberikan oleh para penduduk Eropa Barat, karena Santo (orang suci Katholik) St. George berasal dari daerah itu. Kerajaan kuno di Georgia telah dikenal pada abad ke-5 sebelum masehi, yaitu Kerajaan Colchis dan pada abad ke-3 sebelum masehi Kerajaan Kartli-Iberia, dan secara berurutan, Georgia pernah dikuasai oleh Arab, Persia, Turki dan Uni Soviet. Dengan luas wilayah 70.000 km2, dua kali luas wilayah Belgia atau Swiss, Republik Georgia mempunyai iklim yang moderat dan hangat. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Turki, Armenia, Azerbaijan dan Laut Hitam. Berpenduduk sekitar 4.677.401 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Georgia, Azeri, Armenia, dan Rusia, mayoritas beragama Kristen Ortodox (83,9%), Islam (10%) dan lainnya 7%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,35% per-tahun, angka kelahiran 10,25 per-1000, dan angka kematian 9,09 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Abkhazia, di samping bahasa Rusia, Armenia, dan Azeri.

Ekonomi
Walaupun Georgia masuk dalam wilayah Eropa Timur, namun kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (56,9%), industri (22,6%) dan pertanian (20,5%). Pada tahun 1995, Georgia mengajukan permohonan bantuan dana kepada IMF dan World Bank untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Ternyata pemerintahan Georgia dapat memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik. Indikatornya, pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,5%, inflasi hanya sebesar 5,5% dan income per-kapita sebesar US $ 3,100. Dengan angkatan kerja sebanyak 2 juta orang, 40% diserap oleh pertanian, jasa 40% dan industri 20%, Georgia merupakan salah satu negara di Eropa Timur yang cukup kaya. Produk pertaniannya berkisar pada jeruk, anggur, teh, kenari, sayuran dan binatang ternak. Sedangkan produk industrinya berkisar pada baja, pesawat terbang, alat permesinan, elektrik, tambang mangaan dan tembaga, kimia, produk perkayuan, dan anggur. Hasil komoditi yang dieksport besi tua, permesinan, kimia, minyak hasil olahan, buah jeruk teh dan anggur. Negara tujuan eksport adalah Turki, Rusia, Spanyol, Turkmenistan, Armenia dan Yunani. Sedangkan komoditi yang diimport adalah minyak, permesinan, peralatan transportasi, padia-padian dan produk makanan, serta farmasi. Import berasal dari Amerika Serikat, Turki, Rusia, Jerman, Inggris, Azerbaijan, Ukraina dan Italia. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Lari (GEL), dan US $ 1,- senilai 1,9167 Lari (GEL).

Sejarah Pemerintahan
Republic of Georgia dengan ibukotanya T’BILISI, terbagi dalam 9 regions, 9 cities dan 2 republik otonom (Abkhasia dan Ajaria), memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 9 April 1991.

Jauh sebelum memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet, pada abad ke-6 sebelum masehi, telah muncul sebuah negara pertama di Georgia, tepatnya di tepi Laut Hitam, yaitu Kingdom of Colchis dan diteruskan pada abad ke-3 sebelum masehi Kingdom of Kartli-Iberia. Selanjutnya Georgia mengalami zaman keemasan pada abad ke-11 dan ke-12 ketika King David the Buliders memerintah negara itu, yang kemudian dilanjutkan oleh cicit beliau Queen Tamara. Ketika mereka berkuasa, banyak dibangun gedung-gedung besar yang cantik seperti di Gelati dan Cardzia, serta suburnya karya kesusasteraan.

Setelah itu, kerajaan demi kerajaan terus berkembang di Georgia, antara lain pada abad ke-18 ketika King Taimuraz II dan Herekle II berkuasa, hingga King Solomon II yang memohon bantuan kepada Ratu Catherine dari Kerajaan Rusia, karena adanya penyerbuan tentara Turki. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1800, Tsar Paul I dari Kerajaan Rusia menganeksasi Georgia, dan untuk seterusnya, Georgia berintegrasi pada sistem pemerintahan Rusia, termasuk ketika Rusia berubah menjadi motor penggerak paham Marxis, dikenal dengan Revolusi Bolshevicks yang dikomandoi Lenin pada tahun 1917.

Integrasi dengan Uni Soviet berakhir, ketika Gorbachev mencanangkan program perestroika pada tahun 1990, yang mengakibatkan seluruh negara di sekitar Balkan yang tadinya berintegrasi dengan Uni Soviet memerdekakan diri. Pada tanggal 9 April 1991, Georgia memproklamirkan kemerdekaannya dari Uni Soviet, dan terpilih sebagai Presiden pertama Zviad Gamsakhurdia. Pemerintahan Gamskhurdia tak berumur panjang, karena pada tahun 1992 terjadi kemelut hebat, sehingga pemerintahan berpindah ke Parlemen, dan Edward Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet diangkat sebagai Presiden. Pemerintahan Shevardnadze berakhir setelah terjadi Revolusi Bunga pada tahun 2004, dan akhirnya Mikheil Saakashvili terpilih sebagai presiden hingga saat ini.

Perkembangan Islam di Georgia
George Sanikidze dan Edward W. Walker, dari University of California, Berkeley, penulis artikel Islam and Islami Practices in Georgia, memberikan ilustrasi panjang lebar tentang Islam di Georgia.

Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad, dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade.

Islam masuk ke Georgia pada abad ke-8 masehi, ketika Arab menduduki Tbilisi selama 4 dekade, dan menjadikannya sebagai ibukota emirat Islam (Nisba’ at-Tiflisi). Namun kota ini direbut kembali oleh King David IV pada tahun 1122, dan dijadikan ibukota kerajaan Kristen Georgia. Namun pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia, ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan, sehingga ketika Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia mencapai jumlah 20%. Namun pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia sekitar 12% (640.000). Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (madzhab Hanafi dan Syafi’i) dan Syi’ah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia adalah di Republik otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia.. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk Republik otonom Ajaria adalah Kristen, namun ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, dan puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut. Islam di Ajaria mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet mencengkeram Georgia dengan ajaran komunismenya, dan tekanan semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua. Akibatnya banyak praktek agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda, kini setelah Uni Soviet bangkrut, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Yang paling menyakitkan hati ummat Islam Ajaria adalah murtadnya tokoh politik muslim, mantan presiden otonom Ajaria, Aslan Abashidze, ke agama Kristen (tak disebutkan, tahun berapa beliau murtad). Menyusul murtadnya Aslan Abashidze, menurut laporan yang sangat terpercaya, pembangunan masjid pun mandeg selama beberapa tahun belakangan ini di Ajaria. Di Ibukota Batumi, hanya terdapat sebuah masjid, padahal gereja berdiri kokoh sebanyak 14 buah.

Islam terusir dari Abkhazia ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an, dan memang pemeluk Islam di Abkhazia berasal dari Turki yang biasa disebut Mohajiroba. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktekkan Islam sesuai dengan madzhab Sunni (Hanafi). Sebagaimana di Ajaria, banyak muslim Abkhazia yang murtad ke Kristen, puncaknya ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 muslim beralih ke Kristen. Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah atheis dan tak mampunyai kepercayaan, agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi muslim di Meskhetia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersedbut pada abad ke-16. Pengaruh Turki sangat kuat, sehingga mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka, karena nama-nama Georgia berarti Kristen. Selama perang dunia kedua, banyak warga muslim Turki yang dideportasi ke negara asal, sekitar 100.000 orang, dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969. Repatriasi ini beralnjut sampai dengan tahun 1989, dan selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Ministry of Refugees and Settlement.

Sedangkan ditinjau dari etnis, banyak muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Kebanyakan etnis yang menempati Georgia bagian timur banyak menganut paham sufi (Naqsabandiyah dan Qadiriyah).

Pada saat ini, pemerintah Georgia lebih menekankan pada toleransi dalam kehidupan beragama, oleh karena itu para pemimpin Islam di sana menyadari terhadap perubahan situasi, walaupun pada masa lalu, mereka pernah berjaya di Georgia.

Islam di Georgia, telah dimuat di Majalah Amanah, No 65, th XIX Agustus 2005 / Jumadil Akhir – Rajab 1426 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: