Kegamangan Pemilih Muslim Dalam PEMILU 2004

Pendahuluan
Ada 24 parpol yang mengikuti pemilihan umum tanggal 5 April 2004, dan 7 parpol diantaranya merupakan parpol yang berasaskan Islam atau berbasiskan massa Islam (PPP, PBB, PKS, PBR, PPNUI, PAN dan PKB). Mungkin hanya Indonesia saja yang masih belum puas menikmati ‘euphoria’ atas jatuhnya pemerintahan orde baru yang bertahan hingga 30 tahun (hampir satu generasi), sehingga para ‘pemimpi’ berlomba-lomba mendirikan parpol yang pada ujungnya adalah ingin menjadi penguasa sebagaimana pernah dinikmati oleh Bung Karno dan Pak Harto. Mestinya, setelah pemilu 2004 digelar dan menghasilkan parpol-parpol yang memenuhi electorial treshold (ET), Komisi Pemilihan Umum (KPU) menutup rapat-rapat pintu (harga mati) pendirian parpol baru, sehingga hanya parpol yang memenuhi ET-lah yang berhak maju pada Pemilu 2009 yang akan datang. Dengan demikian, KPU tak perlu repot-repot lagi menetapkan parpol lolos verifikasi administrative dan verifikasi factual. Para pemimpin parpol kurang menyadari diri, bahwa sosialisasi parpol, khususnya parpol baru, kepada masyarakat luas dalam waktu yang relatif singkat (enam bulan sampai satu tahun) adalah suatu hal yang mustahil. Masyarakat sudah dapat dipastikan hanya akan mengingat parpol-parpol lama (Pemilu 1999), yaitu PDI Perjuangan, Golkar, PPP, PKB, PAN, PBB, dan PKS. Sedangkan 17 parpol lainnya jelas akan susah diingat oleh mereka. Dan ini akan berakibat fatal bagi parpol baru, karena mereka gagal memenuhi target. Pada tataran yang sangat luas, banyaknya partai sungguh sangat membingungkan bagi para pemilih. Jangankan bagi para pemilih di pelosok desa, di lereng gunung atau di ngarai-ngarai, pemilih di kota besar pun seperti Jakarta, Surabaya, maupun Medan pasti akan kesulitan menentukan pilihan, parpol mana kira-kira yang dianggap bisa menampung dan memperjuangkan aspirasi mereka. Memilih Dewan Perwakilan Daerah (DPD) juga mempunyai tingkat kesulitan lebih tinggi daripada memilih parpol. Hal ini disebabkan pemilih ‘tak kenal betul’ nama-nama anggota DPD tersebut. Penyebabnya sama, yaitu kurang sosialisasi. Kepentingan duabelah sangat berbalik, yaitu bila anggota DPD ingin dipilih rakyat namun rakyat pemilih sudah dapat dipastikan tak dapat memperoleh hak serupa, semisal memperoleh fasilitas sebagaimana diperoleh anggota DPD setelah terpilih.

Hubungan Dua Arah
Parpol-parpol lama, seperti PNI, Masyumi, NU, dan PKI mempunyai ikatan batin yang kuat dengan konstituennya, sehingga apapun keputusan yang diambil oleh parpol, konstituen dengan sukarela mengikutinya, bila perlu memberontak kepada pemerintahan yang sah. Tingkat kesadaran pimpinan parpol maupun konstituen sangat tinggi, sehingga biarpun parpol telah dilikuidasi, konstituen tetap mengharapkan agar parpol yang telah dilikuidasi dapat dihidupkan kembali. Lihat: PNI dengan PDI Perjuangan, PNI Marhein dan PNBK, Masyumi dengan PBB, NU dengan PKB. Guna memberikan ilustrasi hubungan dua arah antara parpol dan konstituennya, ada baiknya polling yang dilakukan oleh sebuah majalah terkenal ibukota tentang dukungan golongan Islam dan non-Islam pada parpol peserta pemilu 2004 dicermati. Hasil polling adalah sebagai berikut, golongan Islam dan non-Islam: Islam religius 44,20%, Islam non-religius 44,90%, Non Islam 10,90%. Dukungan golongan Islam religius kepada parpol: Golkar 34,60%, PDIP14,90%, Partai Islam 22%. Dukungan golongan Islam non- religius kepada parpol: Golkar 38,90%, PDIP 30,50%, Partai Islam 30,60%. Dukungan golongan Islam non- Islam kepada parpol: Golkar 50,50%, PDIP 46,30%, PKS 1,10%. Dukungan golongan Islam religius, Islam non-religius dan non- Islam kepada parpol nasionalis: Islam religius 48,60%, Islam non-Religius 69,40%, non-Islam 96,80%. Dukungan Golongan Islam Religius, Islam Non-Religius dan Non- Islam kepada Parpol Islam: Islam religius 51,30%, Islam non-religius 30,60%, non-Islam 0,20%. Penulis tidak membicarakan validitas polling, namun sekurang-kurangnya, hubungan dua arah, khususnya bagi konstituen muslim terhadap parpol Islam dan non-Islam, menunjukkan adanya variable yang mendekati kenyataan. Ternyata Indonesia hanya mempunyai penduduk Islam religius 44,20%, kurang dari separoh jumlah penduduk, sedangkan Islam non-religius lebih besar sedikit yaitu sekitar 44,90%. Ini menjadi bukti bahwa kekuatan golongan nasionalis (abangan) masih cukup kuat, dibanding golongan Islam (santri). Oleh karena itu, pemilu 1999, menjadi cermin dan bukti nyata sejauh mana kekuatan parpol Islam dan parpol nasionalis.

Sikap Pemilih Muslim
Penulis mempunyai keyakinan kuat, bahwa pemilih pada umumnya, khususnya pemilih muslim, akan mengalami kegamangan luar biasa dalam menentukan pilihan parpol mana dan siapa nama DPD yang patut ‘dicoblos’ dalam pemilu 5 April 2004 nanti. Karena mereka rata-rata mempertanyakan, siapa yang mampu mengembalikan Indonesia pada keadaan yang lebih baik, sebagaimana yang terjadi pada tahun 1997, di mana pada waktu itu Indonesia mendapat julukan sebagai ‘calon macan baru Asia’. Masyarakat pun sudah terlanjur mendapat informasi yang buruk tentang citra elit politik, yang terkesan sebagai ‘suka berantem dan KKN’. Lebih dahsyat lagi bagi pemilih muslim, khususnya pada tataran bawah (marginal). Pada dasarnya mereka menghendaki adanya ‘parpol Islam yang satu’ yang dapat mewakili seluruh aspirasi ummat Islam. Namun kehendak ummat Islam mungkin tak akan pernah terwujud. Lihat saja bagaimana NU menjadi terpecah suaranya ke berbagai parpol (PKB, PPP, PKS dan PNUI). Demikian juga Muhammadiyah yang terpecah suaranya (PAN, PK, Golkar dan bahkan PDI Perjuangan). Ini bermula karena tiadanya hubungan dua arah yang signifikan, baik NU maupun Muhammadiyah kepada jamaahnya. NU dan Muhammadiyah hanya menggarap dan mengandalkan bidang garapan ‘sosial ekonomi’ saja. Ini tidak cukup. Jamaah harus diyakinkan bahwa bidang politik adalah bidang yang sangat mendesak untuk digarap, karena kebijakan yang menyangkut hajat hidup orang banyak dalam suatu negara, haruslah diputuskan melalui kebijakan-kebijakan politik. Dan ini kebijakan politik tak akan bisa diambil bila tidak dilakukan melalui institusi formal, semisal institusi legeslatif (MPR, DPR, DPD, DPRD) maupun institusi eksektutif (kepresidenan). Karena tidak ada ketegasan sikap dari dua ormas terbesar tersebut, sudah barang tentu jamaah semakin bingung, sehingga terjadi ‘overlaping’ dalam menentukan pilihan. Suatu ketika ada tokoh PAN yang menyarankan agar Muhammadiyah menyerukan warganya ‘menyoblos’ PAN dan memilih Amien Rais sebagai Presiden, namun apa yang terjadi ? Si tokoh disemprot habis oleh Jaringan Intrelektual Muda Muhammadiyah (JIMM). Ini suatu kenyataan bahwa para sesepuh Muhammadiyah ‘belum mampu meyakinkan’ jamaahnya, khusus para intelektual muda yang tergabung dalam JIMM, bahwa politik adalah suatu bidang garapan yang tak kalah pentingnya dengan bidang garapan social dan ekonomi. Bila para tokoh elit sudah gamang mengarahkan jamaah atau konstituennya, sudah dapat dipastikan bahwa jamaah atau konstituen akan lebih gamang lagi dan mungkin menjurus kepada sikap apatis (tidak mencoblos atau malah semua gambar dan foto dicoblosi). Siapa yang rugi, Tentu saja parpol Islam sendiri ! Supaya tidak terjadi kegamangan di hati konstituen, ada baiknya para elit politik (Islam) mencontoh Partai Damai Sejahtrera (PDS) yang dimotori oleh Ruyandi Hutasoit, yang ditengarai sebagai pemilih Yayasan Doulos. PDS diprediksikan dapat mempersatukan konstituen Kristen Protestan dan Katolik dalam Pemilu 5 April 2004. PDS telah mencanangkan perolehan 40 juta suara. Ini tantangan berat bagi parpol Islam. Dukungan non-Islam pada parpol Islam hanya ‘0,20%’, sedangkan dukungan mereka kepada parpol nasionalis (baca: bisa saja PDS) 96,80%.

• Pemerhati masalah sosial dan politik (bekerja di Universitas YARSI)
* Artikel di atas telah dimuat pada harian PELITA, Kamis, 18 Maret 2004/26 Muharram 1425 H.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: