Masa Depan Indonesia Bila PARPOL-PARPOL Islam Memenangkan PEMILU 2004

Pembukaan
Pada Pemilu 1999, ada 9 (sembilan) Parpol Islam dari 48 Parpol yang ikut bertarung, dengan hasil yang sangat tidak memuaskan. Pada Pemilu 2004, yang Insya’Allah akan diselenggarakan pada tanggal 5 April 2004 (DPR, DPRD, DPD), 5 Juli 2004 (pemilihan Presiden dan Wakil Presiden putaran pertama), 20 September 2004 (pemilihan Presiden dan Wakil Presiden putaran kedua), akan diikuti oleh 24 partai politik yang telah disahkan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Desember 2003 yang lalu, ada 5 (lima) Parpol Islam yang berhak mengikutinya. Ke 5 Parpol Islam tersebut telah lolos verifikasi (administratif dan faktual).

Sebenarnya sampai dengan tanggal 31 Desember 2002, ada 237 partai politik yang terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM, namun untuk bisa menjadi peserta Pemilu 2004, ke-237 parpol tersebut memenuhi sejumlah syarat yang telah ditetapkan oleh undang-undang, yaitu pendaftaran sebagai calon peserta Pemilu ke Komisi Pemilihan Umum (KPU), untuk kemudian di verifikasi.

Menteri Kehakiman dan HAM pada tanggal 4 Oktober 2003 mengumumkan, bahwa sebagaimana diamanahkan dalam UU No. 31 tahun 2002, ada 32 parpol yang memenuhi syarat untuk menjadi badan hukum, sedangkan sebelumnya telah lolos verifikasi I dan II, 18 parpol yang telah sah sebagai badan hukum. Dengan demikian jumlah keseluruhan parpol yang mempunyai badan hukum adalah 50 buah.

Untuk bisa menjadi peserta pemilu, ke 50 parpol tersebut harus memenuhi persyaratan sebagaimana disyaratkan dalam UU No. 12 tahun 2003 tentang Pemilu Anggota DPR, DPD, DPRD Propinsi dan Kabupaten/Kota, dan UU No. 23 Tahun 2003 tentang Pemilu Presiden dan Wakil Presiden Langsung. Persyaratan sebagai peserta Pemilu sebagaimana diatur dalam kedua UU tersebut adalah bagi Parpol yang telah lolos electorial treshold (ET) yaitu partai yang perolehan kursinya mencapai 2% atau lebih dari jumlah kursi yang ada di DPR, dalam Pemilu 1999 hanya menyerahkan SK Menkeh dan HAM serta menyerahkan nama dan tanda gambar. Sedangkan bagi Parpol yang tidak lolos ET, harus melengkapi 13 persyaratan.

Di KPU, ke 50 Parpol tersebut diseleksi melalui 2 (dua) tahap penyaringan (Keputusan KPU No. 105/2003 dan No. 615/2003) yaitu verifikasi administratif, antara lain mempunyai kepengurusan lengkap sekurang-kurangnya 2/3 propinsi dan kabupaten/kota, dan kepengurusan tersebut harus mempunyai kantor, mempunyai anggota sekurang-kurangnya 1.000 orang atau 1/1.000 jumlah penduduk setiap daerah di mana yang mempunyai pengurus.
Seleksi kedua adalah verifikasi faktual, yaitu memastikan apakah benar dokumen-dokumen mengenai kepengurusan dan keanggotaan sebagaimana verifikasi administrative mewujud di lapangan. Yang lolos verifikasi administrative dan verifikasi factual ada 18 Parpol.

Sebagai catatan, ada 6 (enam) parpol yang tidak mengikuti kedua verifikasi ini, karena ke 6 Parpol tersebut sudah lolos ET. Keenam Parpol tersebut adalah PDI Perjuangan, Partai Golkar, PKB, PPP, PAN dan PBB. Dengan demikian, Parpol yang lolos verifikasi dan berhak sebagai peserta Pemilu 2004 berjumlah 24 Parpol.
Adapun nama-nama kelima Parpol Islam yang berhak menjadi peserta Pemilu 2004 adalah Partai Persatuan Pembangunan (PPP), Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Partai Bintang Reformasi (PBR) dan Partai Persatuan Nahdlatul Ummah Indonesia (PPNUI). Sebenarnya ada 2 (dua) Parpol yang mempunyai basis Islam sangat kuat, yaitu Partai Amanat Nasional (PAN) yang berakar pada Muhammadiyah, dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) yang berakar pada Nahdlatul Ulama (NU). Namun kedua Parpol menjadi Pancasila sebagai azas partai, bukan Islam sebagaimana kelima Parpol lainnya.

Kelima Parpol Islam dan dua Parpol berbasis Islam tersebut mempunyai pijakan karakter dan pemikiran (mainstream) yang berbeda, sebagaimana ditengarai oleh pengamat, yaitu tradisionalis (PPP, PBR, PPNUI), modernis (PBB), dan neo-revivalis (PKS). Dua Parpol lainnya yang berbasis Islam yaitu PAN dikategorikan sebagai modernis dan PKB sebagai post tradisionalis. Bila Parpol-parpol Islam memenangkan Pemilu 2004, mereka harus berani menggabungkan karakter dan pemikiran (mainstream) tersebut, sehingga menjadi ‘rahmatan lil alamin’ dan pada akhirnya dapat mewujudkan negara yang ‘baldatun toyyibah wa robbun ghofur’.

Upaya Parpol Islam Memperoleh Kemenangan pada Pemilu 2004
Sebagaimana telah penulis paparkan pada Media Dakwah No. 350, Rajab 1424/September 2003 yang lalu, pada dasarnya peran Muhammadiyah dan NU sangat besar terhadap parpol Islam dalam rangka memperoleh kemenangan Pemilu 2004. Muhammadiyah yang dikonotasikan sebagai Islam Modernis dan NU sebagai Islam Tradisionalis, masing-masing mempunyai kekuatan untuk mendorong parta-partai yang ‘dilahirkannya’ menjadi partai kuat, modern, professional dan bermartabat. Keduanya mempunyai basis ummat yang sangat kuat, kurang lebih 60% dari total penduduk Indonesia.

Sedangkan menurut sdr. M. Hilaly Basya, mainstream parpol Islam tidak hanya berkutat pada dua mainstream saja, yaitu tradisionalis dan modernis, namun telah berkembang menjadi 4 (empat) mainstream, yaitu tradisionalis, modernis, neo revivalis dan post tradisionalis. Keempat mainstream tersebut sebenarnya hanya berbeda dalam ‘metodologi keberagamaan’. Tradisionalis menggunakan metodologi keberagamaan berlandaskan pada warisan pemikiran ulama masa lalu, seperti penguasaan kitab-kitab kuning (kitab-kitab klasik 8-13 masehi), namun mereka tidak menolak modernitas. Modernis menggunakan al-Qur’an dan Sunnah sebagai sumber utama ajaran, namun pembacaannya berorientasi pada modernitas (kerangka berfikir), dalam arti mereka dapat mengadopsi pemikiran Barat seperti demokrasi, pluralisme, inklusivisme, civil society dan sebagainya. Neo-Revivalis menjadikan al-Qur’an, Sunnah dan warisan ulama salaf sebagai poros utama ajarannya. Dimensi ritual dan social politik diimplementasikan pada formalisasi syari’ah dan kekhalifahan. Sedangkan post tradisonalis adalah kelanjutan dari aliran tradisionalis, namun dari sisi metodologi, mereka menggunakan sintesa aliran modernis dan tradisionalis, Mereka datang dari generasi muda, yang menganggap tradisionalis tidak harus stagnan, namun harus hidup. Dari keempat aliran tersebut, mungkin aliran neo-revivalis yang diusung oleh Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dianggap kukuh dalam mengusung symbol-simbol Islam secara utuh (kaffah).

Pada Pemilu 1999, Parpol Islam membentuk Poros Tengah yang secara politis sangat ampuh membendung laju kekuatan nasionalis. Hasilnya adalah terpilihnya Gus Dur sebagai Presiden, Amien Rais sebagai Ketua MPR dan Akbar Tanjung sebagai Ketua DPR. Namun akhirnya Poros Tengah ini kolaps, karena tidak ada kesamaan pemikiran dalam tataran implementasi. Gus Dur terjungkal dari kursi kepresidenan. Inilah kelemahan utama parpol Islam, yang terkungkung pada mainstream masing-masing, sehingga mereka tetap terpecah, dan pada akhirnya terjadilah politik aliran.

Para pimpinan parpol Islam telah mencoba menghidupkan kembali pertemuan-pertemuan di antara mereka, dan mungkin saja akan mengadakan semacam kaukus atau menerbitkan Poros tengah jilid dua. Namun dilihat dari intensitas pertemuan, belum nampak tanda-tanda ke arah itu. Hal ini, mungkin secara teknis dihadang oleh kekuasaan Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang mesti diikuti oleh mereka. Kesibukan-kesibukan mendaftarkan calon anggota legeslatif, yang dipenuhi dengan persyaratan yang memberatkan, termasuk di dalamnya quota 30% untuk caleg perempuan, sangat menyita konsentrasi masing-masing pimpinan partai, sehingga tak ada waktu bagi mereka untuk mengadakan lobi antar parpol Islam. Apalagi mengingat kejatuhan Gus Dur sebagai Presiden sangat menyakitkan dan membawa trauma tersendiri.

Ada yang perlu dicermati langkah Amien Rais ketika melobi pesantren-pesantren dan ulama di Jawa Timur. Jawa Timur adalah gudang konstituen PKB, yang notabene berasal dari komunitas NU, sedangkan Amien Rais adalah petinggi PAN dan Ketua MPR, yang notabene berasal dari komunitas Muhammadiyah, dan calon kuat Presiden RI. Langkah Amien Rais ini dapat dianggap untuk menutup luka lama, yaitu ketika sebagian konstituen PKB Jawa Timur menghalalkan darah Amien Rais. Penyebabnya adalah mereka sangat kecewa terhadap pelengseran Gus Dur sebagai Presdien, dan Amien Rais dianggap sangat bertanggungjawab terhadap pelengseran tersebut. Amien Rais mencoba menghilangkan kesan itu, sekaligus ingin merekatkan mainstream tradisionalis, post tradisionalis dan modernis, tentunya dengan agenda-agenda yang sarat politik, yaitu menarik simpati mereka (Ulama dan Pesantren). Lobi adalah upaya politik yang elegan, santun dan halal. Dalam jajag pendapat yang diselenggarakan oleh beberapa TV swasta nasional, Amien Rais memang cukup mempunyai greget sebagai calon Presiden RI, apalagi jika disandingkan dengan Susilo Bambang Yudoyono sebagai calon Wakil Presiden, perolehan suaranya sangat signifikan, jauh meninggalkan calon-calon lainnya. Oleh karena itu, lobi yang dilakukan Amien Rais dapat dipastikan mengarah kepada perolehan kemenangan politik.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang dikonotasikan sebagai Ikhwanul Muslimin-nya Indonesia, juga telah menarik banyak generasi dan intelektual muda muslim, baik di kampus maupun di organisasi kepemudaan. PKS memang sangat pandai menarik simpati masyarakat luas. Padahal mainstream yang diembannya tergolong puritan (neo-revivalis) dan menakutkan bagi kalangan Barat. Saat inipun Barat menunggu harap-harap cemas, bila PKS dapat merebut suara yang signifikan dalam Pemilu 2004 mendatang. Dalam jajag pendapat di TV Swasta Nasional-pun, Hidayat Nur Wahid sebagai Ketua Umum PKS, mendapatkan suara tertinggi, mengalahkan Amien Rais, Megawati, Susilo Bambang Yudoyono dan lainnya.

Sudah pasti, PKB akan mengusung Pesantren dan para Ulama di Jawa Timur, Jawa tengah dan Jawa Barat untuk memenangkan Pemilu 2004. Demikian pula PPP maupun PBR. Kedua partai ini mempunyai akar yang sama, namun karena dipengaruhi oleh emosi sesaat, mereka terpecah, dan berebut pada konstituen yang sama.

Semua parpol yang berhak menjadi peserta Pemilu 2004 sudah pasti telah mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya untuk meraup suara sebanyak-banyaknya. Demikian juga dengan parpol Islam. Mereka telah mengadakan lobi-lobi, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terbuka. Sembunyi dapat diterjemahkan untuk mendapatkan deal-deal tertentu, sesuai dengan perolehan kursi, dan terbuka untuk mengingatkan dunia, bahwa di Indonesia, Islam-Politik telah menjadi suatu kebutuhan bagi warganya yang semakin kritis dan maju. Ada yang menengarai bahwa lobi yang dilakukan oleh Parpol Islam dalam menghadapi Pemilu 2004 mengarah kepada koalisi seperti zaman Masyumi dulu.

Tentu saja hal ini membuat jengah pihak seberang, khususnya pihak Barat. Panggung ujian demokrasi ala Barat, saat ini sedang diuji di Indonesia, dan kebebasan yang diperoleh ummat Islam untuk berpolitik benar-benar di luar dugaan mereka. Hanya dalam rentang waktu 5 (lima) tahun, semua kekuatan Islam menampakkan dirinya, walaupun secara kuantitatif parpol Islam mengalami penurunan (9 menjadi 5).

Kembali kepada persiapan dan kesiapan parpol Islam dalam menghadapi Pemilu 2004. Walaupun terpecah menjadi 4 (empat) mainstream, nampaknya tidak menghalangi Papol Islam mengadakan penjajagan, baik yang berkaitan dengan penyusunan strategi untuk memperoleh suara terbanyak di legeslatif (DPR, DPD, DPRD), maupun merebut kursi kepresidenan. Langkah Amien Rais yang sering mengadakan lobi ke Pondok Pesantren dan Ulama, PKS dan Parpol Islam lain yang sering mengadakan lobi yang mengarah pada pembentukan koalisi, adalah dalam rangka mempersiapkan secara matang menghadapi Pemilu 2004. Itu semua dilakukan karena adanya semacam panggilan, bahwa Islam harus mempunyai otoritas (secara politik), baik dalam tataran legaslatif maupun eksekutif, agar sebagian atau seluruh kebijakan yang akan diputuskan tidak menyimpang atau bertentangan dengan kaidah Islam.

Tantangan yang akan Dihadapi Parpol Islam
Tantangan pertama pasti ada pada tataran mainstream. Bila parpol Islam dapat menyingkirkan atau setidak-tidaknya mengeliminasi emosi atau sentimen sesaat, 4 (empat) mainstream tersebut sudah pasti bukan merupakan penghalang yang berarti. Menegakkan kalimah Allah adalah prinsip yang harus ditegakkan, bila ingin menghalau sentimen pribadi (partai). Di samping itu, Islam diturunkan oleh Allah s.w.t. sebagai rahmatan lil alamin (rahmat bagi alam semesta). Artinya, bila mengajak ke jalan Allah s.w.t., haruslah disampaikan dengan cara yang bijak, nasihat yang baik, dan bila berdebat (discourse), berdebatlah dengan cara yang baik pula. Demikian pula Parpol Islam, rahmatan lil alamin dapat diwujudkan dalam visi, misi, dan programnya. Bila tantangan ini dapat diatasi, maka perbedaan dalam tataran mainstream dapat terjembatani.

Tantangan kedua datang dari parpol yang beraliran nasionalis. Sejak zaman proklamasi, aliran nasionalis selalu berseberangan dengan parpol Islam, ini disebabkan terdapat perbedaan pandangan yang sangat mendasar. Aliran nasionalis membawa bendera sekuler yang secara tegas tidak ingin ada islamisasi di segala bidang, khususnya hukum nasional, sedangkan golongan Islam ingin menerapkan kebijakan, khususnya politik dan hukum sesuai dengan ajaran Islam. Di sini dibutuhkan kearifan dari parpol Islam, agar dapat mengeliminasi perbedaan tersebut, dan membuat jembatan agar dua pemikiran yang berbeda sangat mendasar tersebut dapat diselesaikan dengan baik. Upayanya antara lain dilakukan secara bertahap, tidak ektrim, tidak kaku (rigid) dan tidak seketika, sebagaimana telah dicontohkan oleh Nabi s.a.w. dan Walisango. Karena pada dasarnya, baik nasionalis maupun Islam datang dari muara yang sama, yaitu Islam.

Tantangan ketiga sudah pasti datang dari Barat. Sebagaimana telah dinyatakan pada alinea terdahulu, upaya kelompok Islam menggalang suara dalam Pemilu 2004 telah dicap sebagai mengarah kepada koalisi parpol Islam seperti zaman Masyumi ketika jaya. Ini membuat cemas pihak Barat, dan ditengarai mereka telah menyusun suatu strategi yang disebut sebagai scenario Aljazair atau scenario Turki. Dua scenario ini menyatakan bahwa bila Parpol Islam memenangkan Pemilu 2004, baik memenangkan kursi legislative maupun presiden, akan dijegal atau dianulir, dengan tuduhan bahwa parpol-parpol Islam telah melakukan kecurangan.. Kemenangan Islam secara politis dalam panggung demokrasi belum dapat diterima secara lapang oleh mereka, padahal pihak baratlah yang mensponsori atau mengusung dan mengajarkan paham demokrasi. Kini panggung demokrasi sebentar lagi akan diuji di Indonesia. Kebebasan yang diperoleh ummat Islam untuk berpolitik samasekali di luar dugaan pihak Barat, karena hanya dalam rentang waktu 5 (lima) tahun, semua kekuatan Islam menampakkan jatidirinya.

Kemenangan parpol Islam diindikasikan akan mempengaruhi percaturan politik Asia, Afrika dan semenanjung Balkan. Barat, khususnya Amerika Serikat jelas tidak akan menyetujui kemenangan ini. Oleh karena itu, sebelum parpol Islam meraih kemenangan, akan diciptakan suatu kondisi atau ditiupkan isu-isu, antara lain bila parpol Islam menang, Negara Kristen Indonesia Timur akan berdiri, dihancurkannya ekonomi rakyat yang berpusat pada ekonomi beras, dan adu domba kelompok-kelompok miskin dengan isu SARA, scenario Aljazair atau scenario Turki. Dengan demikian, mimpi atau keinginan kuat parpol Islam untuk memenangkan pemilu 2004 akan sulit terwujud.

Yang paling mengkhawatirkan dari semua isu tersebut adalah bila parpol Islam memenangkan pemilu 2004, berdirinya Negara Kristen Indonesia Timur (Papua, Ambon, dan NTT). Ditengarai bila itu terjadi, Indonesia tidak akan bisa berbuat banyak, karena Barat segera memberikan pengakuan, sekaligus akan menjaga territorial dan kemerdekaan Negara Kristen Indonesia Timur. Timor Timur lah contohnya. Diperkirakan, hanya dalam waktu satu minggu, Indonesia akan porak poranda diserang oleh Amerika Serikat dan sekutunya, bila TNI dan Lasykar Jihad berani menyerang mereka. TNI dan Lasykar Jihad tidak akan sanggup menghadapinya, dengan alasan bahwa TNI maupun Lasykar Jihad tidak mempunyai senjata yang cukup memadai untuk menandingi persenjataan mutakhir mereka. Amerika Serikat dan Barat memang mengharapkan adanya crusade (Perang Salib) jlid dua. Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh George Bush, bahwa dengan diruntuhkannya World Trad Centre dan Pentagon oleh teroris, sudah saatnya crusade dihidupkan kembali. Crusade telah diperluas dengan suatu semboyan yang terkenal dengan sebutan ‘3G’, yaitu the glory, the gold, the gospel. Dalam era kekinian, ‘the glory’ (kemenangan) diterjemahkan sebagai penjajahan ekonomi dan penguasaan sumber-sumber kekayaan alam melalui kekuatan bisnis raksasa yang dikenal dengan multi national corporation (globalisasi dan perdagangan bebas). The gold (mengeruk kekayaan) dilakukan melalui penguasaan pasar uang dan pasar modal, sedangkan the gospel bukan berbentuk pengkristenan secara vulgar, namun mengikuti tatacara yang menyangkut pola pandang, pola pikir dan pola keilmuan. Termasuk dalam kaategori ini adalah paham materialisme, kolonialisme, imperialisme, liberalisme ekonomi, konsumerisme, HAM, woman’s lib, ekonomi pasar, budaya kosmopolitan dan globalisasi.

Oleh karena itu, jika parpol Islam tetap menghendaki memperoleh kemenangan pemilu 2004, maka perlu diwaspadai, pertama pemantau pemilu yang diprakarsai Barat. Bisa jadi mereka telah mempersiapkan rekayasa yang sangat canggih. Mereka akan membuat laporan-laporan negatif yang menjurus pada dibatalkannya (dianulir) pemilu, misalnya parpol Islam diindikasikan banyak melakukan pelanggaran-pelanggaran (scenario Aljazair dan scenario Turki). Kedua perlu diwaspadai intelijen asing yang diprediksi Kasad sudah berkeliaran sebanyak 60.000 orang, yang mungkin akan membuat kekacauan-kekacauan di seantero negeri. Tanda-tanda itu sudah nampak, antara lain penajaman sentimen TNI dan Polri, katidakpuasan kader-kader parpol dalam penyusunan daftar caleg, banyaknya wisatawan bule pada kantong-kantong non-muslim, protes-protes LSM ekstrim terhadap TNI dan birokrasi, maraknya kerusuhan masa, fenomena PHK yang pasti akan menimbulkan ketidakpuasan yang menjurus pada tindak kekerasan, fenomena penjualan asset-asset strategis, dan ditempatkannya batalyon combat yang dapat bergerak cepat di kota-kota perbatasan negara tetangga.

Kontribusi terhadap Masa Depan Indonesia
Kuntowijoyo dalam ‘Wacana Politik Islam Pasca Orde Baru’ menyatakan bahwa parpol Islam saat ini sudah menuju kepada apa yang disebut sintesis antara simbolisme dan substansialisme, yaitu memadukan antara keinginan mendirikan negara Islam atau segala sesuatu harus berlabel Islam (normative dan skriptualis) dengan ide bahwa isi lebih penting dari label, tunduk pada spesifikasi dan partikularitas waktu dan tempat. Simbolisme lebih diarahkan kepadfa mencari dukungan publik karena memang mayoritas penduduk Indonesia adalah Islam, sedangkan substansialissme suatu ketika dapat terkooptasi oleh penyelenggara negara. Indonesia adalah multi wajah, oleh karena itu tak boleh ada dominasi dan hegemoni melalui formalisasi dan legalisasi agama. Oleh karena itu politik Islam harus diarahkan kepada ‘bukan ingin mewujudkan Islam sebagai dasar negara, namun ingin mewujudkan prinsip-prinsip politik sebagai yang terkandung dalam teks-teks al-Qur’an: ‘menjunjung nilai-nilai keadilan, kesamaan dan musyawarah’.

Hal ini searah dengan pidato Abu Bakar ketika beliau dilantilk sebagai khalifah pertama setelah Rasulullah s.a.w. wafat. Beliau menyatakan bahwa beliau hanyalah manusia biasa, bila tindakannya benar perlu didukung, dan ketika melakukan kekeliruan atau kesalahan, perlu diluruskan (dikritik). Agar semua pihak memegang teguh amanah dan jangan melakukan kecurangan, berlaku adil, tetap berjuang di jalan Allah dan bahwa ketaatan rakyat terhadap khalifah bukan karena pertimbangan partikularistik pribadi khalifah, tetapi karena nilai universal prinsip-prinsip yang dianut (berdasar al-Qur’an dan Sunnah Rasul).

Oleh karena itu, bila Parpol Islam memenangkan Pemilu 2004, ada dua hal yang harus diusung dalam rangka memberikan kontribusi ke arah perbaikan Indonesia di masa depan, yaitu membawa misi ‘rahmatan lil alamin’ (menjadi rahmat bagi sekalian alam) dan mewujudkan Indonesia sebagai ‘baldatun tayyibah wa rabbun ghafur’ (negara yang gemah ripah loh jinawi dan selalu dalam ampunan Tuhan).

Masa depan Indonesia akan cerah, bila Parpol Islam dapat menyusun suatu formulasi yang merujuk pada ‘rahmatan lil alamin’ dan ‘baldatun tayyibatun wa rabbun ghafur’. Dengan formulasi tersebut, sudah dapat dipastikan, masyarakat Indonesia akan dibawa pada situasi dan kondisi yang lebih baik, jauh dari anarki, chaos atau pun perang saudara.

*) MEDIA DAKWAH No. 354 Dzulhijjah – Muharram, 1424 – 1425 / Pebruari – Maret 2004

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: