Islam di Rwanda

Rwanda terletak di sebelah selatan Uganda, termasuk dalam lingkaran Afrika Tengah. Rwanda menghentak dunia, karena pertikaian antar suku yang begitu hebat pada tahun 1994, sangat mencekam dan tidak berperikemanusiaan serta tak ada duanya di muka bumi. 800.000 nyawa lenyap (genocide), kebanyakan dari suku Tutrsi, suku minoritas di Rwanda, namun menguasai hampir seluruh aspek kehidupan di sana. Dalam keadaan masyarakat yang centang perenang dipenuhi dengan rasa permusuhan, muncul Islam sebagai agama penolong dan penengah di antara mereka yang bertikai (suku Hutu dan Tutsi). Sungguh luar biasa.

Rwanda negara bekas jajahan Belgia, berbatasan berbatasan dengan Uganda, Tanzania, Republik Ddemokratic Congo, da Burundi, mempunyai luas swilayah sekitar 26.338 km2, dan beriklim sedang, berpenduduk 7.810.056 jiwa, 100% berpenduduk asli Afrika (Hutu 84%, Tutsi 15% dan Twa 1%). Angka pertumbuhan penduduk rata-rata 1,84% per-tahun, angka kelahiran 40,1 dan angka kematian 21,72 per-seribu. Jumlah penganut Islam hanya 4,6%, sedangkan Kristen Katolik 56,5%, Protestan 26%, Advent 11,1%, 0,1%, dan tidak beragama 1,7%. Bahasa nasional mereka adalah Kinyarwanda, Perancis dan Inggris, sedangkan bahasa Kiswahili atau Swahili digunakan untuk dunia perdagangan.

Ekonomi
Rwanda dikatregorikan sebagai negara miskin di dunia, 90% kehidupan penduduk ditopang oleh pertanian. Kehidupan mereka semakin menggenaskan setelah terjadi genocide pada tahun 1994. Dan pada gilirannya negara ini bergantung pada IMF. Namun anehnya, negara ini mempunyai pertumbuhan yang fantastis pada tahun 2002, yaitu sekitar 9,7%, dan inflasi hanya 5,5%, dengan penghasilan rata-rata per-penduduk US $ 1,200,- per-tahun. Angkatan kerja diserap oleh sektor pertanian sebesar 90%. Hasil industri berkisar pada produk-produk pertanian, semen, sabun, furniture, sepatu, tekstil dan rokok, sedangkan hasil pertanian unggulan adalah teh, kopi, pyrenthrum, pisang, kacang, sorghum dan kentang.

Angka eksportnya sebesar US $ 68 juta, dan import sebesar US $ 253 juta.. Komoditi eksport adalah teh, kopi, kulit, dan timah. Patner ekspor adalah Indonesia, Jerman, Hongkong dan Afrika Selatan. Sedangkan komiditi import adalah bahan makanan, mesin dan peralatan, baja, minyak, dan bahan konstruksi. Patner importnya adalah Kenya, Jerman, Belgia dan Israel. Mata uangnya Kenya adalah Rwandan Franc (RWF), $ US 1,- = 475,37 RWF.

Sejarah Pemerintahan Nama lengkap Rwanda adalah Rwandese Republic, dengan ibukotanya KIGALI, terbagi dalam 12 prefecture. Rwanda memperoleh kemerdekaan dari Belgia pada tanggal 1 Juli 1962.

Pada tahun 1890, Rwanda di bawah kendali Jerman, dan pada tahun 1918 sesuai perjanjian Versailles (Treaty Versalles), Jerman menyerahkan Rwanda dan Urundi (Burundi) kepada Belgia, yang ketika itu di bawah monarki Tutsi (suku minoritas. Pada tahun 1926, kolonialis Belgia memberlakukan system kartu identitas etnik Tutsi dan Hutu. Pada tahun 1957 dibentuk Partai Emansipasi Hutu, dan pada tahun 1959, etnis Hutu menyerang kolonial Belgia dan elit Tutsi, yang mengakibatkan 150.00 suku Tutsi hengkang ke Burundi. Pada tahun 1960, etnis Hutu memenangkan pemerintahan kota. Tahun 1961-1962, kolonial Belgia pergi, dan Rwanda Burundi menjadi dua negara terpisah. Terpilih sebagai presiden pertama Rwanda, 1 Juli 1962, adalah Gregoire Kayibanda (Hutu), dan pertikaian terhadap suku Tutsi tetap berlanjut, sehingga banyak warga Tutsi yang melarikan diri ke Burundi. Perikaian ini berlanjut terus hingga pada tahun 1975 ketika Jendral Juvenal Habyarimana terpilih sebagai presiden, dan membagi kekuasaannya kepada suku Tutsi yang hanya berjumlah 9%. Pada tahun 1986 terbentuk Rwandan Patriotic Front (RPF) yang dikendalikan suku Tutsi, berpangkalan di Uganda.

Pada tanggal 6 April 1994, Presiden Habyarimana dan Presiden Burundi, Cyprien Ntarymira terbunuh, ketika pesawat yang ditumpangi mereka sekembalinya dari Tanzania menghadiri Arusha Peace Accords ditembak jatuh oleh para ekstrimis Hutu. Malam harinya dimulailah pembunuhan besar-besaran terhadap suku Tutsi dan suku Hutu moderat oleh Hutu ekstrim dan akibatnya tak kurang dari 800.000 jiwa melayang, 2 juta suku hutu mengungusi ke Burundi, Tanzania, Uganda dan Zaire (Republik Demokratik Kongo) dan jutaan lainnya kehilangan tempat tinggal. Suatu tragedi kemanusiaan yang tak ada duanya.

Pada akhirnya suku Tutsi memberontak di bawah komando Paul Kagame dan berhasil menguasai Rwanda. Pasteur Bizimungu dari suku Hutu dilantik sebagai Presiden menggantikan Habyarimana yang tewas, dan Pauil Kagame diangkat sebagai Wakil Presiden. Pada pemilu 22 April 2000, Paul Kagame terpilih sebagai Presiden, dan terpilihn kembali pada tanggal 25 Agustus 2003.

Sekelumit tentang Hutu dan Tutsi
Membicarakan Rwanda atau bahkan Burundi tak bisa lepas dari keberadaan suku-suku di antara kedua negera tersebut. Oleh karena itu dalam tulisan ini, Burundi tidak ditampilkan secara terpisah, karena baik dari sejarah keberadaan Burundi, komposisi penduduk dan penganut agama, pemerintahan dan ekonomi tak jauh berbeda dengan Rwanda.

Baik Rwanda maupun Burundi pada mulanya didiami oleh suku asli Twa, dari sub suku Pygmi, yang saat ini jumlah mereka pada masing-masing negara tersebut hanya 1%. Ciri khas suku Twa adalah pendek (tinggi 1,5 m) dengan berat badan 45 kg., mempunyai kehidupan bersama sebagai pemburu dan tinggal dekat hutan. Sedangkan suku Hutu berada di Rwanda dan Burundi sekitar 2000 tahun lalu sebagai petani. Hutu berasal dari Afrika Tengah dan Afrika Timur, berasal dari sub suku Bantu berkulit gelap dan bangun tubuh pendek gemuk, dengan tinggi rata-rata 1,63 cm dan berfat badan 59 kg. Mereka lebih besar dari suku Twa.

Suku Tutsi datang ke Rwanda dan Burundi belakangan, yaitu sekitar 600 tahun yang lalu, berasal dari selatan Ethiopia, tinggi (rata-rata 180 cm dengan bobot kira-kira 54 kg.) dan berperawakan sebagai prajurit dan bergaya ningrat (aristocrat). Oleh karena itu, suku ini akhirnya membangun kerajaan di kedua negara tersebut sebelum merdeka.

Pada awalnya, sebelum para penjajah datang, ketiga suku tersebut, baik Twa, Hutu maupun Tutsi hidup harmoni, damai, berkomunikasi dengan bahasa yang sama dan terjadi kawin antar suku. Walupun Hutu sebagai suku mayoritas (85%), mereka banyak melayani suku Tutsi yang hanya berjumlah sekitar 9%-14%.

Namun begitu penjajah datang, yaitu Jerman dan Belgi, mulai timbul percikan-percikan api permusuhan antara suku Hutu yang mayoritas terhadap suku Tutsi yang minoritas. Hal ini disebabkan Jerman maupun Belgia sebagaimana umumnya karakter penjajah, menerapkan politik belah bambu (divide et impera), yang pada gilirannya membuyarkan kerhamonisan di antara kedua suku tersebut. Kejadian ini memuncak pada tahun 1994, sehingga terjadi genocide (pemusnahan) terhadap suku Tutsi dan Hutu moderat.

Perkembangan Islam di Rwanda
Islam masuk Rwanda pada tahun 1901 seiring dengan kedatangan para saudagar Arab, dan pada tahun 1908 gelombang imigran Muslim berdatangan ke Rwanda ketia Jerman menjajah negara tersebut. Pada tahun 1913, Masjid pertama dibangun di Rwanda,dan setelah itu Islam mulai menyebar di Rwanda walaupun sangat lambat. Kemudian sekolah Islam pertama dibangun pada tahun 1957. Ketika terjadi genocide terhadap suku Tutsi dan Hutu Moderat pada tahun 1994 yang melenyapkan 800.000 jiwa dan membuat terlunta 2 juta penduduk, Islam justru mulai bersinar di Rwanda. Hal ini disebabkan, pertama orang Islam Rwanda sama sekali tak terlibat dalam perang saudara, kedua banyak pastur atau pendeta (gereja) terlibat dalam genocide, dan ketiga banyak keluarga korban genocide yang ditolong oleh warga Islam Rwanda.

Sheikh Saleh Habimana, pemimpin Islam Rwanda mengatakan bahwa saat ini Islam ada di mana-mana di seantero Rwanda, padahal agama Islam tak popular sebelum adanya genocide. Statistik terakhir menyatakan bahwa jumlah pemeluk Islam Rwanda saat ini adalah 14%, dibanding 7% sebelum genocide.

Salah satu contoh penduduk Rwanda berpindah agama dari Kristen ke Islam, sebagaimana dinyatakan oleh Yahya Kayiranga. 27 tahun, ketika dia ditolong oleh Muslim Rwanda dan akhirnya memutuskan masuk Isam pada tahun 1996. Saat ini, Kayirama rajin melakukan shalat lima waktu, belajar bahasa Arab dan mengaji al-Qur’an. Demikian juga yang dialami oleh Salamah Ingabire, 20 tahun, masuk Islam tahun 1995, dan Yakobo Djuma Nzeyimana, 21 tahun, menjadi Islam pada tahun 1996. Mereka mengatakan bahwa kami melihat muslim sebagai penduduk yang baik, Islam mengajarkan persahabatan. Genocide telah mengubah pandangan hidup kami, karena gereja dan pastur membantu pembunuh. Tak seorang pun mati di masjid, demikian kata Ramadhani Rugema, seorang Tutsi, yang saat ini menjabat Sekretaris Eksekutif Muslim Association of Rwanda. Walaupun Katholik merupakan mayoritas agama yang dianut oleh penduduk Rwanda, namun Islam berkembang sangat cepat, yang semula dianggap sebagai warga kelas dua, saat ini pandangan tersebut lenyap.

Islam di Kenya, Telah dimuat dalam Majalah AMANAH No. 54, Th. XVII, September 2004 / Rajab – Sya’ban 1425 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: