Mensosialisasikan Islam Sebagai Agama Politik

Pendahuluan

Statemen ‘Islam Yes, Partai Islam No’ yang diproklamasikan oleh Cak Nur pada era 70-an, mampunyai pengaruh dahsyat terhadap perkembangan politik Islam di Indonesia. Golkar langsung menangkap statemen tersebut dan dijadikan justifikasi untuk mengebiri seluruh partai-partai Islam. Hasil akhirnya adalah menyederhanakan partai dalam 3 (tiga) kelompok besar. Partai-partai Islam bak lampu kehabisan minyak. Dan kenyataan ini berlanjut hingga pemilu 7 Juni 1999 yahg baru lalu, di mana secara telak, partai-paartai Islam kalah secara menyakitkan.

Dengan kekalahan ini, banyak ummat Islam yang bertanya-tanya, kenapa bisa terjadi, padahal ummat Islam di Indonesia adalah mayoritas penduduk (85%). Banyak fakor yang mempengaruhi kekalahan partai-partai Islam tersebut, antara lain: kurangnya sosialisasi (program, visi, misi dan platform), minimnya pemimpin partai yang karismatik, kurangnya dukungan dana, pengaruh globalisasi atau mungkin factor Islam Abangan (Islam KTP) dan statemen Cak Nur di atas.

Sebaliknya, mengapa justru partai sekuler (PDI Perjuangan) yang memenangkan pertarungan ? Banyak factor pula yang menentukan kemenangan ini, antara lain: didukung oleh Islam KTP dan Islam Abangan, factor Megawati sebagai penerus Bung Karno, dukungan dana yang melimpah dan banyaknya politikus konservatif (dari Golkar/Orde Baru dan Orde Lama) yang nempel (sebagai think tank).

Imbul pertanyaan, mengapa mesti statemen ‘Islam Yes, Partai islam No’ dianggap sebagai factor penghambat perkembangan partai yang berlandaskan Islam (baca: Partai islam),s ehingga berpengaruh dahsyat dengan kalahnya partai-partai Islam secara telak dalam Pemilu 7 Juni lalu ? Pertama, timbul kesan bahwa bila partai Islam menang, maka seluruh tatanan kenegaraan dan pemerintahan akan dirombak total sesuai ajaran Islam. Ini suatu hal yang menakutkan bagi orang di luar Islam maupun sekuler.

Kedua, Islam adalam agama yang penuh dengan ajaran kebenaran. Oleh karena itu, dikahawatirkan, ajaran Islam yang indah itu akan diselewengkan oleh pemimpin partai untuk memperoleh kenenagan dengan segala cara (Machiavelli). Ketiga, lebih banyak menimbulkan pertentangan SARA, yang pada akhirnya akan menceraiberaikan Negara kesatuan Republik Indonesia, padahal Indonesia dibangun berdasarkan kebinekaan (bhineka tunggal ika). Oleh karena itu, Negara berlandaskan agama sudah tentu tidak bisa diterima.

Yang diuntungkan adalah partai-partai sekuler, karena derajat kebenaran statemen ini dianggap tinggi. Kenapa ? Jawabannya, Cak Nur adalah intelektual muslim yang mumpuni sekaligus mewakili Islam tradisional dan modernis. Rekomendasi KPU, Komisi Pemilihan Umum (KPU), ternyata secara sadar menolak statemen Cak Nur, yaitu dengan dihidupkannya kembali pendirian partai-partai berlandaskan agama, termasuk di dalamnya partai-partai Islam (PPP, Partai keadilan, dan 12 partai lainnya), setelah terpuruk sepanjang dua dasawarsa. Dasarnya apa ? Ya … demokrasi !!

Konsekwensinya adalah, partai Islam secara yuridis, sah dan berhak mensosialisasikan seluruh program-programnya. Namun secara sadar pula, Cak Nur selalu menampik dengan segala argument (primordialisme dan sebagainya), bila partai-partai Islam dalam sosialisasinya (kampanye) mengumandangkan ajaran-ajaran Islam. Sehingga timbul kesan, Cak Nur sebagai ‘guru bangsa’ tak selalu benar dan kurang obyektif. Untuk membuktikannya adalah, banyak pastor dan pendeta yang mengajak ummatnya untuk memilih caleg yang berasal dari Katolik dan Kriosten Protestan, namun tak pernah dikomentari dan mungkin tak terdeteksi. Bukti-bukti lain adlaah, bagaimana lihainya tokoh-tokoh Kristen dan Katolik mempengaruhi Megawati, sehingga berhasil menggolakn caleg-calegnya, padahal pendukung terbesar PDI Perjuangan adalah orang Islam (85%). Azas proporsional tidak berlaku bagi partai berlambang bateng gemuk ini. BIla azas proporsional yang dipergunakan, mayoritas scaleg PDI Perjuangan adalah muslim, bukan sebaliknya. Sedkali lagi, ummat Islam terbodohi, namun tak pernah menyadarinya.

Banyaknya caleg non-muslim, bisa berakibat munculnya tirani minoritas, karena suara mayoritas di lembaga legeslatif yang notebene dikuasai oleh caleg non-muslim yang minoritas di Indonesia adalah sah. Karena cirri khas demokrasi adalah suara mayoritas. Padahal produk hukum atau kebijakan-kebijakan yang dihasilkan, bisa atau bahkan mungkin saja merugikan kepentingan Islam atau ummat islam.

Bukti sepak terjang tirani minoritas yang sangat banyak merugikan ummat islam adlaha dengan diberqangusnya partai-partai Islam dan aspirasi ummat Isla. Kebijakan ini dirasakan pada eran 70-an dan 80-an. Ummat Islam sangat trauma. Namun perlu diingat, mayoritas bangsa Indonesia adalah muslim (abangan sekalipun). Oleh karena itu, siapapun yang memimpin negeri ini harus selalu mengingat kepentingan atau aspirasi ummat islam. Bila tidak, maka akan timbul anarki dan bila menajam akan memakan banyak korban.

Islam sebagai Agama Politik
Organisai masa (ormas) Islam, seperti Muhammadiyah, NU, MUI, Al-Washliyah, MDI, DDII dan lainnya, tidak mungkin diperbolehkan ikut pemilu. Ormas bukanlah organisasi politik (orpol). Konsekwensi dan logikanya adalah tidak mungkin ormas Islam dapat memproduksi undang-undang atau kebijakan-kebijakan yang Islami di negeri ini. Ormas-ormas Islam tersebut, walaupun dianggap sebagai kelompok p;enekan (pressure group) terhadap seluruh atau sebagian rancangan undang-undang atau rancangan kebijakan, namun kalah kursi di legelslatif dan eksekutif secara mayoritas dikuasai oleh non-muslim, maka jangan diharap akan dapat merobah rancangan undang-undang atau kebijakan yang mungkin saja tidak Islami.

Oleh karena itu, bukan suatu kebetulan, jeritan ummat Islam tentang keinginan mendirikan partai-partai yang berasaskan Islam dikabulkan Allah s.w.t. melalui KPU. Da ini sekaligus sebagai penolakan statemen ‘Islam Yes, Partai islam No’ yang dilansir Cak Nur. Dan dengan menggunakan jalur partai inilah, suatu produk hukum atau kebijakan yang Islami dapat disusun, baik melalui legeslatif maupun eksekutif.

Ada ucapan seorang Kyai pendiri pondok pesantren Pabelan Muntilan, Jawa Tengah, yaitu Kyai Hamam yang sampai saat ini masih terngiang di telinga, yaitu: jangnkan orang, kalau perlu batu kalipun kita Islamkan. Bagitu mendarahdagingnya pemahaman ke-Islaman dalam diri Kyai Hamam, sehingga dapat dianalogikan, bahwa produk hukum, kebijakan, seni budaya, ilmu pengetahuan, teknologi, ekonomi maupun politik harus sinergi dengan Islam. Inilah pendapat yang mendekati kebenaran. Sebagai catatan, untuk ilmu penetahuan dan teknologi, sudah lama dikenal adanya pendekatan Islam untuk disiplin ilmu yang dipelopori oleh scientist Islam Amerika, yaitu Prof. Ismail Faruqi.

Dalam al-Qur’an, banyak sekali bukti-bukti yang menunjukkan bahwa Islam, di samping sebagai agama dakwah, juga sebagai agama politik. Antara lain firman Allah: ‘Taatlah kepada Allah, Rasul dan pemimpin di antara kamu…’. Juga ‘janganlah kalian mengambil pemimpin yang berasal dari orang-orang kafir..’, dan ‘Ajaklah ke jalan Tuhanmu dengan cara yang bijaksana dan pelajaran yang baik.’ Implementasinya telah dilaksanakan oleh Nabi Muhammad s.a.w., yaitu beliau bukan hanya saja seorang nabi, tapi seklaigus juga sebagai kepala negara dan kepala pemerintahan (lihat: perjanjian Hudaibiyah).

Apa yang telah direkomendasikan oleh pemerintah melalui KPU, sdecara tak langsung mengakui kebenaran bahwa Islam adalah agama politik. Tinggal bagaimana partai-partai Islam memanfaatkan kesempatan emas ini. Namun ternyata realitas bangsa Indonesia banyak berpihak pada partai-partai sekuler, sebagaimana dikatakan oleh DR. Indria Samego, mayoritas bvangsa Indonesia memang muslim, namun hanya muslim KTP atau muslim abangan yang notabene cenderung memilih partai-partai sekuler.

Muncul pertanyaan, apakah sensus yang menyatakan bahwa jumlah penduduk muslim sebagai mayoritas bangsa Indonesia sebesar 87% masih perlu dipertahankan ? Apakah tidak menjadi bahan tertawaan ummat lain, mayoritas dikalahkan minoritas ? Yang pada akhirnya ummat Islam di Indonesia akan dipandang sebelah mata oleh ummat lain. Dengan demikian, jumlah riil penduduk muslim di Indonesia sebenarnya dapat dilihat dari seluruh jumlah perolehan suara partai-partai Islam pada pemilu 7 Juni 1999 yang lalu. Pemimpin Islam atau pimpinan partai-partai Islam diharapkan sadar dan segera menyusun strategi baru, untuk memulangkan atau mengajak kembali ummatnya yang telah ‘mbalelo’ ke partai sekuler. Suatu pekerjaan yang sangat berat. Legalitas sudah ada, wadah sudah ada, program, visi, misi dan platform serta SDM pun sudah ada, bahkan melimpah.

Sosialisasi
Jung tombak penyampaian ajaran Islam adalah para ‘da’I’. Ajaran Islam mempunyai banyak kandungan, antara lain, bagaimana cara orang berniaga(ekonomi), berpolitik dan sebagainya. Da’I mempunyai makna strategis dalam rangka sosialisasi Islam sebagai agama politik. Da’I menjadi ujung tombak dan matarantai utama dan pertama dalam menyampaikan ajaran Islam secara benar serta menjadikan Islam sebagai Rahmatan lil Alamien.

Dakwah yang disampaikan oleh Wali Songo medmang belum selesai dan belum tuntas. Bukti belum tuntasnya Wali Songo dalam menyampaikan pemahaman ‘Islam yang kaffah’ adalah munculnya ‘Kejawen’ atau aliran kebatinan. Dari kejawen inilah munculnya Islam Abangan, yaitu memahami Islam hanya dengan sepotong-potong. Jangankan politik Islam, memahami ‘dzat dan sifat’ Allah s.w.t. sebagai dasar pembedaan muslim dan musyrik saja, ibarat jauh panggang dari api. Islam abangan inilah pendukung utama PDI Perjuangan yang sekuler.

Islam meliputi seluruh aspek kehidupan, termasuk di dalamnya aspek politik. Secara jujur, seorang da’I harus menyampaikannya kepada ummat, bukan hanya sekedar masalah halal dan haram saja. Oleh karenanya, kualifikasi seorang da’i, di samping menguasai ilmu fiqh, juga harus memahami eksistensi politik dalam perspektif Islam. Apakah pada ujungnya ummat akan memilih partai ‘A’ atau parta ‘B’ yang Islami, bukanlah hal yang penting.

Banyak ummat Islam (abangan) di pelosok Jawa (tengah dan selatan) merasa tak memiliki (sense of belonging) tehadap partai-partai Islam, bahkan mereka ketakutan, apabila partai-partai Islam memenangkan pemilu. Hal yang demikian jelas merupakan kerugian besar yang mungkin tak pernah disadari oleh para da’i. Kesan mendasar yang paling menakutkan bagi mereka adalah, bila partai Islam menang, maka akan diberlakukan: hokum potong tangan, hokum cambuk, hokum pancung, suami kawin lebih dari satu akan dipermudah dan sebagainya. Citra ini harus segera dirubah, harus!

Partai Komunis Indonesia (PKI) dalam mensosialisasikan program-programnya banyak menggunakan jalur seni dan budaya (ingat: LEKRA). Ummat Kristen, khususnya gereja jawa banyak memanfaatkan ‘gamelan’ untuk missi mereka, dalam rangka menarik perhatian pribumi jawa agar berbondong-bondong masuk Kristen. Media gamelan inilah yang dipergunakan oleh para Wali Songo untuk meng-Islamkan orang jawa dan ternyata sukses besar. Oleh karena itu, Kristen melakukan hal serupa, agar diperoleh hasil berupa.

Sosialisasi Islam sebagai agama politik juga harus menggunakan ‘jasa’ para da’I, di samping menggunakan jasa para kader partai yang telah ada. Atau sebaliknya, kaader-kader partai, sekaligus harus berperan atau harus bisa menjadi da’i. Dalam pengajian-ppengajian model Paramadina, atau pengajian-pengajian rakyat model alm. KH AR Fakhruddin (mantan Ketua Umum Muhammadiyah) di Yogyakarta, menjadi media ampuh untuk dijadikan lahan sosialisasi politik Islam.

Sosialisasi Islam sebagai agama politik sudah sangat mendesak, sebelum Islam di Indonesia diterjang gelombang dahsyat sekulerisasi ala Turki. Segala metode yang menguntungkan harus segera digalakkan oleh partai-partai Islam, agar massa Islam (termasuk Islam Abangan) menyadari sepenuhnya, bahwa partai Islam adalah ‘suatu kebutuhan hidup dalam bermasyarakat, berbangsa dan bernegara’.

* Artikel tersebut telah dimuat di majalah MEDIA DAKWAH No. 301, Rabiul Awal 1420 H. / Juli 1999.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: