Islam di Guinea

Guinea terletak di pantai Atlantik, Afrika Barat, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Senegal, Guinea Bissau, Mali. Cote d’Ivoire (Pantai Gading), Liberia dan Sierra Leone. Sesungguhnya, daerah yang disebut sebagai Guinea adalah hasil pertikaian politik yang panjang sekitar abad ke-10 sampai dengan abad ke-15 antara kerajaan Ghana, Mali dan Songhai. dan berkahir setelah orang Eropa, khususnya bangsa Portugis menguasai pantai Guinea. Pada abad ke-18, salah satu anak suku Fulani, yaitu Futa Djalon menguasai Guinea dengan mendirikan negara teokrasi muslim. Namun pada pertengahan abad ke-19, Perancis mendominasi Guinea, ketika mereka berhasil mengalahkan pemimpin Malinke, Almamy Samory Toure pada tahun 1898.

Dengan wilayah seluas 245.857 km2, negara seluas negara bagian Oregon, Amerika Serikat, beriklim panas, lembab, musim hujan pada bulan Juni sampai Nopember, dan musim kering pada bulan Desember sampai Mei. Dihuni sekitar 9.246.462 orang (Fulani/Peuhl 40%, Malinke/Mandingo 30%, Soussou/Susu 20% dan suku lain 10%), dengan pertumbuhan rata-rata 2,37% per-tahun, dengan angka kelahiran 42,26 per-1000, angka kematian 15,53 per-1000. Agama Islam dianut oleh sebagian besar penduduk Guinea (85%), 8% Kristen dan penganut kepercayaan setempat 7%. Bahasa nasional mereka adalah Perancis.

Ekonomi
Guinea memiliki kekayaan yang melimpah, baik mineral, hydropower maupun hasil pertanian. Negara ini memiliki 30% tambang bauxite dunia, dan termasuk negara penghasil bauxite kedua terbesar di dunia. Pada tahun 1999, hasil export bauxite memberikan sumbangan sebanyak 75% dari total eksport Guinea. Mempunyai angka pertumbuhan rata-rata 3% dan inflasi cukup tinggi sekitar 14,8%. Jumlah angkatan kerja sebanyak 3 juta orang, yang diserap oleh sector pertanian sebanyak 80% serta industri dan jasa sebesar 20%. Hasil pertanian berkisar pada beras, kopi, nenas, tapioca, pisang, kentang manis, peternakan biri-biri dan kambing serta kayu. Sedangkan hasil industri berkisar pada bauxite, emas, berlian, aluminium, dan hasil indusrtri pertanian. Hasil komoditi yang dieksport adalah bauxite, emas, eluminium, berlian, kopi, ikan serta produk pertanian. Tujuan eksport adalah Korea Selata, Spanyol, Amerika Serikat, Perancis, Rusia, Ukraina, Irlandia, Belgia, dan Jerman. Sedangkan komoditi yang diimport adalah produk minyak, mesin, tekstil, metals, dan peralatan transportasi. Komoditi import berasal dari Perancis, Cina, Belgia, Italia, Belanda, Inggris, Pantai Gading dan Amserika Serikat. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Guinea France (GNF), 1 GNF senilai US $ 1,975.84.

Sejarah Pemerintahan
Nama lengkap Guinea adalah Republic of Guinea, terbagi dalam 33 prefectures (semacam propinsi) dan satu special zone, dengan ibukotanya CONAKRY. Memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958, dengan menggunakan system hokum yangv diadopsi dari system hokum sipil Perancis. Tak beda dengan negara tetangganya, tuntutan kemerdekaan telah dimulai ketika pemimpin suku Malinke (Mandingo), Almamy Samory Toure memerangi bangsa Perancis pada abad 19, namun Almamy dapat ditakllukkan. Sebenarnya Guinea pada abad ke-18 telah mempunyai pemerintahan dengan system teokrasi muslim yang dipelopori oleh Futa Djalon (suku Fulani), namun pemerintahan ini takluk di bawah kekuasaan penjajah.

Perjuangan Almamy Samory Toure dalam mengusir penjajah Perancis dilanjutkan oleh cucunya sendiri, yaitu Ahmed Sekou Toure pada abad 20, tepatnya pada tahun 1957, ketika beliau memenangkan 56 kursi dari 60 kursi yang diperebutkan di Parlemen. Ahmed Sekou Toure akhirnya dilantik menjadi Presiden, ketia Guine memperoleh kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 2 Oktober 1958. Ahmed Sekou Toure menganut paham komunis, sehingga ketia beliau berkuasa, Guinea menjadi negara dengan system satu partai dan sangat dictator, menganut ekonomi sosialis serta tak ada toleransi dalam hak azasi manusia, kebebasan berpendapat atau partai oposisi. Pada akhirnya, Guinea diisolasi oleh dunia. Karena melihat situasi Negara yang tidak mnguntungkan tersebut, pada tanggal 10 April 1984, Letnan Kolonel LANSANA CONTE (berasal dari suku Susu) mengambil alih kekuasaan dari tangan Ahmed Sekou Toure (seminggu setelah beliau wafat). Setelah Lansana Conte berkuasa, maka kran kebebasan dibuka seluas-luasnya, termasuk diizinkannya berdirinya partai politik baru. Pada tahun 1990 dibentuk Parlemen dan Pengadilan baru, dan pada tahun 1993 diadakan pemilihan presiden. Pada pemilihan presiden terakhir yang diadakan pada tanggal 21 Desember 2003, Lansana Conte terpilih kembali sebagai Presiden Guinea hingga tahun 2008.

Perkembangan Islam di Guinea
Islam masuk Guinea pada abad ke-10, ketika kerajaan Malinke, Shonghai maupun Ghana berkuasa di sana. Oleh karena itu, suasana keberagamaan di negara itu sangat kental diwarnai oleh Islam (85%). Seperti Indonesia, pejuang-pejuang kemerdekaan Guinea juga banyak dilakukan oleh pejuang-pejuang Islam, dan yang sangat terkenal adalah Almamy Samory Toure. Sebagaimana telah diuraikan pada awal tulisan ini, salah satu suku di Guinea yaitu suku Fulani, yang dipolopori oleh Futa Djalon, telah berhasil mendirikan pemerintahan di Guinea dengan system pemerintahan teokrasi Islam. Dengan demikian, tak dapat diragukan lagi, bahwa pengaruh Islam sangat kuat di Guinea.

Suku Fulani (Fulbe/Peuhl) yang berasal dari Afrika Tengah yang beragama Islam, bermigrasi ke Guinea pada abad ke-15, dan dikenal dengan Fouta Djalon. Pada tahun 1720-an, Fouta Djalon telah mengumdangkan ‘jihad’ (perang suci bagi ummat Islam) dalam rangka mendirikan sebuah pemerintahan berdasarkan Islam (teokrasi). Pemimpin Fouta Djalon yang sangat terkenal adalah Karamoko Alfa, yang dikenal dengan sebutan Almaamis. Karamoko Alfa sekaligus sebagai pemimpin, pendiri negara dan memerintah suku muslim Fulani (Fulbe). Perjuangan ini diteruskan oleh Alfa Yaayaa, seorang pemimpin kuat yang berusaha mengusir penjajah Perancis, dan akhirnya dipenjara pada tahun 1905. Dibanding dengan para tetangganya, Guinea termasuk negara Islam yang tak begitu terpengaruh dengan aliran sufi, mereka banyak dipenuhi oleh kemauan jihad Islam yang menggebu dan dikenal sangat heroik. Namun tak beda dengan Indonesia, saat ini ummat Islam Guinea juga menghadapi gencarnya misiionaris Kristen yang dimotori oleh Christian Reformed World Missions. Suku Fulani atau Fulbe (Futa Djalon) tempat tumbuhnya ‘jihad Islam’ yang dimotori oleh Almamy Samoty Toure, menjadi sasaran mereka. Sebanyak 300.000 penduduk Fulani/Fulbe yang terkonsentrasi di Guinea tengah diharapkan dapat dikristenkan. Mereka telah berusaha menancapkan pengaruhnya melalui ‘penterjemahan Bible ke dalam bahasa Pular, mendirikan radio dan mengembangkan kesusastraan atau artikel-artikel untuk konsumsi para murid sekolah dasar dan menengah.’ Dan pada kenyataannya, memang makin banyak suku Fulani/Fulbe yang tertarik masuk Kristen. Oleh karena itu, merupakan perjuangan berat bagi para ulama dan pemimpin Islam di Guinea untuk membendungnya. Dan alhamdulillah, para pemimpin Islam dan ulama di negara-negara teluk mengantisipasi keadaan tersebut, dan mereka berusaha membujuk para ’murtadin’ untuk kembali ke pangkuan Islam.

Artikel tersebut telah dimuat di majalah Amanah No. 58 TH XVIII Januari 2005 / Dzulqa’dah- Dzulhijjah 1425 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: