Pencemaran Makanan Dan Akibatnya

Puasa Ramadhan menurut Nabi Muhammad s.a.w. menjadikan kita sehat, jasmani dan rohani (shummu tashihhu). Sehat jasmani artinya memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan, yaitu menu ‘empat sehat lima sempurna’. Standar gizi empat sehat lima sempurna inilah yang dicetuskan oleh Prof. Poerwo Soedarmo, dan merupakan pedoman gampang untuk mencapai gizi optimal. Untuk mendapatkan dan mempertahankan status gizi optimal, metode KISS (Keep It Simple Student) yang dikemukakan Patrick Quillin, PhD bisa menjadi acuan. Metode ini antara lain menerangkan, gizi optimal ialah gizi yang kuantitas dan kualitasnya cukup, sehingga tubuh berada pada kondisi sehat. Untuk mencapainya ternyata melibatkan rangkaian proses sejak belanja bahan makanan, saat mengolahnya, mengonsumsinya hingga membereskan peralatan makanan. Semua itu perlu mendapat perhatian ( http://www.gizi.net) Namun puasa juga bisa menjadi tidak sehat, bila makanan yang akan kita makan tercemar, di mana agen penyakit baik fisik, biologi dan kimia terdapat dalam makanan yang dapat menimbulkan gangguan kesehatan/penyakit. Kondisi pencemaran makanan dapat terjadi pada saat sebelum pengolahan makanan maupun dalam tahap penyimpanan dan pengangkutan makanan. Bergizi sehebat apapun, bila makanan sudah tercemar, bisa fatal akibatnya. Oleh karena itu, jika ingin memperoleh manfaat puasa sebagaimana dianjurkan Nabi s.a.w., kaidah-kaidah kebersihan (an-nadhofatul minal iman) harus tetap dijaga, agar tidak terjadi stigma terhadap apa arti puasa itu sendiri.

Pencemaran Makanan
Dinas Kesehatan DKI Jakarta dalam releasnya melalui http://www.dinkes-dki.go.id menyatakan bahwa penyakit-penyakit yang terjadi yang berhubungan dengan lingkungan dapat dikelompokkan sebagai berikut: 1) pencemaran air, 2) pencemaran udara, 3) pencemaran makanan/minuman, 4) pencemaran karena vektor (terjadinya penularan penyakit melalui binatang yang dapat jadi perantara penularan penyakit tertentu). Akhir-akhir ini, masyarakat disibukkan dengan informasi adanya pencemaran tahu, suatu produk makanan kegemaran masyarakat, yang dalam pengolahannya menggunakan bahan pengawet formalin, demikian juga beberapa waktu lalu, baso dengan boraks atau formalin.

Produsen makanan tahu yang masih menggunakan formalin untuk produknya karena mereka mempunyai pengetahuan yang tidak memadai mengenai bahaya bahan kimia terlarang, dan tingkat kesadaran akan kesehatan masyarakat yang rendah. Selain itu, formalin juga mudah dijumpai di pasar bebas dengan harga yang murah. Tujuan penggunaan formalin dalam pengolahan tahu adalah agar tahu mempunyai daya tahan lama, padahal fungsi pemakaian formalin adalah untuk mengawetkan mayat.

Untuk mengetahui secara pasti adanya formalin dalam produk pangan, khususnya tahu, baik secara kualitatif maupun kuantitatif secara akurat hanya dapat dilakukan di laboratorium dengan menggunakan pereaksi kimia. Namun secara umum, untuk mengetahui tahu tersebut mengandung formalin atau tidak adalah sebagai berikut:
•    Tidak rusak sampai tiga hari pada suhu kamar (25 derajat celcius) dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es
•    Tahu terlampau keras namun tidak padat
•    Bau agak menyengat, bau formalin, dengan kandungan formalin 0,5 – 1 ppm

Ciri-ciri ini juga terkandung makanan olahan lain yang mengandung formalin, seperti baso (keras), ikan segar (warna insang merah tua), dan ikan asin (bersih cerah dan tidak bau ikan asin). Untuk menghindarinya, maka perlu sikap waspada terhadap produk tertentu yang sering menggunakan formalin seperti tahu, baso, ikan basan dan ikan asin, dengan memperhatikan antara lain ciri-ciri yang telah disebutkan di atas. Di samping itu, masyarakat agar lebih selektif dan berhati-hat memilih produk pangan yang akan dikonsumsi dengan cara tidak segan-segan menanyakan kepada penjual pangan, apakah produknya menggunakan formalin atau tidak.

Sebenarnya pemerintah telah dengan tegas melarang penggunaan formalin dalam pangan, sebagaimana dituangkan dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 722/Menkes/Per/IX/1988, sedangkan tatacara perniagaannya diatur dengan Keputusan Menteri Perindustrian dan Perdagangan Nomor 254/MPP/Kep/7/2000.

Efek bagi kesehatan manusia bila mengkonsumsi produk pangan yang tercemar oleh formalin seperti tahu, baso, ikan basah maupun ikan asin adalah, efek akut berupa tenggorokan dan perut terasa terbakar, sait menelan, mual, muntah dan diare, kemungkinan terjadi pendarahan, sakit perut yang hebat, sakit kepala, hipotensi (tekanan darah rendah), kejang, tidak sadar hingga koma. Selain itu juga dapat terjadi kerusakan hati, jantung, otak, limpa, pankreas, sistem susunan syaraf pusat dan ginjal. Efek kronis berupa, timbul iritasi pada saluran pernapasan, muntah-muntah dan kepala pusing, rasa terbakar pada tenggorokan, penurunan suhu badan dan rasa gatal di dada. Bila dikonsumsi menahun, dapat menyebabkan kanker ( http://www.republika.co.id).

Halal dan baik
Memilih makanan memang tidak cukup hanya sehat, bergizi dan aman. Tapi bagi orang Islam, sebaiknya makanan pun harus memenuhi syarat halal dan baik: halalan thoyyiban. Hal ini sebagaimana difirmankan oleh Allah s.w.t dalam surat al-Maidah ayat 88: ‘Dan makanlah makanan yang halal lagi baik (halalan thoyyiban) dari apa yang Allah telah rezkikan kepadamu, dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya.’ Sungguh indah ajaran Islam.

Ayat tersebut di atas jelas-jelas telah menyuruh kita hanya memakan makanan yang halal dan baik saja, dua kesatuan yang tidak bisa dipisahkan, yang dapat diartikan halal dari segi syariah dan baik dari segi kesehatan, gizi, estetika dan lainnya. Sesuai dengan kaidah ushul fiqih, segala sesuatu yang Allah tidak melarangnya berarti halal. Dengan demikian semua makanan dan minuman di luar yang diharamkan adalah halal. Oleh karena itu, sebenarnya sangatlah sedikit makanan dan minuman yang diharamkan tersebut.

Oleh karena itu, makanan yang tercemar, seperti tahu berformalin, baso berformalin atau berboraks, ikan basah dan ikan asin berformalin, sudah barang tentu bukan makanan yang baik, karena tidak memenuhi standar makanan sehat, justru sebaliknya mencelakakan orang, yang pada gilirannya ummat islam akan menjadi lemah. Tentu saja hal yang demikian dilarang oleh Allah s.w.t.. Padahal disyari’atkannya puasa oleh Allah s.w.t. adalah agar ummat Islam ‘sehat’. Untuk itu, ada baiknya diperhatikan nasehat orang bijak, yaitu ‘gizi (sehat) ditentukan sejak belanja,’ karena tidak semua bahan makanan yang dijual di pasar, bersertifikat halal.

Pencemaran Makanan Dan Akibatnya, telah dimuat di majalah Amanah No. 67 TH XIX Nopember 2005 / Ramadhan – Syawal 1426 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: