Islam di Kamerun

Kamerun (Cameroon) adalah sebuah negara di Afrtika Barat, sedikit lebih besar dari California, menurut para ahli arkeologi telah dihuni manusia sejak 50.000 tahun yang lalu. Pada abad ke-5 sebelum Masehi, suku Hanno dari Kartago (Tunisia sekarang), orang asing pertama yang memasuki Kamerun, dan selama berabad-abad mengeksplorasi perdagangan budak. Pada abad ke-2 sampai dengan abad ke-1 sebelum Masehi, suku Bantu (dikenal dengan sebutan Pygmi) yang berasal dari Nigeria Utara mulai berimigrasi ke Kamerun (dikenal dengan Cameroon Highlanders), mereka ahli dalam pertanian. Para pedagang dari Arab yang sekaligus menyebarkan Islam datang ke Kamerun pada abad ke-10. Mereka berdagang emas, garam, tembaga dan budak. Orang barat pertama yang memasuki Kamerun adalah Fenando Po, dari tim ekspedisi Portugis pada tahun 1472, mereka mendarat di sebuah pantai di Kamerun. Dinamakan Kamerun, karena orang Portugis melihat banyak udang di perairan Kamerun, sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (the Prawn River).

Kamerun juga dikenal mempunyai tradisi sepakbola yang handal, sejak diperkenalkan oleh Jerman pada tahun 1926. Pernah menjuarai Piala Afrika sebanyak 5 kali (1965-1980), dan terakhir, Kamerun dikenal dunia karena menjadi peserta pada Worldcup sejak tahun 1982. Kamerun juga banyak menelorkan pemain kelas dunia antara lain Roger Milla, Patrick Mboma, dan Samuel Eto’o.

Dengan wilayah seluas 475.440 km2, beriklim tropik dan kering, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon dan Equatorial Guinea. Berpenduduk padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri dari suku asli Afrika (black African) sebanyak 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku asli Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang dari Eropa dan Arab. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 1,97% per-tahun, angka kelahiran 35,08 per-1000, dan angka kematian 15.34 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik dan Protestan) 40% dan animis 40% Bahasa nasional mereka adalah Inggris dan Perancis di samping bahasa lokal (24 bahasa).

Ekonomi
Kamerun termasuk salah satu negara sub-Sahara Afrika yang sangat beruntung, karena mempunyai sumber minyak dan hasil pertanian yang melimpah. Namun sebagaimana negara berkembang lainnya, Kamerun mempunyai banyak problem, antara lain pelayanan sipil yang kurang memadai, iklim bisnis yang kurang kondusif, mengakibatkan Kamerun tersendat dalam kemajuan ekonominya. Oleh karena itu, pada tahun 1990, Kamerun meminta bantuan IMF dan Bank Dunia untuk ikut merancang program yang meliputi investasi bisnis, efesiensi kinerja pertanian, improvisasi perdagangan dan rekapitalisasi bank-bank nasional. Dan akhirnya, pada tahun 2000, IMF memberikan sponsor program penyesuaian struktur ekonomi yang meliputi: transparansi anggaran, privatisasi dan program reduksi kemiskinan

Angka pertumbuhan ekonomi berkisar 4,2% per-tahun, dengan angka inflasi hanya satu digit, yaitu 2,3%, dan pendapatan per-kapita mencapai US $ 1,800,-menjadikan Kamerun sebagai negara yang ideal sebagai tempat investasi. Angkatan kerja berkisar 6,5 juta orang, yang diserap oleh sektor pertanian sebanyak 70%, industri dan jasa 13%, lain-lain 17%. Hasil pertanian berkisar pada kopi, coklat, kapas, karet, pisang, minyak biji-bijian, padi-padian, kayu dan hewan ternak. Sedangkan hasil industrinya berkisar pada produk minyak dan penyulingan, makanan olahan, tekstil dan kayu olahan. Hasil komoditi yang dieksport adalah minyak mentah dan produk olahannya, kayu olahan, biji coklat, alumunium, kopi dan kapas. Tujuan eksport adalah Spanyol, Italia, Perancis, Belanda, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin, peralatan listrik, peralatan transportasi, makanan dan bahan bakar minyak. Import berasal dari Perancis, Nigeria, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan Cina. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Comnmunaute Financiere Africaine Francs (XAF), dan US $ 1,- berharga 581.2 XAF.

Sejarah Pemerintahan
Republic of Cameroon (Republik Kamerun), ibukotanya YAOUNDE (semula beribukota di Buea), terbagi dalam 10 propinsi. Sebelum orang-orang Portugis menemukan Kamerun pada abad ke-15 (1472), para pedagang Arab dan orang-orang Islam telah memasuki Kamerun dari arah utara (Sahara) pada abad ke-10. Mereka berda’wah sambil berdagang emas, perunggu, tembaga, garam, dan budak. Oleh karena itu, Islam sangat kuat di bagian utara dan tengah Kamerun. Portugis adalah kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu sekitar abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini datang ke Kamerun untuk memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), dan Kamerun dijadikan protektorat Inggris. Namun pada tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian dengan Raja Doula, dan pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris dan Perancis berhasil mengusir Jerman dari Kamerun, kedua negara terakhir berbagi kekuasaan di Kamerun. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai setelah perang dunia kedua, yaitu ketika pada tahun 1955 muncul revolusi di daerah kekuasaan Perancis yang dipelopori oleh Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori oleh suku Bamileke dan Bassa.

Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati dari suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya l’Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pmerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, karena penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen dan berbahas Perancis belum bisa menerima kemerdekaan. Untuk itu, pemerintah Kamerun di bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum adalah, penduduk bagian utara yan didominasi Islam dan berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung dengan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, ketika disepakati adanya konstitusi baru yang pada intinya membentuk Republik Kesatuan Kamerun.

Pada pemerintahan Ahijo ini ada dua hal yang perlu dicatat, yaitu pertama mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Perancis, kedua berhasil memajukan pertanian dan industri, sehingga Kamerun menjadi negara Afrika termakmur (ekonomi stabil) dan menjadi salah satu negara Afrika yang mempunyai income per-kapita tertinggi.

Pada tanggal 6 Nopember 1982, Ahijo mengundurkan diri sebagai presiden karena alasan kesehatan, dan digantikan oleh PAUL BIYA. Ahijo wafat di Dakar, Senegal pada tanggal 30 Nopember 1989. Pada tahun 1988, Paul Biya terpilih kembali sebagai presiden dengan perolehan suara 98,75%. Seiring demokrasi yang semakin tumbuh di Kamerun, maka pada tahun 2004, diadakan pemilu multipartai, dan Paul Biya, sekali lagi tetap terpilih sebagai presiden, dengan peroleh suara 70,90%. Saat ini Kamerun sedang menghadapi persoalan-persoalan perbatasan dengan Nigeria, Chad dan Equatorial Guinea.

Perkembangan Islam di Kamerun
Sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan, Islam telah masuk ke Kamerun pada abad ke-10, ketika para pedagang Arab melalui Sahara memasuki Kamerun bagian utara. Di samping mereka berdagang (emas, garam, tembaga, perunggu dan budak), mereka juga mengenalkan Islam (da’wah) pada penduduk pribumi. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara dan tengah hingga kini. Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang pada abad ke-19, namun hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat Kamerun.

Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin oleh dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger maupun Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun ini berlanjut hingga abad ke-15. Islam menjadi kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, ketika suku Fulani (Fulbe) menguasai daerah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yang meliputi Kamerun dan Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus sebagai Gubernur propinsi Adamawa. Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai saat ini menguasai pemerintahan modern di Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun dan Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani telah mengekspansi Kerajaan Bamoun yang didirikan oleh Nshare Yen, dan kerajaan Bamoun baru menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Sepakterjang suku Fulani, yang notabene adalah Islam, sangat diakui keberadaannya di Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani adalah El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani dan terpilih sebagai presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak dapat diteruskan oleh kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya.

Pada pemilu 2004, salah seorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih sebagai presiden Kamerun, dan hanya memperoleh suara 4,5%. Padahal beliau adalah tokoh muslim Kamerun saat ini, dan mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, antara lain, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih banyak lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya.

Perjuangan Islam di Kamerun saat ini memang tergolong berat, karena sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini disebabkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Namun, apapun yang terjadi, Islam di Kamerun telah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan ummat Islam di sana, tentu tak akan tinggal diam, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.

Islam di Kamerun, telah dimuat di majalah Amanah No. 63 TH XVIII Juni 2005 / Rabiul Akhir – Jumadil Awal 1426 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: