Islam di Azerbaijan

Sebagaimana Republik Georgia, bila tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Azerbaijan, tak mudah dikenali seperti saat ini. Azerbaijan dikenal sebagai sebuah negara di semenanung Balkan (sepenggal wilayah Eropa) yang mayoritas penduduknya beragama Islam sejak tahun 642 Masehi. Konflik berkepanjangan dengan Armenia, negara tetangganya, terjadi karena masalah Nagorno-Karabakh yang menyita perhatian dunia pada tahun 1980 hingga saat ini, suatu wilayah di Azerbaijan yang didominasi oleh penganut Kristen Ortodox.

Dengan luas wilayah 86.600 km2, sedikit lebih kecil dari negara bagian Maine Amerika Serikat, Republik Azerbaijan mempunyai iklim kering dengan padang rumput yang luas. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Iran, Armenia, dan Laut Caspia. Berpenduduk sekitar 7.911.974 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Azeri, Dagestan, Rusia, Armenia, mayoritas beragama Islam (93,4%), Kristen Ortodox (4,8%) dan lainnya 1,8%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,59% per-tahun, angka kelahiran 10,4 per-1000, dan angka kematian 9,86 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Azerbaijan, di samping bahasa Rusia, dan Armenia.

Ekonomi
Azerbaijan adalah negara baru bekas jajahan Uni Sovyet yang termasuk beruntung mempunyai sumber cadangan minyak yang cukup besar, dan oleh karenanya menjadi sumber devisa nomer satu bagi Azerbaijan. Kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (40,2%), industri (45,7%) dan pertanian (14,1%). Azerbaijan termasuk negara yang sukses dalam mengembangkan perekonomiannya, dan tidak memerlukan uluran tangan dari lembaga-lembaga keuangan dunia, seperti IMF maupun Bak Dunia. Walaupun tanpa bantuan lembaga keuangan dunia, Azerbaijan cukup mampu mengendalikan inflasi. Indikatornya adalah pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,8% (2004), inflasi hanya sebesar 4,6% dan income per-kapita sebesar US $ 3,800. Dengan angkatan kerja sebanyak 5,09 juta orang, 41% diserap oleh pertanian dan kehutanan, jasa 52% dan industri 7%, Sebagaimana Georgia, Azerbaijan termasuk negara yang cukup kaya di Eropa Timur.
Produk pertaniannya berkisar pada kapas, padi-padian, beras, anggur, buah-buah-buahan, sayuran, teh, tembakau, ternak kambing dan domba serta babi. Sedangkan industrinya berkisar pada minyak dan gas, baja, biji besi, semen, kimia dan petrokimia serta tekstil. Hasil komoditi yang dieksport minyak dan gas (90%), mesin, kapas, dan makanan olahan. Negara tujuan eksport adalah Italia, Ceko, Jerman, Turki, Rusia, Georgia dan Perancis. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin dan peralatannya, produk minyak, makanan olahan, dan kimia. Import berasal dari Inggris, Turki, Rusia, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Italia dan Ukraina. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Azerbaijan Manat (AZM), dan US $ 1,- senilai 4,913.48 AZM.

Sejarah Pemerintahan
Republic Azerbaijan dengan ibukotanya BAKU, terbagi dalam 59 rayons, 11 cities dan 1 republik otonom, memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 30 Agustus 1991, sedangkan hari nasional diperingati setiap tanggal 28 Mei. Karena didasarkan pada berdirinya Republik Demokratik Azerbaijan pada tanggal 28 Mei 1918. Sejak abad ke-10 sebelum Masehi, Azerbaijan telah diperintah oleh beberapa kerajaan, antara lain Mannai dan Medes. Kerajaan Medes yang berbasis pada penduduk Indo-Eropa kuno lebih berjaya, namun kejayaan kerajaan ini mengundang kerajaan lain di luar Azerbaijan untuk mengekspansi, antara lain dari Persia, Yunan, Roma dan Albania. Puncaknya adalah ketika tentara Arab (Islam) menyerbu Azerbaijan pada abad ke-7 (642 M.), menaklukkan tentara Kristen. Selanjutnya Azerbaijan dikuasai oleh Turki pada abad ke-11 hingga abad ke-18, dan pada akhirnya Rusia (Uni Sovyet) menganeksasinya hingga abad ke-20.

Uni Sovyet mendominasi Azerbaijan cukup lama, dua abad lamanya. Mereka menguasai pemerintahan dan bisnis minyak, sehingga orang-orang Azeri terpinggirkan, dan hanya menguasai sektor swasta. Bibit untuk memperoleh kemerdekaan dari Uni Sovyet dimulai pada tahun 1903 ketika para intelektual Azeri membentuk badan yang disebut Himmat dan berubah menjadi Musavat pada tahun 1912. Ketika terjadi Revolusi Bolshevik tahun 1917, orang-orang Rusia dan Armenia (kebanyakan tinggal di Nagorno-Karabakh, yang kemudian hari bentrok dengan pemerintah Azerbaijan) yang berada di Azerbaijan mendeklarasikan republik marxis, sedangkan para nasionalis muslim mendirikan Republik Demokratik Rakyat Azerbaijan pada bulan Mei 1918, sekaligus membentuk tentara Islam dengan bantuan pemerintahan Ottoman Turki.

Invasi Uni Sovyet ke Azerbaijan dilakukan pada tahun 1922 dan berkuasa secara mutlak selama 71 tahun hingga tahun 1991, dan selama itu pula, mereka mengontrol politik dan ekonomi Azerbaijan secara ketat. Presiden komunis pertama Azerbaijan adalah Nariman Narimanov, namun beliu akhirnya dibunuh oleh agen Stalin pada tahun 1925, dan untuk selanjutnya Azerbaijan di bawah cengkeraman Moskow. Pada tahun 1969, muncul pemimpin baru yaitu Heydar Aliyev, pemimpin Partai Komunis Azerbaijan, dan menjadi anggota penuh politbiro Uni Soviet tahun 1982, menjadi tokoh penting Azerbaijan. Peristiwa penting lain di Azerbaijan adalah ketika Nagorno-Karabakh yang mayoritas penduduknya orang-orang Armenia ingin memisahkan diri dari Azerbaijan dan ingin bergabung dengan Armenia pada tahun 1980. Tentu saja hal tersebut ditolak oleh pemerintah Uni Soviet, walaupun trend glasnost dan perestroika sedang marak di seluruh kekuasaan Uni Soviet tahun 1988. Akibatnya terjadi bentrok dahsyat antara orang-orang Armenia dan Azeri. Pada Januari 1990, tank-tank Soviet menyerang ibukota Baku untuk melindungi orang-orang Armenia. Kejadian ini dikenal dengan Black Januari, yang menewaskan kurang lebih 100 orang Azeri, dan akibatnya banyak orang Armenia dan Azeri meninggalkan Azerbaijan.

Karena terjadi eskalasi perang dalam skala penuh, maka pada bulan Agustus 1991, Ayaz Mutalibov, mendeklarasikan berdirinya Republik Azerbaijan, dan beliau sekaligus diangkat sebagai Presiden pertama setelah berakhir invasi Uni Soviet. Namun persoalan Nagorno-Karabakh tetap menjadi duri dalam daging, karena pada tahun itu juga orang-orang Armenia menyerang orang-orang Azeri dan menewaskan tak kurang 600 orang.

Pada Juni 1992 diadakan pemilihan presiden, dan Abulfaz Elchibey terpilih sebagai presiden. Namun pada pemerintahan Elchibey, kondisi Azerbaijan tidak semakin membaik, justru timbul chaos, pertama karena masalah Nagorno-Karabakh, dan kedua karena peran militer yang tidak kondusif. Akhirnya, National Council pada Juni 1993 menunjuk Heydar Aliyev, mantan anggota KGB dan pemimpin Partai Komunis Azerbaijan sebagai Presiden menggantikan Elchibey. Pada bulan Oktober 1993, ketika pemilihan presiden diselenggarakan walaupun terjadi boikot, Heydar Aliyev memperoleh suara sebanyak 98.8%, dan terpilih sebagai presiden. Pada pemerintahan Heydar Aliyev inilah situasi Azerbaijan agak tenang, walaupun diselingi adanya kudeta dan terbunuhnya 20.000 orang dan jutaan lainnya menjadi pengungsi pada tahun 1994 karena masalah Nagorno-Karabakh. Heydar Aliyev terpilih kembali sebagai presiden pada tahun 1998.

Karena kondisi kesehatannya, pada pemilu Oktober 2003, Heydar Aliyev merekomendasikan putra lelakinya, Ilham Aliyev untuk mengikuti pemilihan presiden, dan terbukti Ilham Aliyev dapat memenangkannya dan pada tanggal 31 Oktober 2003 dikukuhkan sebagai Presiden Azerbaijan. Sayangnya, Heyder Aliyev tak dapat melihat lebih lama putranya menjadi presiden, karena pada tanggal 12 Desember 2003 beliau wafat di sebuah klinik di Cleveland, Ohio Amerika Serikat. Ilham Aliyev dipuji oleh banyak orang (walaupun mantan playboy), karena kecerdasannya, murah senyum dan speaks fluent English, serta mempunyai link khusus dengan CIA, di samping mewarisi karisma ayahnya.

Perkembangan Islam di Azerbaijan
Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, the free ecyclopedia, Islam masuk ke Azerbaijan pada abad ke-7 (tahun 642), bertepatan dengan invasi Arab ke negara tersebut dan secara berangsur-angsur menggantikan posisi Zoroaster dan aliran animisme di negara tersebut, hingga jumlah pemeluknya mencapai 96% dari total penduduk. Imperium Bani Seljuk Turki pada abad ke-10 masuk ke Azerbaijan dan mengalahkan imperium Byzantium pada abad ke-11 dan terjadilah kawin campur antara bangsa Turki dan Persia. Pada abad ke-13, Mongol masuk Azerbaijan ketika Temudjin atau Genghis Khan.

Kejayaan Islam di Azerbaijan semakin terasa, ketika Dinasti Safavid berkuasa di Azerbaijan pada abad ke-15. Shah (raja) pertama dinasti Safavid, yaitu Shah Ismail I (1486-1524) mendeklarasikan paham Syiah Islam sebagai agama resmi negara, walaupun mayoritas penganut Islam di Azerbaijan adalah Sunni. Hal ini menimbulkan ketidaksenangan pemerintahan Ottoman Turki yang menganut paham sunni.

Pada abad ke-19, banyak warga muslim sunni Azeri bermigrasi dari Rusia ke Azerbaijan, namun jumlah penganut Syiah pada akhir abad ke-19 terlanjur menjadi mayoritas di Azerbaijan (70%), sedangkan Sunni 30%. Para penganut Syi’ah maupun Sunni, akhirnya bersepakat untuk mengurangi ketegangan dan lebih menjunjung perasaan nasionalismenya sebagai warga Azerbaijan. Ketika Uni Soviet menginvasi Azerbaijan pada tahun 1806, dan menjadi bagian tak terpisahkan dengan Uni Soviet tahun 1920, di Azerbaijan terdapat 2.000 masjid. Namun sedihnya, setelah Uni Soviet menguasai Azerbaijan dan pengaruh komunis Soviet sangat mendalam, maka keberadaan Islam di Azerbaijan tercabik-cabik, sehingga pada tahun 1930 sampai perang dunia kedua, banyak masjid yang ditutup. Hal ini berlanjut hingga tahun 1980, sehingga masjid di ibukota Baku saja hanya tingal 2 (dua) masjid besar dan 5 (lima) masjid kecil.

Alhamdulillah, ketika Azerbaijan memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tahun 1991, kehidupan agama Islam bangkit kembali. Pembangunan masjid dan pembelajaran terhadap Islam tumbuh pesat, serta bantuan dari negara Islam, seperti Saudi Arabia, Iran dan Oman masuk dengan deras. Namun pengaruh Uni Soviet tetap terasa. Indikatornya, walaupun Islam dipeluk oleh 96% warga Azerbaijan, negara tidak otomatis mengadopsi Islam sebagai dasar negara. Pada Artikel 6 Undang-Undang Dasar Azerbaijan disebutkan bahwa ‘Azerbaijan adalah negara sekuler’. Demikian pula peran politikus Islam, sangat terbatas, baik dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.

Artikel ini telah dimuat di majalah Amanah No. 66 TH XIX Oktober 2005 / Sya’ban – Ramadhan 1426 H

Islam di Georgia

Seandainya tidak ada perestroika (reformasi) yang dicanangkan oleh Mikhail Gorbachev, mantan Presiden Uni Soviet dekade 90-an yang lalu, maka Republik Georgia dan negara-negara di wilayah Balkan, tak akan pernah merdeka dan mungkin tak banyak dikenal secara luas seperti saat ini. Georgia dikenal sebagai negara pegunungan, karena dikelilingi oleh Pegunungan Kaukasus yang agung, sehingga menumbuhkan banyak sungai yang bermuara di Laut Hitam dan Laut Kaspia. Orang-orang Georgia menyebut dirinya sebagai Kartvelebi, nama Georgia diberikan oleh para penduduk Eropa Barat, karena Santo (orang suci Katholik) St. George berasal dari daerah itu. Kerajaan kuno di Georgia telah dikenal pada abad ke-5 sebelum masehi, yaitu Kerajaan Colchis dan pada abad ke-3 sebelum masehi Kerajaan Kartli-Iberia, dan secara berurutan, Georgia pernah dikuasai oleh Arab, Persia, Turki dan Uni Soviet. Dengan luas wilayah 70.000 km2, dua kali luas wilayah Belgia atau Swiss, Republik Georgia mempunyai iklim yang moderat dan hangat. Negara ini berbatasan dengan Rusia, Turki, Armenia, Azerbaijan dan Laut Hitam. Berpenduduk sekitar 4.677.401 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Georgia, Azeri, Armenia, dan Rusia, mayoritas beragama Kristen Ortodox (83,9%), Islam (10%) dan lainnya 7%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata di bawah 0,35% per-tahun, angka kelahiran 10,25 per-1000, dan angka kematian 9,09 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Abkhazia, di samping bahasa Rusia, Armenia, dan Azeri.

Ekonomi
Walaupun Georgia masuk dalam wilayah Eropa Timur, namun kegiatan utama perekonomiannya didominasi oleh bidang jasa (56,9%), industri (22,6%) dan pertanian (20,5%). Pada tahun 1995, Georgia mengajukan permohonan bantuan dana kepada IMF dan World Bank untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan mengendalikan inflasi. Ternyata pemerintahan Georgia dapat memanfaatkan bantuan tersebut dengan baik. Indikatornya, pertumbuhan ekonominya cukup fantastik mencapai sekitar 9,5%, inflasi hanya sebesar 5,5% dan income per-kapita sebesar US $ 3,100. Dengan angkatan kerja sebanyak 2 juta orang, 40% diserap oleh pertanian, jasa 40% dan industri 20%, Georgia merupakan salah satu negara di Eropa Timur yang cukup kaya. Produk pertaniannya berkisar pada jeruk, anggur, teh, kenari, sayuran dan binatang ternak. Sedangkan produk industrinya berkisar pada baja, pesawat terbang, alat permesinan, elektrik, tambang mangaan dan tembaga, kimia, produk perkayuan, dan anggur. Hasil komoditi yang dieksport besi tua, permesinan, kimia, minyak hasil olahan, buah jeruk teh dan anggur. Negara tujuan eksport adalah Turki, Rusia, Spanyol, Turkmenistan, Armenia dan Yunani. Sedangkan komoditi yang diimport adalah minyak, permesinan, peralatan transportasi, padia-padian dan produk makanan, serta farmasi. Import berasal dari Amerika Serikat, Turki, Rusia, Jerman, Inggris, Azerbaijan, Ukraina dan Italia. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Lari (GEL), dan US $ 1,- senilai 1,9167 Lari (GEL).

Sejarah Pemerintahan
Republic of Georgia dengan ibukotanya T’BILISI, terbagi dalam 9 regions, 9 cities dan 2 republik otonom (Abkhasia dan Ajaria), memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet pada tanggal 9 April 1991.

Jauh sebelum memperoleh kemerdekaan dari Uni Soviet, pada abad ke-6 sebelum masehi, telah muncul sebuah negara pertama di Georgia, tepatnya di tepi Laut Hitam, yaitu Kingdom of Colchis dan diteruskan pada abad ke-3 sebelum masehi Kingdom of Kartli-Iberia. Selanjutnya Georgia mengalami zaman keemasan pada abad ke-11 dan ke-12 ketika King David the Buliders memerintah negara itu, yang kemudian dilanjutkan oleh cicit beliau Queen Tamara. Ketika mereka berkuasa, banyak dibangun gedung-gedung besar yang cantik seperti di Gelati dan Cardzia, serta suburnya karya kesusasteraan.

Setelah itu, kerajaan demi kerajaan terus berkembang di Georgia, antara lain pada abad ke-18 ketika King Taimuraz II dan Herekle II berkuasa, hingga King Solomon II yang memohon bantuan kepada Ratu Catherine dari Kerajaan Rusia, karena adanya penyerbuan tentara Turki. Akhirnya pada tanggal 18 Desember 1800, Tsar Paul I dari Kerajaan Rusia menganeksasi Georgia, dan untuk seterusnya, Georgia berintegrasi pada sistem pemerintahan Rusia, termasuk ketika Rusia berubah menjadi motor penggerak paham Marxis, dikenal dengan Revolusi Bolshevicks yang dikomandoi Lenin pada tahun 1917.

Integrasi dengan Uni Soviet berakhir, ketika Gorbachev mencanangkan program perestroika pada tahun 1990, yang mengakibatkan seluruh negara di sekitar Balkan yang tadinya berintegrasi dengan Uni Soviet memerdekakan diri. Pada tanggal 9 April 1991, Georgia memproklamirkan kemerdekaannya dari Uni Soviet, dan terpilih sebagai Presiden pertama Zviad Gamsakhurdia. Pemerintahan Gamskhurdia tak berumur panjang, karena pada tahun 1992 terjadi kemelut hebat, sehingga pemerintahan berpindah ke Parlemen, dan Edward Shevardnadze, mantan menteri luar negeri Uni Soviet diangkat sebagai Presiden. Pemerintahan Shevardnadze berakhir setelah terjadi Revolusi Bunga pada tahun 2004, dan akhirnya Mikheil Saakashvili terpilih sebagai presiden hingga saat ini.

Perkembangan Islam di Georgia
George Sanikidze dan Edward W. Walker, dari University of California, Berkeley, penulis artikel Islam and Islami Practices in Georgia, memberikan ilustrasi panjang lebar tentang Islam di Georgia.

Sebagaimana Rusia, mayoritas penduduk Georgia menganut agama Kristen selama berabad-abad, dan merupakan sebuah negara pertama di Eropa yang mengadopsi Kristen sebagai agama negara selama beberapa dekade.

Islam masuk ke Georgia pada abad ke-8 masehi, ketika Arab menduduki Tbilisi selama 4 dekade, dan menjadikannya sebagai ibukota emirat Islam (Nisba’ at-Tiflisi). Namun kota ini direbut kembali oleh King David IV pada tahun 1122, dan dijadikan ibukota kerajaan Kristen Georgia. Namun pada abad ke-16 dan ke-17, Islam kembali merambah Georgia, ketika Kerajaan Ottoman Turki dan Safavids Iran mengalami zaman keemasan, sehingga ketika Rusia menguasai Georgia pada abad ke-19, komunitas Islam di Georgia mencapai jumlah 20%. Namun pada sensus yang diadakan pada tahun 1989 dan 2002, jumlah pemeluk Islam di Georgia sekitar 12% (640.000). Mayoritas dari mereka menganut paham Sunni (madzhab Hanafi dan Syafi’i) dan Syi’ah.

Basis terkuat penganut Islam di Georgia adalah di Republik otonom Ajaria dan Abkhazia, Meskhetia.. Sampai dengan tahun 1770, mayoritas penduduk Republik otonom Ajaria adalah Kristen, namun ketika kekuasaan Imperium Ottoman Turki masuk ke Balkan pada abad ke-16 dan 17, dan puncak-puncaknya pada tahun 1820, penganut Islam mulai menyeruak di republik otonom tersebut. Islam di Ajaria mengalami kemunduran pesat ketika Uni Soviet mencengkeram Georgia dengan ajaran komunismenya, dan tekanan semakin menjadi-jadi setelah perang dunia kedua. Akibatnya banyak praktek agama Islam yang ditinggalkan oleh generasi muda, kini setelah Uni Soviet bangkrut, Kristen merebut peluang untuk memurtadkan mereka. Yang paling menyakitkan hati ummat Islam Ajaria adalah murtadnya tokoh politik muslim, mantan presiden otonom Ajaria, Aslan Abashidze, ke agama Kristen (tak disebutkan, tahun berapa beliau murtad). Menyusul murtadnya Aslan Abashidze, menurut laporan yang sangat terpercaya, pembangunan masjid pun mandeg selama beberapa tahun belakangan ini di Ajaria. Di Ibukota Batumi, hanya terdapat sebuah masjid, padahal gereja berdiri kokoh sebanyak 14 buah.

Islam terusir dari Abkhazia ketika Uni Soviet menguasai Georgia pada tahun 1860-an, dan memang pemeluk Islam di Abkhazia berasal dari Turki yang biasa disebut Mohajiroba. Baik di Ajaria maupun Abkhazia, para pemeluk Islam mempraktekkan Islam sesuai dengan madzhab Sunni (Hanafi). Sebagaimana di Ajaria, banyak muslim Abkhazia yang murtad ke Kristen, puncaknya ketika Uni Soviet berkuasa di Georgia antara tahun 1866-1902, sebanyak 21.236 muslim beralih ke Kristen. Seperti kata Nestor Lakoba, sekretaris pertama Partai Komunis Abkhazia, pada dasarnya orang-orang Abkhazia adalah atheis dan tak mampunyai kepercayaan, agama bagi mereka tak mempunyai arti.

Populasi muslim di Meskhetia berasal dari Turki yang masuk ke daerah tersedbut pada abad ke-16. Pengaruh Turki sangat kuat, sehingga mereka tidak mau menggunakan nama-nama Georgia bagi keluarga mereka, karena nama-nama Georgia berarti Kristen. Selama perang dunia kedua, banyak warga muslim Turki yang dideportasi ke negara asal, sekitar 100.000 orang, dan mereka mulai kembali ke Georgia pada tahun 1969. Repatriasi ini beralnjut sampai dengan tahun 1989, dan selanjutnya program repatriasi ini dikoordinasi oleh pemerintah Georgia pada tahun 1994 melalui Ministry of Refugees and Settlement.

Sedangkan ditinjau dari etnis, banyak muslim di Georgia berasal dari Turki, Azeri, Avar, Tatar, Kazakh, Uzbek dan Tajik. Etnis-etnis inilah yang mewarnai kehidupan muslimin di Georgia, di samping penduduk asli Georgia sendiri. Kebanyakan etnis yang menempati Georgia bagian timur banyak menganut paham sufi (Naqsabandiyah dan Qadiriyah).

Pada saat ini, pemerintah Georgia lebih menekankan pada toleransi dalam kehidupan beragama, oleh karena itu para pemimpin Islam di sana menyadari terhadap perubahan situasi, walaupun pada masa lalu, mereka pernah berjaya di Georgia.

Islam di Georgia, telah dimuat di Majalah Amanah, No 65, th XIX Agustus 2005 / Jumadil Akhir – Rajab 1426 H

Islam di Nepal

Menyebut nama Nepal, pasti orang teringat akan pegunungan Himalaya, tentara Gurkha dan agama Hindu/Budha. Negara yang sepanjang tahun dingin, dan terkenal dengan kepiawaian penduduknya (suku Serpha) sebagai pemandu para pemanjat pegunungan Himalaya, terapit oleh dua negara besar, yaitu Cina dan India. Nepal dikenal sebagai negara dengan sistem kerajaan tertua di dunia, di mana pendiri agama Budha, yaitu Siddharta Gautama lahir pada tahun 563 sebelum Masehi. Agama Budha akhirnya dipeluk oleh orang Nepal selama berabad-abad sampai dengan tahun 200 sebelum masehi, namun akhirnya penduduk Nepal lebih memilih Hindu sebagai agama mereka. Hal ini karena adanya invasi penduduk India bagian utara yang dikenal sebagai Dinasti Gupta, pembawa agama Hindu, kepada kerajaan Licchavi di lembah Kathmandu. Dengan wilayah seluas 140.800 km2, seluas Arkansas, beriklim dingin menyengat dan bagian selatan sedikit hangat, berbatasan dengan dua negara besar, Cina dan India. Berpenduduk lumayan padat, sekitar 27.676.547 orang, terdiri dari berbagai suku, antara lain Brahman, Chetri, Newar, Gurung, Magar, Tamang, Rai, Limbu, Sherpa dan Tharu, mayoritas menganut agama Hindu (86,2%), Budha (7,8%), Islam (3,8%) dan lainnya 2,2%. Angka pertumbuhan penduduk rata-rata 2,2% per-tahun, angka kelahiran 31,45 per-1000, dan angka kematian 9,47 per-1000. Bahasa nasional mereka adalah Nepali, sedangkan bahasa Inggris dipergunakan untuk kalangan pemerintahan dan bisnis

Ekonomi
Nepal termasuk salah satu negara termiskin dan sedikit berkembang di dunia, dengan jumlah penduduk 40% di bawah garis kemiskinan. Sumber ekonomi sangat tergantung pertanian (80%) dan memberikan sumbangan 40% GDP. Kegiatan industri juga tak beranjak jauh dari produk hasil pertanian, antara lain serat sisal (jute), gula, tembakau dan padi-padian. Nepal juga mengandalkan devisa dari para turis, namun saat ini agak terkendala, karena adanya pemberontakan pra penganut Maois. Angka pertumbuhan sekitar 3% per-tahun, dengan inflasi rata-rata 2,9% per-tahun, Nepal tetap dinyatakan sebagai negara termiskin di dunia, apalagi dengan jumlah penduduk 42% di bawah garis kemiskinan, sungguh berat bagi Nepal untuk beranjak maju. Angkatan kerja sebanyak 10 juta orang (sangat kekurangan buruh yang mempunyai skill), 81% diserap oleh pertanian, dan 3% diserap oleh industri. Hasil pertanian berkisar pada padi, jagung, gandum, gula, susu, rumput hasil panen, dan daging kerbau. Sedangkan hasil industrinya berkisar pada produk turis, karpet, tekstil, produk padi, jute, dula, rokok dan semen. Hasil komoditi yang dieksport adalah karpet, baju, padi-padian, produk kulit dan produk jute. Tujuan eksport adalah India, Amerika Serikat dan Jerman. Sedangkan komoditi yang diimport adalah emas, mesin dan peralatan, minyak dan pupuk. Import berasal dari India, Cina, Uni Emirat Arab, Singapura, Saudi Arabia dan Kuwait. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Nepalese rupee (NPR), dan US $ 1,- senilai 76,1414 NPR.

Sejarah Pemerintahan
Kingdom of Nepal (Nepal) dengan ibukkotanya KATHMANDU, adalah salah satu kerajaan tertua di dunia (500 sebelum Masehi), namun baru menyatakan kemerdekaannya pada tahun 1768, ketika Prithvi Narayan Shah berkuasa. Nepal terbagi dalam 14 divisi administrasi. Pada awalnya, kerajaan kuno Nepal dimula pada tahun 2000 sampai dengan 1500 sebelum Masehi, ketika suku Arya bermigrasi dari India utara ke Nepal dan mereka membentuk kerajaan-kerajaan kecil. Pada tahun 500 sebelum Masehi, berdiri kerajaan Tarai dari klan Sakya. Pada masa kerajaan Tarai inilah, tahun 563 sebelum Masehi, lahir seorang pendiri agama Budha, Siddharta Gautama, dari kerajaan Tarai (berasal dari suku Sakya). Kerajaan kuno Nepal akhirnya silih berganti, hingga akhirnya pada abad ke-5 Masehi, berdiri kerajaan Licchavi yang menjadi cikal bakal kerajaan Nepal saat ini. Dinasti Licchavi kuno yang berbasis di lembah Kathmandu ini mengalami zaman keemasan ketika dipimpin oleh Manadeva I (menguasai Nepal hingga abad ke-8). Kerajaan Licchavi digantikan oleh kerajaan Malla yang berjaya hingga abad ke-18. Dinasti Malla mengalami masa-masa kejayaan ketika Jayasthimalla, Jayajyotirmalla dan Yakshamalla memerintah (abad ke-13-15), namun mengalami perpecahan ketika anak cucu mereka berkuasa, menjadi tiga kerajaan, yaitu Bhadgaon, Kathmandu dan Patan. Pada akhir masa dinasti Malla inilah terjadi kontak pertama dengan bangsa barat, yaitu misionaris Portugis, John Cabral dan Stephen Cacella pada tahun 1628, dan dilanjutkan pada tahun 1715, oleh misi Capuchin. Setelah kerajaan Malla jatuh, pada tahun 1743, Prithvi Narayan Shah, anak cucu pendiri Kerajaan Gorkha, Dravya Shah (1559), dalam sejarah Nepal dianggap sebagai Bapak pendiri Nepal. Beliaulah yang menyatukan Nepal menjadi sebuah negara modern, dan karena beliau memerintah pada tahun 1768, maka tahun 1768 diperingati sebagai hari kemerdekaan Nepal. Pada abad ke-20, tepatnya pada tahun 1930, rakyat Nepal mulai sadar politik, dan akhirnya pada tahun 1935 muncul parpol pertama di Nepal, yaitu Praja Parishda (People’s Council), namun gagal karena diberangus oleh dinasti Rana. Namun mereka tidak patah semangat, karena pada tahun 1947 muncul partai baru, yaitu The Nepali National Congress (Nepali Rashtriya Congress) yang dimotori oleh Bishweshwar Prasad (BP) Koirala. Pada pemilu tahun 1959, ketika Raja Mahendra dari Dinasti Rana berkuasa, The Nepali Congres Party menang, dan BP Koirala membentuk pemerintahan sekaligus menjadi Perdana Menteri Nepal. Namun 18 bulan kemudian, pemerintahan Koirala dijatuhkan oleh Raja Mahendra, dan Raja Mahendra memberlakukan konstitusi baru pada tanggal 16 Desember 1962. Konstitusi baru ini memberlakukan ‘sistem panchayat’ yang pada intinya negara tanpa partai dan Raja Nepal adalah Kepala Negara yang mempunyai kekuasaan tunggal, baik di pemerintahan (kabinet) maupun parlemen. Tahun 1972, Raja Mahendra digantikan oleh putranya Raja Birendra. Ketika Raja Birendra berkuasa inilah muncul demontrasi mahasiswa anti monarki pada tahun 1979, dan akhirnya Raja Birendra tunduk pada tuntutan para demonstran. Tuntutan demonstran adalah perlu diadakan referendum nasional untuk membentuk pemerintahan dengan meneruskan sistem panchayat namun sistem ini harus dibentuk dengan cara pemilihan multipartai. Referendum dilakukan pada tahun 1980 Sistem panchayyat dengan model multipartai menang. Reformasi politik terus dijalankan, dan akhirnya pada tahun 1990 Nepal mengadopsi demokrasi parlementer. Akibat kran demokrasi yang begitu longgar, rakyat Nepal bergerak terlalu cepat, dan membuat pemerintah Nepal bertindak represif. Tindakan represif yang dilakukan pemerintah memunculkan gerakan bawah tanah yang sangat ditakuti, dikenal dengan gerakan Maoist (Partai Komunis Nepal/penganut paham Mao Tse Tung). Gerakan Maoist memaklumkan perang rakyat pada tanggal 13 Pebruari 1996, yang mengakibatkan banyak korban hingga saat ini. Tokoh terkenal Maoist Nepal adalah Dr. Baburan Bhattarai dan Pushpa Kamal Dahal (Prachanda). Pada bulan Juni 2001 adalah bulan naas bagi keluarga kerajaan, karena Raja Birendra, beserta permaisuri Aishwarya dan 11 keluarga kerajaan tewas ditembak oleh putra mahkota Dipendra. Akhirnya kekuasaan jatuh ke tangan saudara raja Birendra, yaitu Putra Mahkota Gyanendra. Raja Gayendra Bir Bikram Shah akhirnya mengontrol penuh kerajaan Nepal sejak tahun 2002, dan pada tanggal 1 Pebruari 2005, beliau diperpanjang masa jabatannya sebagai raja Nepal.

Perkembangan Islam di Nepal
Jumlah penganut Islam di Nepal tidak banyak, yaitu sekitar 3,8%, sedangkan Hindu menempati ranking pertama yaitu 86,2%, dan kedua Budha sebesar 7,8% (CIA World Fact). Dapat dibayangkan, bagaimana sulitnya kaum muslim di Nepal mengamalkan syari’at Islam. Sebagaimana direlease oleh Islamicpopulation, Islam masuk ke Nepal, ketika para pedagang Arab memasuki Nepal pada abad ke-5 Hijriyah (sekitar abad ke-11 Masehi). Muslim Nepal berbicara dalam bahasa Urdu, dan berjumlah 8%, bukan 3,8%. Mereka kebanyakan tinggal di daerah pegunungan yang berbatasan dengan India, dan sangat terbelakang dalam dunia perekonomian serta industri. Penyebabnya adalah bahwa mayoritas dari mereka tidak mempunyai kemampuan sebagai pekerja, dan hanya terbatas berkemampuan sebagai petani. Islamicpopulation juga menyatakan bahwa para penganut Islam di Nepal sangat kesulitan untuk mengamalkan ajaran Islam, khususnya hukum Islam, karena memang di Nepal tidak ada regulasi untuk itu. Sheikh Muhammad Nassir Al-Abboudy, Asisten Sekretaris Jendral Rabithah al-Alam al-Islami mengatakan bahwa kaum muslimin di Nepal tidak mampu bersaing karena keterbelakangan mereka di bidang sosial, ekonomi dan politik, termasuk tidak mampu bersaing dengan para misionaris Kristen. Para misionaris Kristen di Nepal telah berhasil membuka sekolah, klinik (rumah sakit), perpustakaan, termasuk memberikan dana segar kepada penduduk Nepal. Mereka juga mampu mengirim penduduk Nepal yang telah beralih ke Kristen (murtad) ke seminari-seminari, baik di Eropa maupun Amerika Serikat, dengan tujuan agar mereka beradaptasi dengan logika (brainwash) Kristen. Untuk mengimbangi kegigihan para misionaris Kristen tersebut, para pemuka Islam di Nepal mengajukan permohonan dana ke negara-negara Arab, khususnya Saudi Arabia dan Mesir. Dengan dana tersebut para mahasiswa muslim Nepal dapat melanjutkan studinya di Saudi Arabia dan Mesir. Ada 2 (dua) peristiwa yang membuat Islam di Nepal lebih dikenal oleh komunitas internasional:
• Terbitnya dua buah buku yang membicarakan ummat Islam di Nepal, yaitu Muslim of Nepal oleh Shamima Siddiqa (1993) dan Religious Minorities in Nepal oleh Mollica Dastider (1995). Kedua buku ini menggambarkan secara utuh tentang Islam di Nepal
• Dibakarnya Masjid Jami’ Nepal yang terletak di jantung kota Kathmandu. Pembakaran Masjid ini menyusul pembantaian 12 orang Nepal yang bekerja di Irak oleh para pejuang Irak. Pembantaian ini menimbulkan sentimen anti Islam dan anti Arab di Nepal.

Namun terlepas dari semua kesulitan, warga muslim Nepal masih menyisakan rasa kebanggaannya, ketika hari raya Idul Fitri tiba. Tak ubahnya di Indonesia, mereka saling bersilaturrahmi, memasak makanan khas serta memakai pakaian baru dan yang muda sering mendapatkan ‘zakat’ (uang) dari yang tua. Pada Shalat Ied di Kathmandu, mereka berbondong-bondong menuju Masjid Jami’ dan Masjid Kashmir di dekat taman Ratna yang menampung sekitar 20.000 hingga 30.000 orang.

Islam di Nepal, telah dimuat di majalah Amanah No. 64 TH XVIII Juli 2005 / Jumadil Awal – Jumadil Akhir 1426 H

Islam di Kamerun

Kamerun (Cameroon) adalah sebuah negara di Afrtika Barat, sedikit lebih besar dari California, menurut para ahli arkeologi telah dihuni manusia sejak 50.000 tahun yang lalu. Pada abad ke-5 sebelum Masehi, suku Hanno dari Kartago (Tunisia sekarang), orang asing pertama yang memasuki Kamerun, dan selama berabad-abad mengeksplorasi perdagangan budak. Pada abad ke-2 sampai dengan abad ke-1 sebelum Masehi, suku Bantu (dikenal dengan sebutan Pygmi) yang berasal dari Nigeria Utara mulai berimigrasi ke Kamerun (dikenal dengan Cameroon Highlanders), mereka ahli dalam pertanian. Para pedagang dari Arab yang sekaligus menyebarkan Islam datang ke Kamerun pada abad ke-10. Mereka berdagang emas, garam, tembaga dan budak. Orang barat pertama yang memasuki Kamerun adalah Fenando Po, dari tim ekspedisi Portugis pada tahun 1472, mereka mendarat di sebuah pantai di Kamerun. Dinamakan Kamerun, karena orang Portugis melihat banyak udang di perairan Kamerun, sehingga mereka menamakan Rio des Cameroes (the Prawn River).

Kamerun juga dikenal mempunyai tradisi sepakbola yang handal, sejak diperkenalkan oleh Jerman pada tahun 1926. Pernah menjuarai Piala Afrika sebanyak 5 kali (1965-1980), dan terakhir, Kamerun dikenal dunia karena menjadi peserta pada Worldcup sejak tahun 1982. Kamerun juga banyak menelorkan pemain kelas dunia antara lain Roger Milla, Patrick Mboma, dan Samuel Eto’o.

Dengan wilayah seluas 475.440 km2, beriklim tropik dan kering, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Nigeria, Chad, Republik Afrika Tengah, Republik Congo, Gabon dan Equatorial Guinea. Berpenduduk padat, dihuni sekitar 16.063.678 orang, terdiri dari suku asli Afrika (black African) sebanyak 99%, yaitu Cameroon Highlander, Bantu, Fulani, Kirdi dan suku asli Afrika lainnya. Selebihnya adalah pendatang dari Eropa dan Arab. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 1,97% per-tahun, angka kelahiran 35,08 per-1000, dan angka kematian 15.34 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 20%, Kristen (Katholik dan Protestan) 40% dan animis 40% Bahasa nasional mereka adalah Inggris dan Perancis di samping bahasa lokal (24 bahasa).

Ekonomi
Kamerun termasuk salah satu negara sub-Sahara Afrika yang sangat beruntung, karena mempunyai sumber minyak dan hasil pertanian yang melimpah. Namun sebagaimana negara berkembang lainnya, Kamerun mempunyai banyak problem, antara lain pelayanan sipil yang kurang memadai, iklim bisnis yang kurang kondusif, mengakibatkan Kamerun tersendat dalam kemajuan ekonominya. Oleh karena itu, pada tahun 1990, Kamerun meminta bantuan IMF dan Bank Dunia untuk ikut merancang program yang meliputi investasi bisnis, efesiensi kinerja pertanian, improvisasi perdagangan dan rekapitalisasi bank-bank nasional. Dan akhirnya, pada tahun 2000, IMF memberikan sponsor program penyesuaian struktur ekonomi yang meliputi: transparansi anggaran, privatisasi dan program reduksi kemiskinan

Angka pertumbuhan ekonomi berkisar 4,2% per-tahun, dengan angka inflasi hanya satu digit, yaitu 2,3%, dan pendapatan per-kapita mencapai US $ 1,800,-menjadikan Kamerun sebagai negara yang ideal sebagai tempat investasi. Angkatan kerja berkisar 6,5 juta orang, yang diserap oleh sektor pertanian sebanyak 70%, industri dan jasa 13%, lain-lain 17%. Hasil pertanian berkisar pada kopi, coklat, kapas, karet, pisang, minyak biji-bijian, padi-padian, kayu dan hewan ternak. Sedangkan hasil industrinya berkisar pada produk minyak dan penyulingan, makanan olahan, tekstil dan kayu olahan. Hasil komoditi yang dieksport adalah minyak mentah dan produk olahannya, kayu olahan, biji coklat, alumunium, kopi dan kapas. Tujuan eksport adalah Spanyol, Italia, Perancis, Belanda, Amerika Serikat dan Cina. Sedangkan komoditi yang diimport adalah mesin, peralatan listrik, peralatan transportasi, makanan dan bahan bakar minyak. Import berasal dari Perancis, Nigeria, Jepang, Amerika Serikat, Jerman, dan Cina. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Comnmunaute Financiere Africaine Francs (XAF), dan US $ 1,- berharga 581.2 XAF.

Sejarah Pemerintahan
Republic of Cameroon (Republik Kamerun), ibukotanya YAOUNDE (semula beribukota di Buea), terbagi dalam 10 propinsi. Sebelum orang-orang Portugis menemukan Kamerun pada abad ke-15 (1472), para pedagang Arab dan orang-orang Islam telah memasuki Kamerun dari arah utara (Sahara) pada abad ke-10. Mereka berda’wah sambil berdagang emas, perunggu, tembaga, garam, dan budak. Oleh karena itu, Islam sangat kuat di bagian utara dan tengah Kamerun. Portugis adalah kolonial Barat pertama yang masuk ke Kamerun, yaitu sekitar abad ke-15 (tahun 1472), diikuti Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis. Orang-orang Barat ini datang ke Kamerun untuk memperebutkan perdagangan budak. Perdagangan budak ini berakhir pada abad ke-19 (1845), dan Kamerun dijadikan protektorat Inggris. Namun pada tahun 1884, Jerman yang diwakili oleh Gustav Nachtigal mengadakan perjanjian dengan Raja Doula, dan pada tahun 1885, Baron von Soden ditunjuk sebagai Gubernur Kamerun. Ketika terjadi perang dunia pertama (1916-1918), Inggris dan Perancis berhasil mengusir Jerman dari Kamerun, kedua negara terakhir berbagi kekuasaan di Kamerun. Perjuangan untuk memperoleh kemerdekaan dari para penjajah dimulai setelah perang dunia kedua, yaitu ketika pada tahun 1955 muncul revolusi di daerah kekuasaan Perancis yang dipelopori oleh Union des Populations Camerounaises (UPC), yang disponsori oleh suku Bamileke dan Bassa.

Bapak kemerdekaan Kamerun, seorang pejuang muslim sejati dari suku Fulani, El-Haji Ahmadou Babatoura Ahijo (lahir pada Agustus 1924), berhasil membawa bangsa Kamerun memperoleh kemerdekaan, ketika pada tahun 1958 melalui partainya l’Union Camerounaise menguasai parlemen. Akhirnya pada tanggal 1 Januari 1960, Ahijo memproklamasikan kemerdekaan Kamerun, dan beliau ditunjuk sebagai Presiden pertama. Pada awalnya pmerintahan Ahijo kurang berjalan mulus, karena penduduk bagian selatan yang didominasi Kristen dan berbahas Perancis belum bisa menerima kemerdekaan. Untuk itu, pemerintah Kamerun di bawah Ahijo mengadakan referendum pada bulan Oktober 1961. Hasil referendum adalah, penduduk bagian utara yan didominasi Islam dan berkiblat ke Inggris lebih menginginkan bergabung dengan Nigeria, sedangkan pendudukan bagian selatan lebih menginginkan pembentukan Republik Federasi Kamerun. Kemelut ini berakhir pada tanggal 20 Mei 1972, ketika disepakati adanya konstitusi baru yang pada intinya membentuk Republik Kesatuan Kamerun.

Pada pemerintahan Ahijo ini ada dua hal yang perlu dicatat, yaitu pertama mempersatukan dua daerah yang bersengketa, daerah utara berbasis koloni Inggris dan daerah selatan berbasis koloni Perancis, kedua berhasil memajukan pertanian dan industri, sehingga Kamerun menjadi negara Afrika termakmur (ekonomi stabil) dan menjadi salah satu negara Afrika yang mempunyai income per-kapita tertinggi.

Pada tanggal 6 Nopember 1982, Ahijo mengundurkan diri sebagai presiden karena alasan kesehatan, dan digantikan oleh PAUL BIYA. Ahijo wafat di Dakar, Senegal pada tanggal 30 Nopember 1989. Pada tahun 1988, Paul Biya terpilih kembali sebagai presiden dengan perolehan suara 98,75%. Seiring demokrasi yang semakin tumbuh di Kamerun, maka pada tahun 2004, diadakan pemilu multipartai, dan Paul Biya, sekali lagi tetap terpilih sebagai presiden, dengan peroleh suara 70,90%. Saat ini Kamerun sedang menghadapi persoalan-persoalan perbatasan dengan Nigeria, Chad dan Equatorial Guinea.

Perkembangan Islam di Kamerun
Sebagaimana dijelaskan pada awal tulisan, Islam telah masuk ke Kamerun pada abad ke-10, ketika para pedagang Arab melalui Sahara memasuki Kamerun bagian utara. Di samping mereka berdagang (emas, garam, tembaga, perunggu dan budak), mereka juga mengenalkan Islam (da’wah) pada penduduk pribumi. Mereka terus tumbuh dan akhirnya menguasai Kamerun bagian utara dan tengah hingga kini. Sedangkan misi Kristen baru mulai bekembang pada abad ke-19, namun hampir menguasai seluruh aspek kehidupan masyarakat Kamerun.

Ketika Kerajaan Kanem Bornu di dekat Danau Chad dipimpin oleh dinasti Saifawa (Sefuwa), yaitu Raja Dunama Dibbalemi masuk Islam pada tahun 1221 (memerintah sampai dengan tahun 1251), maka kejayaan Islam di Afrika Tengah mulai menyebar, mulai dari Chad, Nigeria, Niger maupun Kamerun. Pengaruh Kanem Bornu di Kamerun ini berlanjut hingga abad ke-15. Islam menjadi kekuatan penuh di Kamerun bagian utara, ketika suku Fulani (Fulbe) menguasai daerah itu pada abad ke-18, dan mendirikan kerajaan Adamawa (Adamawa Emirate), yang meliputi Kamerun dan Nigeria. Sultan Adamawa saat ini adalah Issa Maigari, sekaligus sebagai Gubernur propinsi Adamawa. Suku Fulani memang termasuk salah satu suku unggulan di Afrika, dan paling gigih menyebarkan agama Islam di kawasan itu. Mereka sampai saat ini menguasai pemerintahan modern di Senegal, Guinea (Futa Jallon), Mauritania, Guinea Bissau, Mali, Burkina Faso, Benin, Niger, Chad, Kamerun dan Sudan. Sebelumnya, pada abad ke-17, suku Fulani telah mengekspansi Kerajaan Bamoun yang didirikan oleh Nshare Yen, dan kerajaan Bamoun baru menerima Islam secara utuh pada tahun 1833 ketika Sultan Njoya Ibrahima berkuasa.

Sepakterjang suku Fulani, yang notabene adalah Islam, sangat diakui keberadaannya di Kamerun, termasuk dalam memperjuangkan kemerdekaan. Salah satu putra terbaik suku Fulani adalah El-Hajj Ahmadou Babatoura Ahijo, kelahiran Garou, Agustus 1924, proklamator dan bapak kemerdekaan Republik Kamerun. Beliau adalah pejuang muslim dari suku Fulani dan terpilih sebagai presiden pertama Republik Kamerun dari tahun 1960-1982. Sayangnya, estafet kepemimpinannya tak dapat diteruskan oleh kader-kader politikus muslim lainnya, dan justru jatuh ke pihak Kristen, yaitu Paul Biya.

Pada pemilu 2004, salah seorang politikus, scientist dan pejuang muslim Kamerun, yaitu Prof. Dr. Adamou Ndam Njoya, gagal terpilih sebagai presiden Kamerun, dan hanya memperoleh suara 4,5%. Padahal beliau adalah tokoh muslim Kamerun saat ini, dan mempunyai jabatan luar biasa banyaknya, antara lain, sebagai gurubesar University of Cameroon, co-president of World Conference of Religious for Peace (WCRP), founder and president of the Islamic and Religious Studies Institute, Gubernur Foumban dan masih banyak lagi jabatan-jabatan lain yang dipangkunya.

Perjuangan Islam di Kamerun saat ini memang tergolong berat, karena sepeninggal mendiang Ahmadou Ahijo, kekuatan Kristen di sana semakin kokoh. Hal ini disebabkan infrasktuktur kekuasaan Kristen sangat luar biasa, dan dukungan negara bekas kolonial. Namun, apapun yang terjadi, Islam di Kamerun telah menorehkan tinta emas dalam memperjuangkan kemerdekaan, dan ummat Islam di sana, tentu tak akan tinggal diam, dan akan terus mengembalikan kejayaan masa lalunya.

Islam di Kamerun, telah dimuat di majalah Amanah No. 63 TH XVIII Juni 2005 / Rabiul Akhir – Jumadil Awal 1426 H

Tantangan Islam Makin Berat

Dalam kurun waktu begitu singkat, ummat Islam di dunia mengalami banyak tantangan, dan bila tantangan tersebut tidak segera ditangani dengan baik, dikhawatirkan akan menggerus keimanan kaum muslimin secara nyata. Salah satu kekhawatiran tersebut sebagaimana dikemukakan oleh Prof. Din Syamsuddin, guru besar Universitas Islam Jakarta dan salah seorang Ketua Muhammadiyah, memberikan sinyal halus kepada induk organisasinya, bahwa Muhammadiyah harus segera membahas tentang tafsir teologi Islam. Din menilai bahwa tafsir teologi yang dipunyai Muhammadiyah belum memadai, sehingga banyak kader muda Muhammadiyah lari atau menyeberang, baik ke aliran kiri maupun kanan, Ke kiri menjadi sangat ekstrim, misalnya mengikuti pola pikir Hizbut Tahrir, Front Pembela Islam dan sebagainya, sedangkan ke kanan mengikuti pemahaman Islam yang liberal, semisal organisasi yang dinakodai Jaringan Islam Liberal maupun Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah. Penggerusan iman kaum muslimin ini, ditengarai sebagai grand design yang sedang dan mungkin telah disusun oleh kaum Yahudi dan Nasrani untuk menggoyahkan iman orang Islam. Hal ini sesuai dengan firman Allah surat al-Baqarah ayat 120 yang menyatakan bahwa `orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan rela kepada kamu sebelum kamu mengikuti agama (millah) mereka’.

Jaringan Islam Liberal
Salah satu tantangan terberat Islam saat ini datang dari dalam komunitas Islam sendiri, yaitu Jaringan Islam Liberal (JIL), baik lokal maupun internasional. Mayoritas produk-produk JIL dinisbahkan pada teori hermeneutika humanistik, sehingga hasil kajian pemikirannya banyak mengandung kontroversial, yang sudah barang tentu membuat resah iman muslim tradisional maupun moderat yang sudah mapan. Pada intinya, mereka banyak menggunggat nash-nash (baik yang berasal dari al-Qur’an dan Hadits) yang `qat’iyyul wurud’ (sudah jelas perintah dan larangannya). Mereka lebih banyak menggunggat `budaya ke-Araban dan patriarkhi/garis laki-laki’, dalam era kekinian dianggap sudah out of date dan tidak memenuhi rasa keadilan. JIL didirikan di Jakarta pada tahun 2001, pada awalnya merupakan forum diskusi para intelektual muda Islam untuk menyebarkan konsep pemikiran Islam liberal di Indonesia, sekaligus membendung tumbuhnya pengaruh dan kegiatan para militan dan radikal Islam di Indonesia.

Menurut mereka, Islam liberal menggambarkan prinsip-prinsip Islam yang menekankan kebebasan pribadi dan pembebasan dari struktur sosial politik yang menindas (bermakna: kebebasan dan pembebasan). Landasan mereka adalah, pertama membuka pintu ijtihad pada semua dimensi Islam, baik segi muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi). Kedua, mengutamakan semangat religio etik, bukan makna literal teks. Dengan semangat ini, Islam akan hidup dan berkembang secara kreatif menjadi bagian dari peradaban kemanusiaan universal. Ketiga, mempercayai kebenaran yang relatif, terbuka dan plural, artinya kebenaran dalam penafsiran keagamaan adalah sesuatu yang relatif, sebab penafsiran adalah kegiatan manusiawi yang terkungkung oleh konteks tertentu. Keempat, memihak pada yang minoritas dan tertindas, mencakup minoritas agama, etnik, ras, jender, budaya, politik dan ekonomi. Kelima, meyakini kebebasan beragama, artinya tidak membenarkan penganiayaan (persekusi) atas dasar suatu pendapat atau kepercayaan. Keenam, memisahkan otoritas duniawi dan ukhrawi, otoritas keagamaan dan politik, artinya mereka menentang negara agama (teokrasi). Agama adalah sumber inspirasi yang dapat mempengaruhi kebijakan publik, dan tidak mempunyai hak suci untuk menentukan segala bentuk kebijakan publik. Hasil kajian mereka yang mendapat tentangan keras dari para pakar hukum Islam, adalah ketika mereka menerbitkan buku Pembaruan Hukum Islam: Counter Legal Draft Kompilasi Hukum Islam (bidang muamalat). Penyusun buku ini menamakan dirinya Tim Pengarustamaan Gender Departemen Agama RI. Menteri Agama RI ketika itu, telah menegur keras mereka dengan mengeluarkan surat teguran tertanggal 12 Oktober 2004, No. MA/271/2004. Mereka dilarang mengadakan seminar atau kegiatan serupa dan mengatasnamakan Depag RI, serta harus menyerahkan naskah asli buku tersebut (penulis telah menyampaikan pendapatnya pada majalah ini tentang hal tersebut, pada penerbitan no. 58 tahun XVIII Januari 2005, Dzulqaidah-Dzulhijjah 1425 H. dengan sub judul Kontroversi Revisi Kompilasi Hukum Islam).

Di bidang ubudiyyat, mereka mencoba menafsirkan tentang esensi ibadah Qurban, hal ini sebagaimana diusulkan Zulfan Barron, pemikir JIL. Dalam aturan yang baku, sebagaimana tercantum dalam surat Ash-Shaffat ayat 100-107, Qurban adalah mengikuti perilaku (sunnah) Nabi Ibrahim a.s. yang menyembelih puteranya Nabi Ismail a.s., atas ketaatan dan kecintaan Nabi Ibrahim terhadap perintah Allah s.w.t., namun akhirnya Nabi Ismail a.s. diganti dengan seekor domba. Perilaku ritual ini sampai saat ini, secara utuh dan teguh dilakukan oleh mayoritas ummat Islam di seluruh dunia.

Seiring dengan munculnya teori hermeneutika humanistik, yaitu suatu penafsiran yang menghubungkan antara kesadaran manusia dengan obyeknya (teks dan fenomena), maka kalangan JIL ingin menghadirkan makna baru dalam ibadah Qurban tersebut, dengan menggunakan pendekatan kesadaran praksis, yaitu kesadaran untuk mereformulasikan makna essensial ke dalam forma baru yang lebih relevan dengan ritme perkembangan zaman. Mereka menganggap bahwa selama ini ibadah Qurban hanya didasari atas tujuan kepuasan psikologis orang yang berkurban, dan seringkali karena pendistribusian hanya dibatasi dalam rentang waktu yang sangat pendek yang seharusnya diberikan kepada para fakir miskin, justru dibagikan kepada kalangan yang tidak cukup layak untuk menerimanya. Moeslim Abdurrahman menyebut hal ini sebagai `kemunkaran sosial.’

Onta dan domba adalah binatang yang mempunyai nilai ekonomi tinggi di Saudi Arabia ketika zaman Nabi Muhammad s.a.w. dan menjadi konsumsi sehari-hari penduduk Arab. Karena konteks ibadah Qurban adalah kecintaan ummat manusia kepada sang Khaliq dan diwujudkan dengan mengorbankan sesuatu yang dicintainya (hewan qurban), maka ibadah qurban dapat dihadirkan dalam forma yang berbeda yaitu menggantikan posisi binatang ternak dengan sesuatu yang lain yang dianggap lebih berharga untuk konteks zaman ini, lebih-lebih memberikan maslahah bagi problematika keumatan. Forma baru tersebut berupa penyediaan dana dan pemanfaatan dana bagi para fakir miskin.

Contoh lain yang berkaitan dengan ubudiyyat adalah ketika beberapa tahun lalu, Masdar Farid Mas’udi mengusulkan pelaksanaan haji di luar bulan Dzulhijjah (Asyhurun Ma’lumat). Hal ini telah ditentang oleh berbagai kalangan. Di bidang Ilahiyyat (teologi), JIL cukup kencang menyuarakan teologi inklusif (pluralisme), yang ujung-ujungnya adalah semua agama sama. Paham ini juga dianut oleh sebagian ummat Katholik, khususnya dari Amerika Latin, dengan bentuk pemahaman Teologi Pembebasan. Sinyal ke arah itu sangat kuat, sebagaimana dapat dilihat dalam halaman depan website JIL, yaitu Tuhan Pengasih, Tuhan Penyang, Tuhan Segala Agama.

Wanita boleh Mengimami Laki
Dr. Aminah Wadud, Asisten Profesor Studi Islam di Departemen Filsafat dan Studi Agama, Virginia Commonwealth University, dengan keberanian yang luar biasa telah membuat sejarah dalam pemahaman hukum Islam. Keberanian dimaksud adalah menjadi khatib dan imam Shalat Jum’at pada tanggal 18 Maret 2005 di ruangan Synod House, Gereja Katedral Saint John The Divine, kawasan Upper Manhattan, New York. Sponsor shalat Jum’at adalah Muslim Wake Up dan Muslim Women’s Freedom Tour, dan mereka menyebutnya sebagai Historic Jum’at. Ritual ini diikuti oleh 50 jamaah, yang terdiri atas laki-laki dan wanita (sebagian tak berjilbab). Sebelum upacara dimulai, disampaikan ucapan selamat datang oleh Asra Nomani, wartawati Wall Street Journal asal Pakistan, membiarkan rambutnya tergerai sebahu tak berjilbab, muadzin dilantunkan oleh Sueyhla Al-Attar, penyiar radio di Atlanta Georgia, wanita asa Mesir, juga tak berjilbab. Aminah Wadud telah melakukannya untuk kali yang kedua, pertama tahun 1994 dilakukannya di Afrika Selatan.

Tak urung, ritual ini mendapat kecaman keras dari kalangan Islam seluruh dunia, termasuk di dalamnya Dr. Syed Thantawi, Grand Syaikh Universitas Al-Azhar, Kairo Mesir. Juga Dr. Yusuf Qardhawi, yang menyatakan sepanjang sejarah Islam, tak pernah terdengar perempuan menjadi khatib dan imam shalat Jum’at.

Namun banyak juga yang mendukung keberanian Aminah Wadud tersebut. Di Indonesia, dukungan datang dari seorang kyai, yaitu KH Husein Muhammad, pengasuh Pondok Pesantren Darut Tauhid, Arjowinangun Cirebon dan DR. Nur Rofi’ah, alumnus Ankara University Turki, sekarang dosen UIN Jakarta. KH Husein Muhammad penulis buku Fiqh Perempuan menyampaikan pendapatnya bahwa wanita dibolehkan menjadi umam shalat bagi siapa saja. Walaupun mayoritas madzhab Sunni melarangnya, namun ada ulama besar lainnya, semisal Abu Tsaur, Imam Mazni an Jarir al-Thabari membolehkan. Dasar hukum bagi yang melarang wanita menjadi imam bagi laki-laki hadits yang diriwiyatkan Ibn Majah yang berbunyi `Janganlah sekali-kali perempuan mengimami laki-laki….dst’ menurut Imam Nawawi, hadits ini dla’if.

Sedangkan dasar hukum yang membolehkan adalah hadits Ummi Waraqah yang berbunyi `… Nabi pernah berkunjung ke kediaman Ummi Waraqah, lalu menunjuk seseorang untuk adzan, dan memerintahkan Ummi Waraqah untuk mengimami keluarganya yang terdiri dari seorang lelaki lanjut usia dan seorang budak laki-laki serta perempuan’. Hadits ini dinyatakan lebih sahih, baik dari segi sanad dan matannya dibanding dengan hadits yang melarang wanita menjadi imam bagi laki-laki. Hal ini bisa dicek lebih lanjut pada kitab Mukhtasyar Sunan Abi Daud.

Demikian juga pendapat Dr. Nur Rofi’ah, sembari menambahkan bahwa secara sosiologis dan kultural, Islam hadir pertama kali pada masyarakat yang sangat kental berbudaya patriarkhi, mereka sangat mengagungkan lelaki dan merendahkan potensi kaum perempuan.

Pertanyaannya adalah, apakah hadits Ummu Waraqah walaupun lebih sahih, pertama dibolehkannya Ummu Waraqah menjadi imam dalam keadaan darurat (sebagai rukhshah), karena yang diimami adalah orang jompo dan budak atau berlaku umum? Kedua, sepanjang sejarah Nabi s.a.w., para sahabat, tabi’in dan tabi’it tabi’in, apakah ada fakta yang menunjukkan wanita diizinkan menjadi khatib dan imam Jum’at ? Jawabannya, masih perlu diperdebatkan, karena diperbolehkannya wanita menjadi khatib dan imam pada shalat Jum’at, janganlah karena semata-mata alasan `gender’, sehingga hadits tersebut dijadikan dasar dan alasan pembenar (justifikasi)!

Menggugat Ke-Araban al-Qur’an
Majalah Newsweek edisi 28 Juli 2003 memuat sebuah artikel yang ditulis oleh Stefan Theil pada halaman 49 yang berjudul `Challenging The Qur’an’. Stefan melansir pendapat Prof. Christhop Luxemberg, ahli bahasa Semitic di sebuah universitas terkenal di Jerman, yang menyatakan bahwa versi al-Qur’an yang ada pada saat ini salah salin (mistranscribed). Teks asli al-Qur’an lebih mirip bahasa Aramic daripada Arab. Naskah asli itu dimusnahkan oleh khalifah ketiga, Usman bin Affan. Konsekwensinya adalah terjemahan teks al-Qur’an dalam bahasa Arab dan Aramic akan timbul perbedaan. Misalnya dalam al-Qur’an yang menyatakan bahwa Muhammad adalah `penutu para Nabi’ dalam versi Aramic menjadi `saksi pada Nabi.’ Artinya, Nabi Muhammad s.a.w. bersaksi atas kebenaran teks Yahudi-Kristen. Dalam versi Arab, al-Qur’an sebagai `wahyu Allah’, namun dalam versi Aramic adalah `ajaran dari Injil kuno’. Sepanjang sejarah Islam, memang banyak orang yang memalsukan al-Qur’an, bahkan Allah s.w.t. menantangnya manusia dan jin untuk membuat al-Qur’an serupa. Allah menjamin “Kami yang menurunkan Dzikr (al-Qur’an), dan Kami-lah yang menjaganya.”

Pembelajaran dan Upaya Pembendungan
Islam memang diciptakan Allah s.w.t. penuh makna, tidak hanya diturunkan kepada Nabi Muhammad s.a.w., namun juga kepada semua Nabi (25). Allah juga menghalalkan ummat Islam untuk berdebat, berdiskusi maupun berbeda pendapat. Nabi s.a.w. malah mengatakan `beda pendapat itu rahmat’. Islam juga sangat mengagungkan akal, dengan akal itulah manusia akan mengenal, mendekatkan diri serta mencintai Allah lebih baik, mengenal ciptaan-ciptaanNya, bukan Dzat-Nya.

Jaringan Islam Liberal yang dipenuhi oleh Intelektual Muda Muslim berbakat, mestinya menjadi asset yang berharga bagi Islam. Pendapat-pendapatnya di bidang muamalat (interaksi sosial), ubudiyyat (ritual) dan ilahiyyat (teologi) memang sangat dinamis dan brilyan. Dengan menggunakan pendekatan teori hermeneutika humanistik, JIL telah dan akan mereformulasikan makna essensial nash al-Qur’an dan Hadits yang berkaitan dengan ketiga bidang tersebut ke dalam forma baru yang lebih relevan dengan ritme perkembangan zaman. Dengan pendekatan ini, JIL ingin mengajak ummat Islam pada nuansa baru bagaimana cara mengenal, mendekatkan diri dan mencintai Allah s.w.t.yang lebih sederhana dan pragmatis. Bagi JIL, menegakkan nilai dan prinsip keadilan sosial, kemaslahatan ummat manusia, kerahmatan semesta dan kearifan sosial adalah prinsip. Oleh karena itu, Islam yang telah digariskan berlaku sepanjang tempat dan zaman, haruslah disesuaikan dengan ritme perkembangan zaman. Sebagai contoh, dilontarkannya gagasan pelarangan poligami, membolehkan muslimah nikah dengan lelaki bukan muslim, suami beriddah, wanita menjadi imam shalat bagi lelaki, berhaji dapat dilakukan di luar musim haji dan semua agama adalah sama. Bila mereka telah berani membongkar nash-nash yang `qat’iyyul wurud’ (sudah pasti) dengan menggunakan teori hermeneutika humanistik, semestinya JIL harus lebih progresif lagi, misalnya memperkarakan rukun iman, rukun islam, shalat lima waktu, shaum ramadhan, wanita boleh mempunyai suami lebih dari satu (poliandri), atau membolehkan ummat Islam beribadah di gereja, klenteng, candi dan sebagainya (teologi inklusif).

Ini semua adalah pembelajaran yang sangat berharga bagi ummat Islam, sekaligus tantangan yang sangat berat. Sejak zaman Rasullah s.a.w., rongrongan untuk merobohkan fondasi Islam, datang dari ummat Islam sendiri maupun kalangan di luar Islam (Yahudi dan Kristen, baca: al-Baqarah ayat 120). Mereka dilengkapi dengan metodologi atau teori yang sangat valid, dan bila ummat Islam tidak hati-hati `menterjemahkannya’, sudah dapat dipastikan akan tergelincir dan mengikuti paham mereka, dan pada gilirannya Islam akan menjadi agama yang mengikuti kemauan ummatnya, bukan sebaliknya, sebagai pembenar dan penuntun (amr ma’ruf nahi munkar).

Upaya untuk membendungnya adalah dengan merujuk firman Allah s.w.t. “Ajaklah ke jalan Tuhanmu, dengan hikmat, nasehat yang baik, atau, debatlah mereka dengan (cara) yang lebih baik” (QS Al-Nahl [16]: 125). Artinya, bila kita tidak menyetujui pendapat JIL, kita tidak boleh emosional, namun perbanyaklah forum diskusi, agar diperoleh kebenaran sejati. Sekali lagi berbeda pendapat dibolehkan dalam Islam, bahkan dianjurkan, benar mendapat nilai dua, salah mendapat nilai satu.

Tantangan Islam Semakin Berat, telah dimuat di majalah Amanah No. 63 TH XVIII Juni 2005 / Rabiul Akhir – Jumadil Awal 1426 H

Islam di Ghana

Ghana, negara asal Koffi Anan, Sekretaris Jendral PBB, terletak di Afrika Barat, berbatasan dengan Burkina Faso, Pantai Gading, Togo, dan lautan Atlantik(teluk Guinea). Ghana telah dihuni manusia beribu tahun yang lalu dan mempunyai beberapa keunikan, pertama, Ghana adalah negara Afrika hitam pertama yang memperoleh kemerdekaan dari para penjajah Eropa (baca: Inggris), kedua mempunyai kerajaan kuno yang terkenal yaitu Ghana Empire (Kingdom of Ghana) atau juga dikenal dengan sebutan Ghanata atau Wagadugu yang berkuasa sejak abad ke-9 selama berabad-abad dengan wilayah meliputi Senegal, Mali dan Mauritania dan Ashanti Empire (abad ke-17), ketiga untuk mendapatkan pemahaman tentang Ghana, para ahli sejarah banyak memperoleh informasi dari para penulis Arab, antara lain dari Al-Hamdani yang mendeskripsikan Ghana sebagai tambang emas terbesar di muka bumi, keempat, Ghana banyak menelorkan tokoh-tokoh terkenal dunia, antara lain Koffi Anan, Sekjen PBB, dan Imam Syaikh Salisu Shaban, pemimpin sufi terkemuka di dunia saat ini.

Dengan wilayah seluas 239.400 km2, sedikit lebih kecil dari negara bagian Oregon, Amerika Serikat, beriklim tropic dan kering. Berpenduduk padat, dihuni sekitar 20.757.032 orang, terdiri dari suku asli Afrika (black African) sebanyak 98,5%, yaitu Akan, Moshi-Dagomba, Ewe, Ga, Gurma dan Yoruba. Selebihnya adalah pendatang dari Eropa dan Arab. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 1,36% per-tahun, angka kelahiran 24,9 per-1000, dan angka kematian 10,67 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 15%, Kristen 63% dan animis 21%. Bahasa nasional mereka adalah Inggris, di samping bahasa setempat, yaitu Akan, Moshi-Dagomba, Ewe dan Ga.

Ekonomi
Walaupun diberkati dengan sumberdaya alam (emas) yang melimpah, namun Ghana secara kasar dikategorikan sebagai negara termiskin di Afrika Barat, dan sangat bergantung pada bantuan dana dan teknisi dari dunia internasional. Emas, tembaga dan coklat merupakan sumber devisa andalan Ghana. Pertanian memberikan sumbangan dana sebesar 35% dan menyerap 60% tenaga kerja. PBB mengkategorikan Ghana sebagai Heavily Indebted Poor Country (HIPC) dan di bawah program pengawasan PBB terhitung tahun 2002.

Hasil tambang berasal dari emas dan tembaga, sedangkan hasil pertanian bertumpu pada coklat, kopi, beras, kacang, jagung, pisang dan kayu. Mempunyai angka pertumbuhan rata-rata 4,7% dan inflasi 26,7%, Ghana memang mempunyai kesulitan ekonomi tinggi. Jumlah angkatan kerja sebanyak 10 juta orang, diserap oleh sektor pertanian sebanyak 60% serta industri 15% dan jasa 25%. Hasil komoditi yang dieksport adalah emas, coklat, tembaga, ikan tuna, alumunium, dan berlian. Tujuan eksport adalah Belanda, Inggris, Perancis, Jerman, Jepang, Italia, Turki dan Amerika Serikat. Sedangkan komoditi yang diimport adalah capital equipment, minyak dan gas, serta bahan makanan. Import berasal dari Nigeria, Cina, Inggris, Amerika Serikat, Jerman, Perancis dan Afrika Selatan. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah Cedi (GHC). US $ 1,- seharga 7,932 GHC.

Sejarah Pemerintahan
Republic of Ghana, dahulu dikenal dengan Gold Coast, dengan ibukotanya ACCRA (didirikan oleh suku Ga), terbagi dalam 10 regions. Semula Ghana beribukota di Cape Coast, namun pemerintah kolonial Inggris memindahkannya ke Accra pada tahun 1876. Ghana, telah dikenal oleh para pedagang dan penulis Arab pada abad ke-9. Kumbi Saleh, yang terletak di utara Ghana adalah pusat seluruh perdagangan di Ghana pada abad ke-9. Komoditi yang diperdagangkan adalah budak, emas, tekstil dan garam. Kumbi Saleh adalah ibukota kerajaan Ghana kuno dan bertahan hingga abad ke-12. Portugis adalah negara Eropa pertama yang menginjakkan kakinya di Ghana pada abad ke-15 (1471), dan mereka tinggal di tepi pantai yang dinamai Elmina (the minde). Lalu diikuti ole Belanda, Inggris dan Jerman pada abad ke-16. Selama 250 tahun mereka berkutat pada mata dagangan budak, tak kurang 10.000 budak per-tahun. Perdagangan budak ini, berakhir pada abad ke-19. Portugis (Portugal) memberikan nama Ghana sebagai Gold Coast, karena mereka adalah penambang emas pertama di Ghana.

Ketika kerajaan Ashanti (Asante) berkuasa pada abad ke-17, mereka mengontrol seluruh Ghana dan mengalami zaman keemasan ketika Osei Bonsu menjadi raja. Namun akhirnya kerajaan Asante ini ditaklukkan Inggris pada abad ke-19 (1896). Orang-orang Asante inilah yang akhirnya berjuang keras untuk mengusir Inggris sekaligus untuk memperoleh kemerdekaan, dan perjuangan mereka dimulai pada tahun 1935, ketika mereka menuntut The Ashanti Confederacy Council. Akhirnya pemerintah kolonial Inggris mengabulkannya dengan membentuk Ghana’s Legislative Council pada tahun 1946. Demonstrasi pertama pecah pada tanggal 28 Pebruari 1948, ketika penduduk kota Accra menuntut kemerdekaan.

Kwame Nkrumah yang lahir pada tahun 1909, mulai terlibat langsung dalam perjuangan yang heroik untuk memperoleh kemerdekaan Ghana pada tahun 1949, yang akhirnya membawa beliau masuk penjara. Pada tahun 1952, Nkrumah diangkat sebagai Perdana Menteri pertama Ghana (pertama di Afrika) oleh pemerintah kolonial Inggris, dan beliau terpilih kembali secara berturut-turut pada tahun 1954 dan 1956.

Akhirnya pada tanggal 6 Maret 1957, Ghana memperoleh kemerdekaan dari Inggris, dan paling tidak merupakan negara sub-Sahara Afrika pertama yang memperoleh kemerdekaan dari kolonial. Pada tahun 1960, Kwame Nkrumah (seorang marxist) terpilih menjadi presiden pertama Ghana, namun dalam masa pemerintahannya, Nkrumah berlaku diktator dan hanya memberlakukan satu partai, dan pada gilirannya menuai kritik pedas dari komunitas internasional.

Di samping menuai kritik internasional, Ghana jatuh pada budaya kudeta. Kudeta pertama dilakukan oleh para kadet militer didikan Inggris pada tanggal 24 Pebruari 1966, Nkrumah lari ke Guinea, dan wafat di sana pada tahun 1972. Pada tahun 1969 diadakan pemilu multipartai yang dimenangkan oleh Progress Partai pimpinan Dr. Kofi Busia. Namun pemerintahan hasil pemilu ini tak bertahan lama, karena pada tanggal 13 Januari 1972, Kolonel Ignatius Acheampong melakukan kudeta. Acheampong bertahan sampai dengan tahun 1978, ketika pada tanggal 5 Juli 1978 dikudeta oleh Jendral William Akuffo. Pada tanggal 15 Mei 1979, seorang kadet muda, Letnan Jerry John Rawlings melakukan kudeta namun dapat digagalkan, dan akhirnya dijebloskan dalam penjara. Namun Rawlings, sekeluar dari penjara, melakukan kudeta kembali pada tanggal 31 Desember 1981, dan pada akhirnya beliau terpilih sebagai presiden. Kudeta terulang lagi pada tahun 1982 dan 1983 namun dapat digagalkan. Para oposisi menggerakkan gerakan kudeta tersebut dari Togo, negara tetangga Ghana. Rawlings dianggap sebagai orang kuat Ghana, dan mempunyai hubungan yang erat dengan Libya, Cuba dan Eropa Timur ketika beliau berkuasa. Pada tahun 1992 diadakan pemilihan umum multipartai, Rawlings terpilih sebagai Presiden dan terpilih kembali pada tahun 1996. Pada tahun 2000, Rawlings mengakhiri jabatannya sebagai Presiden, karena konstitusi Ghana menyebutkan bahwa seorang presiden tidak dipilih kembali setelah 2 (dua) periode) berturut-turut. Akhirnya pada pemilu tanggal 7 Januari 2001, John Agyekum KUFOUR terpilih sebagai Presiden, dan sebagai Wakil Presiden adalah seorang muslim Alhaji Aliu MAHAMA.

Perkembangan Islam di Ghana
Sebagaimana dirilis oleh Wikipedia, Islam masuk ke Afrika Barat, dimulai dari Ghana pada abad ke-9, karena Ghana merupakan jalur utama perdagangan bagi para pedagang muslim yang datang dari Afrika Utara melalui Mali. Dan pada abad ke-15, Islam semakin menunjukkan identitasnya di Ghana bagian utara. Mayoritas pemeluk Islam di Ghana menganut madzhab Maliki, sedangkan aliran sufi yang dianut adalah Tijaniyah dan Qadiriyah. Ahmadiyah maupun Syi’ah dianut oleh sebagian kecil pemeluk Islam di Ghana.

Menurut data resmi yang dikeluarkan pemerintah Ghana maupun CIA Worldfact, pemeluk Islam di Ghana berkisar 16%, sedangkan Kristen 63% dan Animis 21%. Sedangkan Islamicpopulation melansir bahwa penganut Islam di Ghana adalah 40%, bukan 16%, dari total penduduk Ghana sebesar 20 juta orang, mayoritas mereka berada di bagian utara Ghana, sedangkan penanut Kristen berada di bagian selatan. Angka ini lebih realistis, mengingat Islam telah menyebar di Ghana sejak abad ke-9 ketika Kerajaan Ghana kuno berkuasa di Kumbi Saleh, Ghana Utara.

Sheikh Hassan Khalid, aktivis Ghanian Islamic Daawa, membenarkan klaim, bahwa penyebaran Islam di Afrika Barat berawal dari Ghana. Sampai sekarang, banyak para kader muslim di Afrika Barat menimba ilmu ke-Islaman di Ghana, khususnya belajar mengenai tafsir al-Qur’an, Hadits maupun Hukum Islam. Hubungan Islam dan Kristen di Ghana adalah yang terbaik di Afrika Barat, karena otoritas pengendali ummat di Ghana dipegang oleh suatu badan yang disebut Muslim Representatice Council. Badan ini menangani masalah-masalah keagamaan, sosial, ekonomi dan hubungan antar agama di Ghana. Juga sebagaimana di Indonesia, badan ini juga mengatur perjalanan Haji bagi kaum muslimini Ghana yang ingin menunaikan ibadah haji ke Mekkah. Walaupun Ahmadiyah dianut oleh sedikit ummat Islam di Ghana, namun aktivitasnya sangat mengagumkan, karena mereka mempunyai rumah sakit, sekolah dan training center.

Saat ini, ada 3 (tiga) orang yang sangat dihormati oleh ummat Islam di Ghana, pertama Alhaji Aliu MAHAMA, yang diangkat sebagai Wakil Presiden Ghana sejak tanggal 7 Januari 2001. Beliau tokoh muslim Ghana yang amat disegani. Hal ini mengindikasikan bahwa peran ummat Islam di Ghana, khususnya di bidang politik sangat kuat. Kedua, Imam Syaikh Salisu SHABAN, pemimpin spiritual Islam Ghana, ulama sufi terkemuka di dunia dari aliran Tijaniyah. Beliau termasuk salah satu ‘ulama e-haq (scholar of truth)’ yang dikukuhkan pada peringatan milad Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto, Kanada tahun 1999. Ketiga, Prof. Abdullah Botchway, gurubesar tamu di University of Malaya, Malaysia. Baik Imam Salisu Shaban maupun Abdullah Botchway adalah pembicara utama ketika diadakan peringatan milad Nabi Muhammad s.a.w. di Toronto Kanda, 1999 yang lalu.

Islam di Ghana, telah dimuat di majalah Amanah No. 62 TH XVIII Mei 2005 / Rabiul Awal – Rabiul Akhir 1426 H

Islam Di Burkina Faso (d/h Upper Volta)

Burkina Faso dahulu dikenal dengan Upper Volta, adalah sebuah negara kecil berada di dataran tinggi tak berpantai di Afrika Barat, termasuk dalam untaian negara-negara Sahel, berbatasan dengan Mali, Niger, Benin, Togo, Ghana dan Pantai Gading. Burkina Faso terkenal dengan negara banyak suku (60) dan banyak kerajaan, namun mempunyai sejarah panjang untuk bersatu dan merebut kemerdekaan. Bekas imperium Sudan di Ghana maupun Islam pernah berjaya di Burkina Faso. Mempunyai kepadatan penduduk yang tinggi disertai miskin sumberdaya alam, membuat sebagian besar penduduk bermigrasi ke luar negeri.

Dengan wilayah seluas 274.200 km2, sedikit lebih luas dari Colorado, Amerika Serikat, beriklim tropic dan kering, mempunyai dua musim, yaitu musim kering (Nopember-Mei), dan musim hujan (Juni-Oktober). Dihuni sekitar 13.574.820 orang, terdiri dari suku asli Afrika, yaitu Mossi (anak suku bangsa Volta) , Mande dan Fulani. Suku Mossi dan Mande terbagi dalam puluhan anak suku yang tersebar di seluruh Burkina Faso. Angka pertumbuhan penduduk, rata-rata 2,57% per-tahun, angka kelahiran 44,46 per-1000, dan angka kematian 18,79 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 50%, Kristen 10% dan animis 40%. Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping bahasa setempat, yaitu Moore, Dioula dan Peul.

Ekonomi
Burkina Faso dikategorikan sebagai negara termiskin di dunia, dan sangat bergantung pada pertanian. Sumberdaya alam dengan volume sangat sedikit, antara lain berasal dari emas, perak, bauxite, batukapur, tembaga, mangan, marmer, seng dan posfat. Oleh karena ekonomi domestic yang tak berkembang dengan baik, Burkina Faso mendevaluasi matangnya (CFA) pada Januari 1994 dan 1996, dengan rata-rata 5,9%. Karena kesulitan ekonomi ini pula, banyak Burkinabe (sebutan bagi penduduk Burkina Faso) berimigrasi ke luar negeri, terbanyak ke Pantai Gading, bekerja di perkebunan-perkebunan. Belakang hari, para Burkinabe (mayoritas Muslim) mendominasi Pantai Gading bagian Utara, dan mendesak suku asli Pantai Gading, dan pada gilirannya menyulitkan hubungan kedua Negara, Burkina Faso dan Pantai Gading. Mempunyai angka pertumbuhan rata-rata minus 5,2% dan inflasi 1,9%, Burkina Faso sebenarnya termasuk negara yang stabil dalam pengembangan perekonomiannya. Jumlah angkatan kerja sebanyak 5 juta orang, yang diserap oleh sector pertanian sebanyak 90% serta industri dan jasa 10%. Hasil pertanian berkisar pada kapas, kacang, wijen, sorgum, beras, jagung dan ternak. Sedangkan hasil industri berkisar pada kain katun, minuman, produk pertanian, sabun, rokok, tekstil dan emas. Hasil komoditi yang dieksport adalah kapas, ternak dan emas. Tujuan eksport adalah Singapore, China, Thailand, Italia, India, Colombia, Ghana, Perancis, dan Niger. Sedangkan komoditi yang diimport adalah bahan bakar, bahan makanan, dan capital good. Komoditi import berasal dari Perancis, Pantai Gading, Togo dan Belgia. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah CFA Frank (XOF). US $ 1,- seharga 581,2 XOF.

Sejarah Pemerintahan
Republic of Burkina Faso, dahulu dikenal dengan Republic of Upper Volta, dengan ibukotanya OUAGADOUGOU, terbagi dalam 45 propinsi. Sejak abad ke-11 sampai dengan akhir abad ke-19, Burkina Faso didominasi oleh kerajaan Mossi, salah satu suku terbesar, selama berabad-abad mempertahankan kepercayaan animismenya dari usaha pemurtadan pindah ke agama Islam dari suku-suku yang datang dari utara. Perancis mulai menancapkan kukunya di Burkina Faso, ketika Voulet Charmoine, orang Perancis pertama yang menaklukkan Negara tersebut pada tahun 1896. Pada tahun 1904, Burkina Faso dijadikan koloni Perancis dan diintegrasikan dengan dua negara lainnya yaitu Senegal dan Niger, dengan nama Haut-Senegal-Niger. 15 tahun kemudian, koloni ini pecah, dan akhirnya Haut menjadi Upper Volta. Pada tanggal 11 Desember 1958 menjadi Republik Upper Volta, dan akhirnya mendapatkan kemerdekaan dari Perancis pada tanggal 5 Agustus 1960.

Sebagai Presiden pertama adalah Maurice Yameogo, seorang pejuang dan tokoh partai Voltaic Democratic Union. Pada tanggal 3 Jaunari 1966, terjadi kudeta pertama di Burkina Faso oleh militer, dan pada tanggal 4 Juni 1966, Jendral Abubakar Sangoule Lamizana ditunjuk sebagai Presiden kedua. Jendral Abubakar berkuasa hingga tahun 1980. Pada tanggal 25 Nopember 1980 terjadi kudeta (berdarah) kedua, yang dilakukan oleh Kolonel Saye Zerbo, namun hanya bertahan selama dua tahun, ketika Zerbo dikudeta oleh Mayor Dr. Jean-Baptiste Ouedraogo pada tanggal 7 Nopember 1982. Lagi-lagi pemerintahan Ouedraogo tak berumur panjang, ketika pada tanggal 4 Agustus 1983, para perwira muda beraliran Marxist yang dikomandoi oleh Kapten Thomas Sankara melakukan kudeta terhadap Jendral Ouedraogo. Thomas Sankara dianggap oleh bangsa Burkina Faso sebagai pemimpin yang karismatik, karena pada tanggal 4 Agustus 1984, merubah nama Upper Volta menjadi Burkina Faso, yang berarti ‘negara bebas dan didiami orang yang bermartabat dan gagah perkasa’.

Pemerintahan Sankara hanya bertahan selama 3 tahun, karena pada tanggal 15 Oktober 1987 Sankara terbunuh dalam kudeta yang dibangun oleh Kapten Blaise Compaore. Blaise Compaore yang akhirnya membangun demokrasi dan masih bertahan sampai saat ini sebagai presiden Burkina Faso.

Perkembangan Islam di Burkina Faso
Islam datang ke Afrika Barat dalam 3 (tiga) gelombang. Pertama pada abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua pada abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhir pada abad ke-19 ketika seorang pahlawan muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan Islam ke arah selatan Afrika. Islam masuk ke Burkina Faso pada gelombang kedua, dan suku bangsa Fulani mempunyai peran penting dalam menyebarkan Islam di Burkina Faso. Penyebaran Islam di Burkina Faso melalui dua kombinasi, yaitu ‘perang dan perdagangan’. Karena pada kenyataannya, suku Mossi sebagai suku terbesar di Burkina Faso, memang sangat gigih mempertahankan animismenya hingga abad ke-19. Pemerintahan suku Mossi memang pada awalnya menentang penyebaran Islam di Burkina Faso, namun pada akhirnya sebagian besar dari mereka memeluk Islam.

Hal ini terbukti, ketika pemerintah Burkina Faso mengadakan sensus penduduk pada tahun 1996, komposisi penganut agama di Burkina Faso adalah 60% Islam, 20% Kristen dan 20% animisme. Banyak tokoh yang berperan penting dalam pemerintahan dan kemajuan Islam di Burkina Faso. Yousouf Ouedraogo, Menteri Luar Negeri Burkina Faso, termasuk tokoh yang disegani. Islam di Burkina Faso semakin berjaya ketika terjadi kekisruhan di Pantai Gading pada tahun 2002, karena salah satu tokoh kunci pihak oposisi adalah Allasane Dramane Ouattara ditengarai masih keturunan bangsa Burkina Faso, dan beragama Islam serta sangat cerdas. Akibat kekisruhan tersebut, sekitar 350.000 Burkinabe yang mayoritas muslim lari ke Burkina Faso. Ada dua hal yang diperjuangkan oleh ummat Islam di Burkina Faso, pertama adalah mengembalikan kejayaan Islam di tingkat pemerintahan pusat (presiden dan perdana menteri). Kedua, membendung misionaris Kristen yang sangat agresif memurtadkan orang-orang Islam di Burkina Faso, dengan cara mendirikan stasiun radio di seantero Burkina Faso. Sasaran utama mereka adalah suku Fulani, yang dikenal sangat taat memegang teguh ajaran Islam.

The Ahlul Barr Society di Burkina Faso mempunyai peran penting untuk membendung missi Kristen tersebut. El-Hajj Oumarou Kanazae (pengusaha terkenal), Souleymane Kore, Mamadou Sawaidogu maupun Al-Hajj Sakande, adalah sederetan nama muslim Burkinabe yang mungkin berusaha mengibarkan kejayaan Islam di Burkina Faso.

Islam di Burkina Faso, telah dimuat di majalah Amanah No. 61 TH XVIII April 2005 / Shafar – Rabiul Awwal 1426 H

Islam di Pantai Gading

Pantai Gading atau Ivory Coast atau Cote d’Ivoire (bhs. Perancis), terletak di pantai Atlantik, tepatnya di teluk Guinea, Afrika Barat, sebuah negara kaya, penghasil coklat terbesar di dunia, berbatasan dengan banyak negara, antara lain Burkina Faso, Mali, Guinea, Liberia dan Ghana. Pada awalnya, Pantai Gading adalah suatu perkampungan yang sangat terisolasi, didiami tak kurang dari 60 suku, ditemukan oleh para pedagang Portugis dan Perancis pada abad ke-15. Mereka mencari gading dan budak, dan pada akhirnya Perancis memenangkan pendudukan terhadap Pantai Gading hingga abad ke-20. Mungkin Pantai Gading adalah sebuah negara di antara sedikit negara yang dibangun penuh dengan pertikaian agama sampai saat ini, yaitu Islam dan Kristen. Islam di utara dan Kristen di selatan, mereka saling berebut kekuasaan.

Dengan wilayah seluas 322.460 km2, sedikit lebih luas dari New Mexico, Amerika Serikat, beriklim tropic dan kering, mempunyai tiga musim, yaitu hangat kering (Nopember-Maret), panas kering (Maret-Mei) dan panas hujan (Juni-Oktober). Dihuni sekitar 17.327.724 orang, terdiri dari suku asli Afrika 97% (Akan 42%, Gur/Voltaiques 17%, Mende 27%, Krous 11%, lain-lain 3%), dengan pertumbuhan rata-rata 2,11% per-tahun, angka kelahiran 39,64 per-1000, angka kematian 18,48 per-1000. Agama Islam dianut sekitrar 40%, Kristen 30% dan penganut kepercayaan 30%. Bahasa nasional mereka adalah Perancis, di samping bahasa setempat, yaitu Dioula.

Ekonomi
Pantai Gading adalah produsen dan eksportir terbesar kopi, coklat dan minyak nabati. Konsekwensinya beresiko ekonomi tinggi, yaitu sering terimbas fluktuasi harga internasional. Walaupun pemerintah Pantai Gading berusaha mendiversifikasi ekonominya, namun mereka ternyata masih tetap menggantungkan ekonominya pada ketiga produksi pertanian tersebut, yang menurut statistik, mendayagunakan tidak kurang 68% penduduk. Pada tahun 1994, ekonomi Pantai Gading agak membaik, ketika mereka mendevaluasi mata uang CFA Frank sebesar 50%, juga melakukan upaya lain yaitu mengimprovisasi harga kopi dan coklat, memacu eksport hasil pertanian non-tradisional seperti karet dan nenas, serta meliberalisasi perbankan. Mempunyai angka pertumbuhan rata-rata minus 1,9% dan inflasi berkisar 3,4%, Pantai Gading termasuk negara yang labil dalam pengembangan perekonomiannya. Jumlah angkatan kerja sebanyak 6,64 juta orang, yang diserap oleh sector pertanian sebanyak 68% serta industri dan jasa 32%. Hasil pertanian berkisar pada kopi, coklat, minyak nabati, pisang, jagung, beras., tapioca, kentang, gula, kapas, karet dan kayu. Sedangkan hasil industri berkisar pada bahan makanan, minuman, produk kayu, penyulingan minyak, assembling trul dan bis, tekstil, dan listrik.

Hasil komoditi yang dieksport adalah coklat, kopi, kayu, gas, kapas, pisang, minyak nabati, dan ikan. Tujuan eksport adalah Perancis, Belanda, Amerika Serikat dan Spanyol. Sedangkan komoditi yang diimport adalah bahan bakar, bahan makanan, dan capital equipment. Komoditi import berasal dari Perancis, Nigeria dan Inggris. Indonesia belum termasuk di dalamnya. Mata uang yang digunakan adalah CFA Frank (XOF). US $ 1,- seharga 581,2 XOF.

Sejarah Pemerintahan
Nama lengkap Pantai Gading adalah Republic of Cote d’Ivoire (Ivory Coast), terbagi dalam 19 regions (propinsi), dengan ibukotanya YAMOUSSOUKRO (sejak tahun 1983). Sedangkan Abidjan dijadikan sebagai pusat administrasi dan komersial. Banyak negara, termasuk Amerika Serikat, yang menempatkan kedutaan besarnya di Abidjan, bukan di Yamoussoukro.

Perancis semakin memperkokoh aneksasinya atas Pantai Gading sejak tahun 1842, pada tahun 1893, Pantai Gading menjadi sebuah republik otonom di bawah kendali Perancis. Tahun 1959 dibentuk kesatuan adat antara Pantai Gading, Benin, Niger dan Burkina Faso. Akhirnya pada tanggal 7 Agustus 1960, Pantai Gading memperoleh kemerdekaan dari Perancis, dan terpilih sebagai Presiden pertama adalah Felix Houphouet-Boigny.

Felix Houphouet-Boigny terpilih kembali secara demokratis pada pemilu presiden tahun 1990, dan beliau wafat pada tahun 1993. Henri Konan Bedie menggantikan beliau sampai dengan tahun 1999. Pada tahun 1999 inilah, Pantai Gading memulai babak baru, ketika Alassane Ouattara, tokoh muslim yang disegani, mantan Perdana Menteri tahun 1990-1993, dan pejabat senior IMF berkeinginan mengikuti pemilu presiden. Munculnya Alassane Ouattara disebabkan program Bedie yang dianggap sectarian, yaitu dengan memunculkan program kebanggaan atas kemurnian bangsa Pantai Gading, serta menyingkirkan pendatang dari Mali dan Burkina Faso, yang mayoritas muslim. Alassane Ouattara termasuk tokoh muslim dari utara Pantai Gading yang dianggap bukan penduduk asli, namun berasal dari Burkina Faso. Sayangnya, sebelum pemilu diselenggarakan pada bulan Oktober 2000, Jendral Robert Guei melaklukan kudeta pada bulan Desember 1999. Ketika pemilu presiden diselenggarakan pada Oktober 2000, Laurent Gbagbo terpilih sebagai presiden Pantai Gading, namun dianggap oleh kalangan luas sebagai kemenangan yang penuh tipu daya. Alassane Ouattara memboikot pemilu yang penuh kecurangan tersebut, sedangkan Robert Guei hengkang keluar negeri dan memobilisasi pemberontakan, dan akhirnya terbunuh pada tanggal 19 September 2002.

Alassane Ouattara yang mendapatkan dukungan penduduk bagian utara yang notabene mayoritas Muslim menjadi opposan. Sedangkan Laurent Gbagbo sebagai presiden yang penuh kontroversi mendapat dukungan penduduk bagian selatan yang mayoritas Kristen. Tekanan yang begitu kuat yang melibatkan suku dan agama (Islam dan Kristen), yang menewaskan ribuan penduduk, memaksa Presiden Laurent Gbagbo menyerah dan mengadakan rekonsoliasi dengan pihak oposisi. Akhirnya setelah diadakan perundingan di Paris pada bulan Januari 2003, Laurent Gbagbo bersedia membagi kekuasaan kepada pihak oposisi. Bulan Maret 2003, Seydou Diarra, seorang tokoh muslim, diangkat sebagai Perdana Menteri Pantai Gading.

Sedangkan Alassane Ouattara sendiri yang diragukan kewarganegaraannya, pada bulan Juni 2002 telah diakui penuh sebagai warga Pantai Gading, dan beliau mempersiapkan diri untuk mengikuti pemilu presiden tahun 2005. Sebagaimana diketahui, mayoritas muslim, mengontrol penuh bagian utara Pantai Gading.

Presiden Laurent Gbagbo membuat blunder paling berat dalam sejarah pemerintahannya, yaitu ketika tanggal 6 Nopember 2004 pasukannya melakukan pemboman terhadap kamp militer Perancis yang menewaskan 31 tentara. Perancis membalasnya dengan menembak 2 buah pesawat Sukhoi dan 5 helikopter milik Pantai Gading. Ketegangan pun merebak, baik antara Perancis dan Pantai Gading, maupun sebagian rakyat Pantai Gading yang berkeinginan kuat untuk mengusir warga Perancis di Pantai Gading.

Tentu saja situasi ini tidak menguntungkan Laurent Gbagbo, di satu pihak memimpin pemerintahan yang sangat labil, didera pertikaian antara Kristen dan Muslim yang saling berebut kekuasaan, di lain pihak berhadapan dengan Perancis yang pernah menjajah negaranya.

Perkembangan Islam di Pantai Gading
Islam datang ke Afrika Barat dalam 3 (tiga) gelombang. Pertama pada abad ke-9 ketika bangsa Berber Afrika Utara menyebarkan Islam ke kerajaan Ghana. Kedua pada abad ke-13, ketika kerajaan Mali terbentuk dan menyebarkan Islam ke seluruh Sabana di Afrika Barat sampai dengan abad ke-18. Terakhit pada abad ke-19 ketika seorang pahlawan muslim Mali, yaitu Samore Toure menyebarkan ke arah selatan Afrika.

Islam masuk ke Pantai Gading pada gelombang ke-2, yaitu pada abad ke-13 ketika kerajaan Mali berjaya dan menyebarkan Islam ke seluruh penjuru Afrika Barat. Sedangkan Kristen datang pada abadn ke-17. Mayoritas pemeluk Islam di Pantai Gading beraliran Sunni, dan mengikuti Madzhab Maliki. Aliran sufi juga dianut oleh sebagian komunitas muslim Pantai Gading. Aliran sufi yang dianut adalah Qadiriyah dan Tijaniyah. Syi’ah dan Ahmadiyah dianut oleh sebagian kecil komunitas Islam Pantai Gading.

Sebagaimana dirilis oleh IslamOnline.net, dari 16 juta penduduk Pantai Gading, 60% beragama Islam, 22% Kristen (Katolik) dan 18% animis, bukan 40% Islam, 30% Kristen dan 30% animis sebagaimana dirilis oleh CIA Worldfact. Hal ini sinergi dengan hasil penelitian Library of Congress Country Studies, yang menyatakan bahwa 1 dari 4 penduduk Pantai Gading adalah Muslim, sedangkan Kristen 1 berbanding 8.

Untuk mengaburkan jumlah dan peranserta ummat Islam di Pantai Gading, pemerintahan era Henri Konan Bedie meluncurkan program ‘kemurnian trah Pantai Gading’. Ini berarti, suku pendatang yang menetap di bagian utara Pantai Gading yang berasal dari Mali dan Burkina Faso dan mayoritas muslim tidak mendapatkan tempat yang layak (kelas dua). Hal inilah yang memicu perang antar agama di Pantai Gading, tak beda jauh dengan Nigeria. Dengan alasan ini pula, tokoh muslim Pantai Gading, Alassane Dramane Ouattara hengkang dari jabatan perdana menteri tahun 1993 dan memilih menjadi deputy direkttur jendral IMF. Alassane Outtara dituduh bukan berasal dari ‘trah asli Pantai Gading’, namun berasal dari Burkina Faso.

Ummat Islam memang berjuang keras untuk mewujudkan impiannya memimpin Pantai Gading dalam pemerintahan. Oleh karena itu, Alassane Ouattara sebagai tokoh dan intelektual muslim merasa perlu untuk memperjuangkannya melalui jalur demokrasi yaitu pemilu presiden, walaupun pada tahun 2000 masih terganjal karena masalah ‘kewarganegaraan’. Beliau akhirnya memboikot pemilu. Sebenarnya Alassane Ouattara diganjal bukan karena issu kewarnegaraan, namun karena beliau adalah seorang muslim. Alasan inilah yang memicu perang saudara berkepanjangan di Pantai Gading sejak tahun 2000. Ummat Islam yang berjumlah 60% dan menguasai penuh daerah utara Pantai Gading menolak pemerintahan Laurent Gbagbo. Padahal bapak pendiri Pantai Gading, Felix Houphouet-Boigny membangun negara Pantai Gading dengan penuh toleransi, namun secara sia-sia dihancurkan oleh penerusnya yaitu Henri Konan Bedie dan Laurent Gbagbo.

Islam di Pantai Gading, telah dimuat di majalah Amanah No. 60 TH XVIII Maret 2005 / Muharram – Shaffar 1426 H

Status Anak Angkat Dalam Islam

Maraknya isu pengangkatan anak menyusul tragedi gempa bumi dan tsunami di Nangroe Aceh Darussalam (Aceh) 26 Desember 2004 yang lalu, sempat mengusik banyak pihak, khususnya ummat Islam Indonesia. Aceh adalah Islam, oleh karena itu mendapatkan julukan ‘Serambi Mekah’. Ditengarai sebagai tempat awal mula Islam menyebar di Indonesia, sudah barang tentu, sebagian besar ummat Islam Indonesia ‘tidak rela’, bila anak-anak Aceh kurban gempa tsunami diangkat oleh orang atau lembaga yang tidak bernafaskan Islam.

Ketika WorldHelp, suatu lembaga keagamaan (Evengalis) di Amerika Serikat mengeluarkan statemen, telah membawa sekitar 300 anak keluar dari Aceh dan diserahkan kepada lembaga Kristen di Jakarta, ummat Islam Indonesia bak kena tsunami jilid dua. Serentak, tokoh-tokoh Islam Indonesia geram sekaligus khawatir bila hal itu benar adanya. Oleh karena itu, Susilo Bambang Yudhoyono, selaku Presiden RI, merasa perlu meredam hal tersebut, dan mengharamkan anak-anak Aceh di bawa keluar Aceh.

Pihak gereja, baik yang berasal dari Kristen Protestan (PGI) maupun Katolik (KWI) menolak keras ‘pengkristenan’ berkedok pemberian bantuan di Aceh. Mereka merasa perlu memberikan statemen, karena hubungan baik dengan ummat Islam Indonesia sudah sangat kondusif. Tentang WorldHelp, kedua lembaga Kristen tersebut menyatakan, bahwa mereka sama sekali tidak ada hubungan dengan WorldHelp, baik secara struktural maupun fungsional.

Apakah ummat Islam lega terhadap kasus ini ? Rasanya patut diragukan, karena di lapangan membuktikan, banyak cara yang digunakan oleh oknum agama tertentu untuk tetap berusaha ‘menggembalakan domba-domba sesat’ di Aceh. Seto Mulyadi, tokoh yang sangat memperhatikan nasib anak-anak, mendapatkan laporan tentang anak-anak korban tsunami yang dibawa oleh orang-orang tak dikenal dengan alasan untuk diobati, tanpa memperbolehkan orangtuanya ikutserta. Bisa jadi, setelah sembuh, anak-anak tersebut akan dididik secara ‘tidak Islami’. Suatu ketika, seorang anggota Hizbut Tahrir secara tak sengaja menemukan setumpuk buku-buku misi Kristen di suatu kapal, yang tentunya akan disebarkan kepada masyarakat Aceh (Republika, 2 Pebruari 2005).

Aceh sejak dalam masa penjajahan, sangat sulit untuk dikristenkan. Ketika Snock Horgronye, penasehat agung Kerajaan Belanda ketika mereka menjajah Indonesia, merasa kesulitan dan tak mampu menaklukkan hati warga Aceh. Oleh karena itu, sampai saat ini mereka berusaha keras mengkristenkan mereka, melalui jalan apapun dan waktu kapan pun. Dengan terjadinya gempa tsunami 26 Desember 2004 yang lalu, mereka mempunyai akses yang luas untuk masuk ke Aceh dengan alasan memberikan bantuan, tanpa takut dicurigai, untuk mengkristenkan warga Aceh secara tersamar.

Anak adalah Generasi Penerus
Tak dapat dipungkiri oleh siapapun, bahwa anak adalah generasi penerus, baik bagi orang tua, bangsa maupun agama. Baik buruknya anak, akan menjadi apa mereka, tergantung bagaimana orang tua, bangsa maupun agama mendidik mereka. Dalam Islam, anak diibaratkan kertas putih, suci sejak lahir, dan oleh karenanya mau beragama apa, menjadi apa dan bagaimana masa depannya, tergantung bagaimana cara mewarnai mereka. Dalam hadits riwayat Buchari Muslim dikatakan bahwa ‘anak-anak lahir dalam keadaan suci, ibu bapaknyalah yang menjadikan dia Yahudi, Nasrani atau Majusi’.

Islam juga dinyatakan bahwa anak adalah generasi penerus dan diharapkan menjadi generasi yang saleh, sebagaimana dinyatakan dalam surat Asy-Syuara’ ayat 74 ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami isteri-isteri dan anak-anak kami sebagai penyenang hati, dan jadikanlah kami imam yagi orang-orang-orang yang bertaqwa.’

Mendidik anak adalah tanggungjawab orang tua, hal ini sebagaimana dinyatakan Nabi s.a.w. dalam hadits-haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi, Ibnu Majah dan Muslim. ‘Mendidik anak itu lebih baik dari bersedekah secupak. Tidak ada pemberian seorang bapak yang lebih baik kepada anak kecuali adab yang mulia. Bila seorang meninggal, terputuslah semua amalannya, kecuali tiga perkara, yaitu amal jariyah, ilmu yang bermanfaat dan anak saleh yang berdoa untuknya.’

Peristiwa gempa tsunami di Aceh akan memunculkan anak-anak yatim atau yatim-piatu, Bila mereka secara prinsip telah dianggap sebagai generasi penerus yang saleh dan beradab, maka harus ada yang berkewajiban untuk mendidik mereka, apakah dijadikan anak angkat atau dipelihara sebagai anak negara atau diserahkan kepada lembaga yang mempunyai hak untuk mendidik mereka, seperti Panti Asuhan dan sebagainya. Bila yang mengasuh mereka bukan orang tua kandung, melainkan seseorang atau orang tua angkat, lembaga atau negara, bagaimanakah status anak-anak tersebut ?

Adopsi menurut Hukum Positif Indonesia
Secara legal, adopsi atau pengangkatan anak dikuatkan berdasarkan keputusan Pengadilan Negeri. Adopsi secara legal mempunyai akibat hukum yang luas, antara lain menyangkut perwalian dan pewarisan. Sejak putusan ditetapkan pengadilan, maka orang tua angkat menjadi wali bagi anak angkat, dan sejak saat itu, segala hak dan kewajiban orang tua kandung beralih kepada orang tua angkat. Kecuali bagi anak angkat perempuan yang beragama Islam, bila dia akan menikah, maka yang menjadi wali nikah hanyalah orang tua kandung atau saudara sedarah.

Adopsi juga dapat dilakukan secara illegal, artinya adopsi yang dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan antar pihak orang tua yang mengangkat dengan orang tua kandung anak yag diangkat. Adopsi secara illegal inilah yang disinyalir sebagai celah untuk kasus jual beli anak (trafficking).

Dalam Staatblaat 1917 No. 129, akibat hukum dari pengangkatan anak adalah anak tersebut secara hukum memperoleh nama dari bapak angkat, dijadikan anak yang dilahirkan anak perkawinan orang tua angkat. Akibatnya adalah dengan pengangkatan tersebut, si anak terputus hubungan perdata yang berpangkal pada keturunan karena kelahiran, Oleh karena itu, secara otomatis, hak dan kewajiban seorang anak angkat sama dengan anak kandung harus merawat dan menghormati orang tua, layaknya orang tua kandung, dan anak angkat berhak mendapatkan hak yang sama dengan anak kandung orang tua angkat (Roediono, SH).

Status Anak Angkat dalam Islam
Yusuf Qardhawi, ulama kelahiran Mesir tahun 1926 yang sejak tahun 1961 tinggal Doha Qatar, dalam bukunya Halal dan Haram dalam Islam, menguraikan secara singkat perihal pengangkatan anak menurut Islam.

Pada masa jahiliyah, mengangkat anak telah menjadi ‘trend’ bagi mereka, dan anak angkat bagi mereka tak beda dengan anak kandung, yang dapat mewarisi bila ayah angkat meninggal. Inilah yang diharamkan.dalam Islam.

Prof. Dr. Amir Syarifuddin dalam bukunya ‘Hukum Kewarisan Islam’ menyatakan bahwa Hukum Islam tidak mengenal lembaga anak angkat atau dikenal dengan adopsi dalam arti terlepasnya anak angkat dari kekerabatan orang tua asalnya dan beralih ke dalam keekrabatan orang tua angkatnya. Islam mengakui bahkan menganjurkan mengangkat anak orang lain, dalam arti pemeliharaan.

Allah s.w.t. akhirnya menghapus budaya jahiliyah tersebut dengan menurunkan surat Al-Ahzab ayat 4 dan 5: ‘Allah tidak menjadikan anak-anak angkatmu itu sebagai anak-anakmu sendiri, yang demikian itu adalah omongan-omonganmu dengan mulut-mulutmu, sedang Allah berkata dengan benar dan Dia-lah yang menunjukkan ke jalan yang lurus. Panggillah mereka (anak-anak) itu dengan bapak-bapak mereka, sebab dia itu lebih lurus di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka mereka itu adalah saudaramu seagama dan kawan-kawanmu.’ Dengan turunnya ayat tersebut, maka Islam telah menghapus seluruh pengaruh yang ditimbulkan oleh aturan jahiliyah, misalnya tentang warisan dan dilarangnya kawin dengan bekas isteri anak angkat. Hal ini sesuai dengan firman Allah dalam surat Al-Anfal ayat 75 yang berbunyi: ‘Keluarga sebagian mereka lebih berhak terhadap sebagian menurut Kitabullah,’ dan surat An-Nisa’ ayat 24 yang berbunyi: ‘Dan bekas isteri-isteri anakmu yang berasal dari tulang rusukmu sendiri.’

Secara panjang lebar Allah s.w.t. menjelaskan tentang halalnya mengawini bekas isteri anak angkat, yaitu ketika Rasulullah s.a.w. ragu dan takut bertemu dengan orang banyak ketika akan mengawini Zainab binti Jahsy, karena Zainab adalah mantan isteri Zaid bin Haritsah, atau dikenal dengan Zaid bin Muhammad. Hal ini sebagaimana difirmakan-Nya dalam surat Al-Ahzab ayat 37 – 40.

Pendapat Yusuf Qardhawi tersebut, diamini oleh Ahmad Asy-Syarbashi, sebagaimana dinyatakan beliau dalam bukunya Yas’alunaka, maka haramnya mengangkat anak adalah, apabila nasabnya dinisbatkan kepada diri orang tua yang mengangkatnya. Sedangkan mengangkat anak, apalagi anak yatim, yang tujuannya adalah untuk diasuh dan dididik tanpa menasabkan pada dirinya, maka cara tersebut sangat dipuji oleh Allah s.w.t. Hal ini sebagaimana dikatakan sendiri oleh Rasulullah s.a.w. dalam hadits riwayat Bukhari, Abu Daud dan Turmudzi: ‘Saya akan bersama orang yang menanggung anak yatim, seperti ini, sambil beliau menunjuk jari telunjuk dari jari tengah dan ia renggangkan antara keduanya.’

Laqith atau anak yang dipungut di jalanan, sama dengan anak yatim, namun Yusuf Qardhawi menyatakan, bahwa anak seperti ini lebih patut dinamakan Ibnu Sabil, yang dalam Islam dianjurkan untuk memeliharanya. Asy-Syarbashi mengatakan bahwa para fuqaha menetapkan, biaya hidup untuk anak pungut diambil dari baitul-mal muslimin. Hal ini sebagaimana dikatakan Umar ibn Khattab r.a. ketika ada seorang laki-laki yang memungut anak, ‘pengurusannya berada di tanganmu, sedangkan kewajiban menafkahinya ada pada kami.’

Ummat Islam wajib mendirikan lembaga dan sarana yang menanggung pendidikan dan pengurusan anak yatim. Dalam kitab Ahkam al-Awlad fil Islam disebutkan bahwa Syari’at Islam memuliakan anak pungut dan menghitungnya sebagai anak muslim, kecuali di negara non-muslim. Oleh karena itu, agar mereka sebagai generasi penerus Islam, keberadaan institusi yang mengkhususkan diri mengasuh dan mendidik anak pungut merupakan fardhu kifayah. Karena bila pengasuhan mereka jatuh kepada non-muslim, maka jalan menuju murtadin lebih besar dan ummat Islam yang tidak mempedulikan mereka, sudah pasti akan dimintai pertanggungjawaban Allah s.w.t. Karena anak angkat atau anak pungut tidak dapat saling mewarisi dengan orang tua angkatnya, apabila orang tua angkat tidak mempunyai keluarga, maka yang dapat dilakukan bila ia berkeinginan memberikan harta kepada anak angkat adalah, dapat disalurkan dengan cara hibah ketika dia masih hidup, atau dengan jalan wasiat dalam batas sepertiga pusaka sebelum yang bersangkutan meninggal dunia.

Berkaitan dengan banyaknya anak yatim/yatim piatu di Aceh, maka usaha pemerintah dan lembaga-lembaga Islam untuk mendirikan suatu lembaga yang akan mendidik mereka secara simultan, merupakan amalan yang sangat dipuji, dan sejalan dengan perintah Allah s.w.t. Karena bila mereka jatuh ke pihak-pihak yang tidak bertanggungjawab, baik karena ada niat diperjualbelikan (trafficking) atau dididik tidak sesuai dengan Islam (menjadi murtadin), maka ummat Islam di Indonesia akan mengalami kerugian yang luar biasa.

Status Anak Angkat, telah dimuat di majalah Amanah No. 60 TH XVIII Maret 2005 / Muharram – Shaffar 1426 H

Kasus Ambalat

Hubungan Indonesia dan Malaysia pada akhirnya mengalami titik terendah, setelah dibukanya kembali hubungan diplomatik yang pernah terputus selama 5 tahun pada tahun 1967. Pada tahun 60-an, slogan GANYANG MALAYSIA adalah slogan yang sangat popular bagi bangsa Indonesia ketika itu. Dan slogan ini muncul kembali di seantero Indonesia, ketika Malaysia mendeklarasikan klaim sepihak terhadap Ambalat, berdasar peta yang dibuatnya sendiri pada tahun 1979.

Para politikus maupun para ahli Hukum internasional menyatakan, bahwa Malaysia terlalu ‘percaya diri’ karena telah berhasil ‘mencaplok’ pula Sipadan dan Ligitan. Padahal kasus Ambalat sangat berbeda dengan kasus Sipadan dan Ligitan. Keberadaan Malaysia secara terus menerus mengelola (defacto) Sipadan dan Ligitan serta kemampuan mereka mengamankan ekologi kedua pulau tersebut, menjadi pertimbangan Mahkamah Internasional memberikan kepemilikan kedua pulau tersebut kepada Malaysia.

Terhadap kasus Ambalat, kejadiannya sangat berbeda. Indonesia telah secara terus menerus mengklaim wilayah tersebut sejak zaman penjajah Belanda. Indonesia adalah Negara Kepulauan (archipelagic state) Deklarasi Negara Kepulauan ini telah dimulai ketika diterbitkan Deklarasi Djuanda tahun 1957, lalu diikuti Prp No. 4/1960 tentang Perairan Indonesia. Deklarasi Negara Kepulauan ini juga telah disahkan oleh The United Nations Convention on the Law of the Sea (UNCLOS) tahun 1982 Bagian IV. Isi deklarasi UNCLOS 1982 antara lain ‘di antara pulau-pulau Indonesia tidak ada laut bebas, dan sebagai Negara Kepulauan, Indonesia boleh menarik garis pangkal (baselines) dari titik-titik terluar pulau-pulau terluar. Malaysia bukanlah negara kepulauan, namun sebagai negara pantai biasa yang hanya boleh memakai garis pangkal biasa (normal baselines) atau garis pangkal lurus (straight baselines) jika syarat-syarat tertentu dipenuhi. Oleh karena itu, Malaysia seharusnya tidak menyentuh Ambalat, karena Malaysia hanya bisa menarik baselines dari Negara Bagian Sabah, bukan dari pulau Sipadan dan Ligitan. Jika Malaysia berargumentasi ‘tiap pulau berhak mempunyai laut territorial, zona ekonomi eksklusif dan landas kontinennya sendiri’ , maka menurut UNCLOS pasal 121, hal itu dapat dibenarkan. Namun rezim penetapan batas landas kontinen mempunyai specific rule yang membuktikan keberadaan pulau-pulau yang relatively small, socially and economically insignificant tidak akan dianggap sebagai special circumtation dalam penentuan garis batas landas kontinen. Beberapa yurisprudensi hukum internasional telah membuktikan dipakainya doktrin itu (Melda Kamil Ariadno).

Kasus Ambalat memang merupakan ujian berat bagi Indonesia dalam hubungannya dengan Malaysia, negara serumpun yang selalu ‘berulah’. Kaya dan didukung oleh negara persemakmuran (commonwealth), membuat Malaysia terlalu percaya diri. Kasus TKI illegal, yang menurut ukuran moral Indonesia sangat memalukan, karena Malaysia dinilai sadis, ringan tangan dan tak berperikemanusiaan serta pencurian kayu (illegal logging) oleh cukong-cukong mereka, adalah contoh nyata bahwa Malaysia sebenarnya ‘bukanlah negara jiran yang baik’.

Damai atau Perang
Malaysia mempunyai segala-galanya, uang, diplomasi dan militer yang cukup tangguh. Kapanpun mereka butuh peralatan militer, mereka bisa membelinya secara cash and carry, baik melalui pasaran resmi maupun gelap (ingat: Malaysia senang dengan pemutihan illegal logging). Dari sisi diplomasi, Malaysia telah membuktikan dirinya ‘mampu merebut pulau Sipadan dan Ligitan’ dari tangan Indonesia. Dari sisi militer, Malaysia mempunyai kuantitas dan kualitas di atas rata-rata yang dipunyai Indonesia. Di samping itu, sebagai anggota negara persemakmuran (commonwealth), Malaysia kemungkinan akan mendapat bantuan militer dari para anggota negara persemakmuran, karena di antara mereka ada suatu traktat kerjasama militer, jika terjadi serangan kepada salah satu anggotanya.

Indonesia sudah berulangkali meminta Malaysia untuk merundingkan batas landas kontinen antar kedua negara, namun Malaysia tidak pernah menanggapinya secara serius. Tawaran Indonesia tersebut diajukan karena Malaysia telah membuat peta sepihak yang dibuat tahun 1979, yang jelas-jelas menyalahi hukum internasional. Bisa jadi, diamnya Malaysia adalah menunggu saat yang tepat untuk mengajukan klaim atas Ambalat, setelah pulau Sipadan dan Ligitan ‘direbut’. Sebagaimana dijelaskan dalam awal tulisan ini, UNCLOS sendiri ‘membenarkan’ klaim tersebut, walaupun masih harus dibarengi dengan beberapa persyaratan. Rasa percaya diri yang tinggi atas kemenangan klaim Sipadan dan Ligitan, membuat Malaysia mabuk kepayang, dan terkesan rakus. Perdana Menteri, Wakil Perdana Menteri maupun Menteri Luar Negeri Malaysia mempunyai andil besar dalam ragka pencaplokan Ambalat. Mereka bertiga secara bersama-sama selalu menekankan bahwa mempertahankan kedaulatan territorial Malaysia adalah sangat penting, dan kehadiran Menlu Malaysia ke Jakarta 9-10 Maret 2005 bukan untuk bernegoisasi. Ini artinya mereka tak menghendaki jalan diplomasi (baca: damai).

Sebaliknya Indonesia, dengan bukti-bukti yang sangat kuat tak akan mungkin mundur selangkah pun untuk mempertahankan Ambalat. Prof. Dimyathi Hartono, pakar hukum internasional menyatakan bahwa secara yuridis, Indonesia, kali ini lebih kuat kedudukannya, dibandingkan ketika bersengketa terhadap pulau Sipadan dan Ligitan. Prof. Hasyim Jalal menyatakan bahwa blok Ambalat dan Ambalat Timur yang diklaim Malaysia merupakan kelanjutan alamiah dari daratan Kalimantan Timur. Antara Sabah Malaysia dengan kedua blok tersebut terdapat laut dalam yang tak mungkin bisa dikatakan bahwa kedua blok itu kelanjutan alamiah Sabah. Sedangkan kelanjutan alamiah dari daratan merupakan kewenangan negara atas wilayah laut yang tercantum dalam Konvensi Hukum Laut Internasional tahun 1982. Dengan demikian, Indonesia mempunyai posisi yuridis yang sangat kuat, dan bila Malaysia tetap ngotot, maka jalan tengah yang paling baik adalah ke Mahkamah Internasional Sikap Malaysia yang terkesan arogan, baik mengenai TKI, illegal logging, maupun klaim Ambalat memicu emosi bangsa Indonesia, sehingga sejarah ganyang Malaysia yang terjadi pada tahun 1963, terulang lagi. TNI pun sudah siap untuk mempertahankan kesatuan NKRI. Bila terjadi perang, Malaysia harus berpikir panjang. Indonesia cukup kenyang mengalaminya, yaitu selama 350 tahun, walaupun menurut data, Malaysia mempunyai peralatan perang cukup canggih dengan kuantita yang sangat signifikan. Perang tidak akan dapat diselesaikan dalam waktu singkat, bisa sehari, namun juga bisa berpuluh tahun bahwa ratusan tahun. Dalam hal perang gerilya, hanya ada dua negara di dunia yang ahli dalam bidang itu, yaitu Indonesia dan Vietnam. Namun yang jelas, perang pasti akan merugikan keduanya, baik dari segi materi, psikologi, maupun moral kedua bangsa. Oleh karena itu, baik Malaysia maupun Indonesia harus mengedepankan upaya damai, dan upaya damai bukan berarti mengalah. Damai dalam arti keduanya harus mengerti benar tentang posisi masing-masing, baik dari segi yuridis (hukum internasional) maupun moral Islam.
Adapun hikmah yang dapat dipetik terhadap peristiwa berurutan berkaitan dengan sikap arogansi Malaysia adalah, bahwa bangsa Indonesia telah jatuh ‘marwahnya’ di mata internasional, khususnya di bidang ekonomi dan pertahanan nasional, di samping korupsi yang semakin merajalela. Dengan dasar itu, Malaysia dengan sangat berani menantang Indonesia, apalagi setelah memperoleh kemenangan atas Sipadan dan Ligitan. Oleh karena itu, Indonesia harus segera memprioritaskan, baik jangka pendek, menengah atau panjang memperkuat pertahanan nasional, dengan cara memperbaharui persenjataan TNI. Anggaran pertahanan yang semula sangat kecil, harus segera diperbesar, mengingat luasnya cakupan area yang harus diamankan dan dipertahankan.

Artikel ini telah dimuat di harian PELITA, Rabu, 16 Maret 2005 / 6 Shafar 1426 H.

« Older entries Newer entries »