Tantangan Islam Makin Berat

Dalam kurun waktu begitu singkat, ummat Islam di dunia mengalami banyak tantangan, dan bila tantangan tersebut tidak segera ditangani dengan baik, dikhawatirkan akan menggerus keimanan kaum muslimin secara nyata. Salah satu kekhawatiran tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Din Syamsuddin, guru besar Universitas Islam Jakarta dan salah seorang Ketua Muhammadiyah, memberikan sinyal halus kepada induk organisasinya, bahwa Muhammadiyah harus segera membahas tentang tafsir teologi Islam. Din menilai bahwa tafsir teologi yang dipunyai Muhammadiyah belum memadai, sehingga banyak kader muda Muhammadiyah lari atau menyeberang, baik ke aliran kiri maupun kanan, Ke kiri menjadi sangat ekstrim, misalnya mengikuti pola pikir Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam dan sebagainya, sedangkan ke kanan mengikuti pemahaman Islam yang liberal, semisal organisasi yang dinakodai Jaringan Islam Liberal maupun Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Penggerusan iman kaum muslimin ini, ditengarai sebagai grand design yang sedang dan mungkin telah disusun oleh kaum Yahudi dan Nasrani untuk menggoyahkan iman orang Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al-Baqarah ayat 120 yang menyatakan bahwa `orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu sebelum kamu mengikuti agama (millah) mereka’.

Jaringan Islam Liberal
Salah satu tantangan terberat Islam saat ini datang dari dalam komunitas Islam sendiri, yaitu Jaringan Islam Liberal (JIL), baik lokal maupun internasional. Mayoritas produk-produk JIL dinisbahkan pada teori hermeneutika humanistik, sehingga hasil kajian pemikirannya banyak mengandung kontroversial, yang sudah barang tentu membuat resah iman muslim tradisional maupun moderat yang sudah mapan. Pada intinya, mereka banyak menggunggat nash-nash (baik yang berasal dari al-Qur’an dan Hadits) yang `qat’iyyul wurud’ (sudah jelas perintah dan larangannya). Mereka lebih banyak menggunggat `budaya ke-Araban dan patriarkhi/garis laki-laki’, dalam era kekinian dianggap sudah out of date dan tidak memenuhi rasa keadilan. JIL didirikan di Jakarta pada tahun 2001, pada awalnya merupakan forum diskusi para intelektual muda Islam untuk menyebarkan konsep pemikiran Islam liberal di Indonesia, sekaligus membendung tumbuhnya pengaruh dan kegiatan para militan dan radikal Islam di Indonesia.

Menurut mereka, Islam liberal menggambarkan prinsip-prinsip Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas (bermakna: kebebasan dan pembebasan). Landasan mereka adalah, pertama membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi). Kedua, mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Dengan semangat ini, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal. Ketiga, mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural, artinya kebenaran dalam penafsiran keagamaan adalah sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu. Keempat, memihak pada yang minoritas dan tertindas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik dan ekonomi. Kelima, meyakini kebebasan beragama, artinya tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan. Keenam, memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik, artinya mereka menentang negara agama (teokrasi). Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, dan tidak mempunyai hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Hasil kajian mereka yang mendapat tentangan keras dari para pakar hukum Islam, adalah ketika mereka menerbitkan buku Pembaruan Hukum Islam: Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (bidang muamalat). Penyusun buku ini menamakan dirinya Tim Pengarustamaan Gender Departemen Agama RI. Menteri Agama RI ketika itu, telah menegur keras mereka dengan mengeluarkan surat teguran tertanggal 12 Oktober 2004, No. MA/271/2004. Mereka dilarang mengadakan seminar atau kegiatan serupa dan mengatasnamakan Depag RI, serta harus menyerahkan naskah asli buku tersebut (penulis telah menyampaikan pendapatnya pada majalah ini tentang hal tersebut, pada penerbitan no. 58 tahun XVIII Januari 2005, Dzulqaidah-Dzulhijjah 1425 H. dengan sub judul Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam).

Di bidang ubudiyyat, mereka mencoba menafsirkan tentang esensi ibadah Qurban, hal ini sebagaimana diusulkan Zulfan Barron, pemikir JIL. Dalam aturan yang baku, sebagaimana tercantum dalam surat Ash-Shaffat ayat 100-107, Qurban adalah mengikuti perilaku (sunnah) Nabi Ibrahim a.s. yang menyembelih puteranya Nabi Ismail a.s., atas ketaatan dan kecintaan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah s.w.t., namun akhirnya Nabi Ismail a.s. diganti dengan seekor domba. Perilaku ritual ini sampai saat ini, secara utuh dan teguh dilakukan oleh mayoritas ummat Islam di seluruh dunia.

Seiring dengan munculnya teori hermeneutika humanistik, yaitu suatu penafsiran yang menghubungkan antara kesadaran manusia dengan obyeknya (teks dan fenomena), maka kalangan JIL ingin menghadirkan makna baru dalam ibadah Qurban tersebut, dengan menggunakan pendekatan kesadaran praksis, yaitu kesadaran untuk mereformulasikan makna essensial ke dalam forma baru yang lebih relevan dengan ritme perkembangan zaman. Mereka menganggap bahwa selama ini ibadah Qurban hanya didasari atas tujuan kepuasan psikologis orang yang berkurban, dan seringkali karena pendistribusian hanya dibatasi dalam rentang waktu yang sangat pendek yang seharusnya diberikan kepada para fakir miskin, justru dibagikan kepada kalangan yang tidak cukup layak untuk menerimanya. Moeslim Abdurrahman menyebut hal ini sebagai `kemunkaran sosial.’

Onta dan domba adalah binatang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi di Saudi Arabia ketika zaman Nabi Muhammad s.a.w. dan menjadi konsumsi sehari-hari penduduk Arab. Karena konteks ibadah Qurban adalah kecintaan ummat manusia kepada sang Khaliq dan diwujudkan dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya (hewan qurban), maka ibadah qurban dapat dihadirkan dalam forma yang berbeda yaitu menggantikan posisi binatang ternak dengan sesuatu yang lain yang dianggap lebih berharga untuk konteks zaman ini, lebih-lebih memberikan maslahah bagi problematika keumatan. Forma baru tersebut berupa penyediaan dana dan pemanfaatan dana bagi para fakir miskin.

Contoh lain yang berkaitan dengan ubudiyyat adalah ketika beberapa tahun lalu, Masdar Farid Mas’udi mengusulkan pelaksanaan haji di luar bulan Dzulhijjah (Asyhurun Ma’lumat). Hal ini telah ditentang oleh berbagai kalangan. Di bidang Ilahiyyat (teologi), JIL cukup kencang menyuarakan teologi inklusif (pluralisme), yang ujung-ujungnya adalah semua agama sama. Paham ini juga dianut oleh sebagian ummat Katholik, khususnya dari Amerika Latin, dengan bentuk pemahaman Teologi Pembebasan. Sinyal ke arah itu sangat kuat, sebagaimana dapat dilihat dalam halaman depan website JIL, yaitu Tuhan Pengasih, Tuhan Penyang, Tuhan Segala Agama.

Wanita boleh Mengimami Laki
Dr. Aminah Wadud, Asisten Profesor Studi Islam di Departemen Filsafat dan Studi Agama, Virginia Commonwealth University, dengan keberanian yang luar biasa telah membuat sejarah dalam pemahaman hukum Islam. Keberanian dimaksud adalah menjadi khatib dan imam Shalat Jum’at pada tanggal 18 Maret 2005 di ruangan Synod House, Gereja Katedral Saint John The Divine, kawasan Upper Manhattan, New York. Sponsor shalat Jum’at adalah Muslim Wake Up dan Muslim Women’s Freedom Tour, dan mereka menyebutnya sebagai Historic Jum’at. Ritual ini diikuti oleh 50 jamaah, yang terdiri atas laki-laki dan wanita (sebagian tak berjilbab). Sebelum upacara dimulai, disampaikan ucapan selamat datang oleh Asra Nomani, wartawati Wall Street Journal asal Pakistan, membiarkan rambutnya tergerai sebahu tak berjilbab, muadzin dilantunkan oleh Sueyhla Al-Attar, penyiar radio di Atlanta Georgia, wanita asa Mesir, juga tak berjilbab. Aminah Wadud telah melakukannya untuk kali yang kedua, pertama tahun 1994 dilakukannya di Afrika Selatan.

Tak urung, ritual ini mendapat kecaman keras dari kalangan Islam seluruh dunia, termasuk di dalamnya Dr. Syed Thantawi, Grand Syaikh Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Juga Dr. Yusuf Qardhawi, yang menyatakan sepanjang sejarah Islam, tak pernah terdengar perempuan menjadi khatib dan imam shalat Jum’at.

Namun banyak juga yang mendukung keberanian Aminah Wadud tersebut. Di Indonesia, dukungan datang dari seorang kyai, yaitu KH Husein Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjowinangun Cirebon dan DR. Nur Rofi’ah, alumnus Ankara University Turki, sekarang dosen UIN Jakarta. KH Husein Muhammad penulis buku Fiqh Perempuan menyampaikan pendapatnya bahwa wanita dibolehkan menjadi umam shalat bagi siapa saja. Walaupun mayoritas madzhab Sunni melarangnya, namun ada ulama besar lainnya, semisal Abu Tsaur, Imam Mazni an Jarir al-Thabari membolehkan. Dasar hukum bagi yang melarang wanita menjadi imam bagi laki-laki hadits yang diriwiyatkan Ibn Majah yang berbunyi `Janganlah sekali-kali perempuan mengimami laki-laki….dst’ menurut Imam Nawawi, hadits ini dla’if.

Sedangkan dasar hukum yang membolehkan adalah hadits Ummi Waraqah yang berbunyi `… Nabi pernah berkunjung ke kediaman Ummi Waraqah, lalu menunjuk seseorang untuk adzan, dan memerintahkan Ummi Waraqah untuk mengimami keluarganya yang terdiri dari seorang lelaki lanjut usia dan seorang budak laki-laki serta perempuan’. Hadits ini dinyatakan lebih sahih, baik dari segi sanad dan matannya dibanding dengan hadits yang melarang wanita menjadi imam bagi laki-laki. Hal ini bisa dicek lebih lanjut pada kitab Mukhtasyar Sunan Abi Daud.

Demikian juga pendapat Dr. Nur Rofi’ah, sembari menambahkan bahwa secara sosiologis dan kultural, Islam hadir pertama kali pada masyarakat yang sangat kental berbudaya patriarkhi, mereka sangat mengagungkan lelaki dan merendahkan potensi kaum perempuan.

Pertanyaannya adalah, apakah hadits Ummu Waraqah walaupun lebih sahih, pertama dibolehkannya Ummu Waraqah menjadi imam dalam keadaan darurat (sebagai rukhshah), karena yang diimami adalah orang jompo dan budak atau berlaku umum? Kedua, sepanjang sejarah Nabi s.a.w., para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, apakah ada fakta yang menunjukkan wanita diizinkan menjadi khatib dan imam Jum’at ? Jawabannya, masih perlu diperdebatkan, karena diperbolehkannya wanita menjadi khatib dan imam pada shalat Jum’at, janganlah karena semata-mata alasan `gender’, sehingga hadits tersebut dijadikan dasar dan alasan pembenar (justifikasi)!

Menggugat Ke-Araban al-Qur’an
Majalah Newsweek edisi 28 Juli 2003 memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Stefan Theil pada halaman 49 yang berjudul `Challenging The Qur’an’. Stefan melansir pendapat Prof. Christhop Luxemberg, ahli bahasa Semitic di sebuah universitas terkenal di Jerman, yang menyatakan bahwa versi al-Qur’an yang ada pada saat ini salah salin (mistranscribed). Teks asli al-Qur’an lebih mirip bahasa Aramic daripada Arab. Naskah asli itu dimusnahkan oleh khalifah ketiga, Usman bin Affan. Konsekwensinya adalah terjemahan teks al-Qur’an dalam bahasa Arab dan Aramic akan timbul perbedaan. Misalnya dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa Muhammad adalah `penutu para Nabi’ dalam versi Aramic menjadi `saksi pada Nabi.’ Artinya, Nabi Muhammad s.a.w. bersaksi atas kebenaran teks Yahudi-Kristen. Dalam versi Arab, al-Qur’an sebagai `wahyu Allah’, namun dalam versi Aramic adalah `ajaran dari Injil kuno’. Sepanjang sejarah Islam, memang banyak orang yang memalsukan al-Qur’an, bahkan Allah s.w.t. menantangnya manusia dan jin untuk membuat al-Qur’an serupa. Allah menjamin “Kami yang menurunkan Dzikr (al-Qur’an), dan Kami-lah yang menjaganya.”

Pembelajaran dan Upaya Pembendungan
Islam memang diciptakan Allah s.w.t. penuh makna, tidak hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w., namun juga kepada semua Nabi (25). Allah juga menghalalkan ummat Islam untuk berdebat, berdiskusi maupun berbeda pendapat. Nabi s.a.w. malah mengatakan `beda pendapat itu rahmat’. Islam juga sangat mengagungkan akal, dengan akal itulah manusia akan mengenal, mendekatkan diri serta mencintai Allah lebih baik, mengenal ciptaan-ciptaanNya, bukan Dzat-Nya.

Jaringan Islam Liberal yang dipenuhi oleh Intelektual Muda Muslim berbakat, mestinya menjadi asset yang berharga bagi Islam. Pendapat-pendapatnya di bidang muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi) memang sangat dinamis dan brilyan. Dengan menggunakan pendekatan teori hermeneutika humanistik, JIL telah dan akan mereformulasikan makna essensial nash al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan ketiga bidang tersebut ke dalam forma baru yang lebih relevan dengan ritme perkembangan zaman. Dengan pendekatan ini, JIL ingin mengajak ummat Islam pada nuansa baru bagaimana cara mengenal, mendekatkan diri dan mencintai Allah s.w.t.yang lebih sederhana dan pragmatis. Bagi JIL, menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan ummat manusia, kerahmatan semesta dan kearifan sosial adalah prinsip. Oleh karena itu, Islam yang telah digariskan berlaku sepanjang tempat dan zaman, haruslah disesuaikan dengan ritme perkembangan zaman. Sebagai contoh, dilontarkannya gagasan pelarangan poligami, membolehkan muslimah nikah dengan lelaki bukan muslim, suami beriddah, wanita menjadi imam shalat bagi lelaki, berhaji dapat dilakukan di luar musim haji dan semua agama adalah sama. Bila mereka telah berani membongkar nash-nash yang `qat’iyyul wurud’ (sudah pasti) dengan menggunakan teori hermeneutika humanistik, semestinya JIL harus lebih progresif lagi, misalnya memperkarakan rukun iman, rukun islam, shalat lima waktu, shaum ramadhan, wanita boleh mempunyai suami lebih dari satu (poliandri), atau membolehkan ummat Islam beribadah di gereja, klenteng, candi dan sebagainya (teologi inklusif).

Ini semua adalah pembelajaran yang sangat berharga bagi ummat Islam, sekaligus tantangan yang sangat berat. Sejak zaman Rasullah s.a.w., rongrongan untuk merobohkan fondasi Islam, datang dari ummat Islam sendiri maupun kalangan di luar Islam (Yahudi dan Kristen, baca: al-Baqarah ayat 120). Mereka dilengkapi dengan metodologi atau teori yang sangat valid, dan bila ummat Islam tidak hati-hati `menterjemahkannya’, sudah dapat dipastikan akan tergelincir dan mengikuti paham mereka, dan pada gilirannya Islam akan menjadi agama yang mengikuti kemauan ummatnya, bukan sebaliknya, sebagai pembenar dan penuntun (amr ma’ruf nahi munkar).

Upaya untuk membendungnya adalah dengan merujuk firman Allah s.w.t. “Ajaklah ke jalan Tuhanmu, dengan hikmat, nasehat yang baik, atau, debatlah mereka dengan (cara) yang lebih baik” (QS Al-Nahl [16]: 125). Artinya, bila kita tidak menyetujui pendapat JIL, kita tidak boleh emosional, namun perbanyaklah forum diskusi, agar diperoleh kebenaran sejati. Sekali lagi berbeda pendapat dibolehkan dalam Islam, bahkan dianjurkan, benar mendapat nilai dua, salah mendapat nilai satu.

Tantangan Islam Semakin Berat, telah dimuat di majalah Amanah No. 63 TH XVIII Juni 2005 / Rabiul Akhir – Jumadil Awal 1426 H

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: